"Kau lihat apa Al?"
Alfa menggeleng ketika Anggun, Vanya dan Johan menegurnya. "Enggak."
"Kamu sakit Al?"
"Iya aku juga tanya gitu tadi pagi dia cuma bilang salah tidur."
"Kita sih berharap kamu cuma salah tidur, Al." Anggun merangkul Alfa.
Spontan Alfa meringis kesakitan.
"Sakit banget? Luka atau otot sih?" Tanya Anggun kaget. "Maaf ya Al."
"Buka Al." Pinta Vanya tegas.
"Enggak, santai aja. Kaget doang."
"Kamu berantem lagi sama Bapak kamu, Al?"
"Aku enggak mau bahas."
"Al."
"Va. Serius ini urusan keluarga aku."
Vanya mengangguk sambil menatap Alfa heran. "Maaf."
"Bayu sama Mutia pasti bingung cari kita. Ayo!"
Anggun, Vanya dan Johan saling bertatapan.
***
"Bayu, Alfa!"
Bayu, Alfa, Vanya, Mutia, Anggun dan Johan menoleh.
"Kalian baru selesai nonton sparing basket?"
"Iya. Kau OSIS?"
Ruben mengangguk. "Setelah ini mau ke mana?"
Semua saling bertatapan.
"Pulang." Sahut Anggun ketus.
"OK. Aku bisa jalan pulang bareng sama kalian kan?"
Anggun menatap protes, ia satu lengkah di depan bersama Mutia dan Vanya.
"Mereka memusuhiku."
"Namanya juga cewek." Hibur Bayu.
"Kak Ruben!" Diaz yang berpapasan dengan Anggun tidak sama sekali melihat Anggun. "Aku nungguin Kakak dari tadi. Urusan kita belum selesai."
"Aku harus berapa kali bilang.."
"OK!! Karena mereka? Aku ngalah Kak. Aku ngalah." Diaz menatap benci pada Anggun kemudian meninggalkan Ruben.
Tatapan sinis didapat Ruben dari Anggun dan Mutia.
"Aku mau bicara sama kalian."
"Jangan paksa kami terima hubungan kalian, Ben. Mimpi!" Kali ini Anggun meninggalkan Ruben. Pastinya disusul Vanya dan Mutia yang sudah langsung naik mobil Vanya. Bayu, Alfa, Ruben dan Johan tetap di sekolah.
"Kacau."
"Kita akan kasih pengertian, Ben." Bayu menjelaskan.
"Aku sepertinya enggak bisa lama-lama. Duluan yah."
"Kau mau aku antar Al?"
"Aku bisa sendiri Jo. Thanks." Alfa pulang.
"Aku khawatir sama Alfa, sepertinya dia punya masalah. Daritadi dia meringis kesakitan alasannya salah tidur tapi aku rasa lebih pariah dari sekedar salah tidur."
Bayu dan Ruben mengkerutkan dahi.
"Apalagi ini?!" Bayu bergumam.
"Kasihtahu aku kalau ada apa-apa. Masih bisa kan?" Tanya Ruben minder.
Bayu tersenyum. "Kita bukan siapa-siapa. Itu pasti!"
***
"Kak Ruben!" Teriak Diaz ketika melihat Ruben.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku tahu kau akan pulang lewat sini. Aku menunggumu."
"Kenapa kau enggak langsung pulang saja?"
"Aku heran samamu."
"Aku lagi pingin sendiri." Ruben menghentikan angkotnya. Kemudian ia meninggalkan Diaz sendiri. Ia tahu Diaz sangat marah.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Potret Persahabatan
RomanceVanya. Mutia. Anggun. Bayu. Ruben. Alfa. Johan. Potret persahabatan dengan sejuta cerita yang terekam dalam seribu bingkai ekspresi.
