Akhirnya sampai di penghujung SMA.
Di bangku ini, dijajaran III IPA 2, aku flash back kisah tiga tahun di sekolah ini. Mereka benar, masa SMA adalah masa-masa paling menyenangkan. Aku tidak menyesal memilih sekolah ini. Aku juga menikmati tawa dan air mata yang mendera hatiku. Terima kasih Tuhan!
"Selamat Vanya!"
"Selamat juga untukmu."
Kami menatap sekeliling sekolah. Lapangan. Kelas kami waktu kelas satu. Koridor. Koperasi. Kantin. Pohon tempat kami nongkrong waktu kelas dua. Tangga. Semua akan kami tinggalkan. Kami pasti akan merindukan sekolah ini dan semua kenangan yang terlukis di sini.
"Aku masih betah di sini. Apalagi di koridor itu. Kau sahabat terbaikku."
Aku mengangguk. "Tentu saja. Kau juga sahabat terbaikku sepanjang SMA."
Ruben menarik hidungku. Aku menyikut pinggangnya.
"Seandainya saja aku bisa menelanjangimu dengan pikiranku, pasti akan banyak sekali ucapan terima kasih dengan kata-kata mutiara. Aku memang bukan tipe yang cool, aku terlalu cerewet, tapi aku yakin kau akan merindukan ini."
Ruben mengusap kepalaku. "Aku akan merindukan ini lagi."
"Aku juga."
Kami berdua tertawa.
Aku menatap Ruben. Lama sekali. Seperti mencari kesungguhan dimatanya.
"Aku yakin hari ini akan datang, Vanya. Aku senang melihatmu bahagia."
"Ruben." Aku merangkul Ruben. Lega sekali! Dia benar-benar hebat. Tanpa ungkapan dia sangat bisa membaca hati dan pikiranku. Sekalipun aku merasakan detak jantungnya yang sangat kencang. Pasti sakit sekali didalam sana. Maafkan aku Ruben.
"Kalian masih ingin berdua?"
Sahabat-sahabatku sudah datang.
"Heii bagaimana kalau kita foto bertujuh?" Johan mengedipkan mata.
"Dengan senang hati."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Potret Persahabatan
RomanceVanya. Mutia. Anggun. Bayu. Ruben. Alfa. Johan. Potret persahabatan dengan sejuta cerita yang terekam dalam seribu bingkai ekspresi.
