Diterima di sekolah ini adalah cita-cita orang tuaku karena mereka lulusan SMA ini. Aku sebenarnya memilih untuk sekolah teknik atau STM, tetapi karena takdir yang dipaksakan orang tuaku aku terdampar di SMA. Alasan inilah aku memutar stang untuk masa depanku, bukan seorang teknisi melainkan seorang pengacara.
Jujur aku tidak punya pandangan bagaimana itu SMA, aku hanya dengar dari banyak orang bilang kalau SMA masa paling menyenangkan. Setidaknya aku percaya jargon ini dan minimal terhibur karena SMA memiliki perempuan. Aku dulu SMP di sekolah yang khusus laki-laki, justru itu yang membuat aku sedikitnya menerima keterpaksaan ini, menyalurkan hasrat kemachoanku untuk romantis sama kaum hawa. Semoga SMA bukan takdir buruk!
"Kau serius belajar MIPA. Kau harus jadi insinyur sebagai ganti STM."
Aku rasanya ingin ikut merokok di samping Bapak kemudian duduk tenang menikmati secangkir kopi dan sepuntung dua puntung rokok, bicara secara laki-laki dewasa. Dan aku melakukannya. Tetapi tidak berani mengambil rokok Bapak, bisa-bisa aku diusir sebelum makan siang.
"Aku mau jadi pengacara saja, Pak. Jadi aku pastinya serius belajar Tata Negara dan Sejarah. Tolong hargai keputusan aku ini Pak. Atau begini saja anggap omonganku ini angin lalu, tetapi ketika aku tujuh belas tahun nanti aku akan mengulang kalimat ini lagi secara laki-laki dewasa. Aku tidak mau didikte lagi."
Aku serius, tetapi tidak dengan Bapak. Dia menganggapku anak kemarin sore yang sok belagu. Aku tidak peduli, aku melenggak santai masuk ke rumah.
"Buka sepatumu di luar rumah. Baru kau menata masa depanmu."
"Aku sengaja." Aku teriak. Nafasku terhela berat. "Ibu mau membela Bapak?"
"Kau anak laki satu-satunya Al, tolong jadi kebanggaan kami."
"Kalau kalian membentukku semau kalian, bagaimana aku bisa berdiri di kakiku sendiri? Karena aku terus-terusan berdiri di kaki kalian." Aku tidak jadi makan. Laparku hilang. Ibu selalu menjadi penegas Bapak, seharusnya dia di tengah sekalipun tidak dipihakku. Aku mengunci diri di kamar sambil main gitar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Potret Persahabatan
RomantizmVanya. Mutia. Anggun. Bayu. Ruben. Alfa. Johan. Potret persahabatan dengan sejuta cerita yang terekam dalam seribu bingkai ekspresi.
