Semester dua.
"Pagi Mutia."
"Bayu. Kamu datang pagi?"
"Sarapan dulu yuk."
"Enggak taro tas dulu?"
"Masih jam enam lewat dua puluh Mut, kelas juga masih sepi."
Mutia mengangguk.
"Rok baru?"
"Iya nih Bay, Ibu aku kan bisa jahit, iseng-iseng jahitin rok aku."
Breakfast meeting mendadak Bayu terkabul lebih dari yang selama ini ia angankan, duduk berduaan saja dengan Mutia sambil menikmati keluguan Mutia yang alami. Hari ini bagi Bayu permulaan semester dua yang romantis!
***
Vanya menoleh ketika seseorang mencolek telinganya. "Ruben." Ia memukul bahu Ruben lembut. "Apa kabar liburan?"
"Aku balik ke asrama."
Vanya tersenyum. "Maklumlah yah kalau masih kelas satu masih kangenan sama temen-temen lama. Aku juga kumpul sama sahabat-sahabat SMP."
"Semester ini akan ada kejutan apa lagi yah?" Ruben bergumam.
Vanya menoleh. "Kayaknya Mutia dan Bayu pacaran."
Ruben menoleh juga. Mereka saling tatap. "Kayaknya."
Keduanya bertukar senyum.
***
"Semester ini apakah kalian akan bertukar tempat?" Ini pertanyaan Johan untuk Ruben dan Vanya, otomatis keduanya saling bertukar pandang. Keenam sahabat sudah lengkap. "Kalian jangan hanya bertatapan, apa kalian pasangan berikutnya setelah Mutia dan Bayu? Aku melihat pucuk-pucuk asmara dimata kalian."
Pagi ini ceria Tujuh Sahabat menghiasi langit-langit sekolah dengan warna cerah.
"Aku dengar sepak bola mau tanding?" Tanya Anggun sambil menguncir rambutnya. "Apa Roland and the bastards ada juga, Ben?"
"Yah. Kalian ikut yah dukung tim sekolah kita. Soal mereka, mereka kan masih diskors, enggak mungkinlah dateng."
"Pasti" Sahut yang lainnya.
Sejujurnya aku ingin sekali turun lapangan. Melihat Ruben semester kemarin menjadi Maradona sekolah, aku yakin aku bisa menjadi partner yang seimbang untuk tim kesebelasannya membuat harum nama sekolah ini.
"Al."
"Ya Gun."
"Apa yang kau pikirkan?"
"Tidak."
"Selamat Pagi!"
"Pagi Bu."
Anggun, Vanya, Mutia, Johan dan Bayu kembali ke kursi masing-masing. Ini pelajaran Bahasa Indonesia, Ibu Marni. Dia langsung mengambil spidol dan menulis silabus selama satu semester. Pembawaannya membuat murid ikut melakukan apa yang sedang dikerjakannya sekarang.
"Semester ini saya hanya mengadakan dua kali ujian materi pada awal dan akhir musim ulangan, musim ulangan kedua selama dua jam itu saya memberikan ujian praktik tentang pidato dan puisi, selain itu kumpulkan novel yang kalian buat sendiri dengan tema bebas menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan ketentuan di papan tulis. Ada pertanyaan?"
Tidak ada yang mengajukan pertanyaan.
"Kalau begitu anggap saja jelas. Kita lanjut belajar."
Bu Marni terkenal guru kreatif untuk pelajaran bahasa Indonesia, termasuk menegur murid dengan bahasa majas. Ia tidak pernah memberikan nilai merah karena menurutnya tidak ada anak Indonesia yang tidak bisa berbahasa Indonesia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Potret Persahabatan
RomanceVanya. Mutia. Anggun. Bayu. Ruben. Alfa. Johan. Potret persahabatan dengan sejuta cerita yang terekam dalam seribu bingkai ekspresi.
