"Aku salah."

1.1K 54 0
                                        

"Al."

"Ruben? Tumben."

"Vanya."

"Untuk apa masih bahas Vanya lagi?"

"Aku salah."

Alfa menarik nafas. "Apa yang bikin kamu berpikir kilat pacaran sama Diaz?

"Igo. Kau dengar sendiri dari Mutia kan bagaimana sikap Igo pas Vanya pingsan? Aku juga lihat mereka di kelas tiga pas acara tribute. Apa menurutmu?"

Alfa tidak bisa bicara apapun, dia sudah janji. "Jadi kau menyesal?"

"Pacaran sama Diaz maksudmu?"

Alfa mengangkat bahu. "Siapa sebenarnya yang ada dihatimu?"

Ruben hanya diam.

"Kau merenung dulu."

"Kau bisa jaga dia Al?"

"Karena kau tidak bisa mengerem eksistensimu dengan Diaz?"

Ruben mengeratkan gerahamnya. "Anggun dan Mutia menjauhiku."

"Mereka perempuan Ben."

"Aku tahu. Tetapi karena ini persahabatan kita jadi berantakan? Apa aku salah?"

"Cerita kalian kemarin sangat kental dengan cinta, tiba-tiba awal tahun ajaran baru kau pacaran sama anak kelas satu. Ini sebuah sejarah yang menyakitkan."

"Bukankah sudah aku jelaskan kalau..?"

Alfa menahan Ruben meneruskan kalimatnya. "Tilik hati, bukan pembelaan."

Dua sahabat ini sekarang berdiri di pojok kelas Alfa dalam diam.

Ruben melirik jam dinding kelas Ruben. "Aku harus kembali ke kelas. Thanks Al!"

Alfa tersenyum. "Sukses ujiannya, Bro!"

Ruben tersenyum mengangguk. Va, maafin aku. Aku salah. Maafin aku Va.

"Kak Ruben!!" Teriak Diaz dramatis.

Dari jauh Ruben sudah melihat Vanya yang sedang jalan menuju koperasi. Ruben menarik nafas, menenangkan pikirannya dan berusaha memperlambat langkahnya supaya Vanya tidak melihat pemandangan yang akan menghancurkan hatinya.

"Kak!" Diaz menghampiri Ruben dan mereka berdiri di tempat biasa dulu ketika Ruben memberikan permen kojek pada Vanya.

Hati Ruben tidak tega melakukan ini. Ia bisa merasakan sakit perempuan yang sungguh-sungguh ia cintai itu, karena hatinya pun sakit. Berkali-kali Ruben menarik nafas panjang dan menghembuskan itu kuat. Ia sendiri gemetar. Semakin Vanya mendekat, ia semakin sakit.

Vanya menelusuri lorong menuju kantin. Semua memori kebersamaan berputar dan rasanya sangat sesak. Lebih menyedihkan ketika di koperasi tempat biasa Ruben mentraktir Vanya dulu, mereka sedang berdiri di sana sekarang. Vanya harus melewati mereka sendiri. Sendiri.

Aku menarik nafas, menenangkan pikiranku dan berusaha tidak ada apa-apa. Aku benci suasana ini. Aku melewati mereka, yah aku berlalu kaku. Aku merasa Ruben memperhatikanku, juga pacarnya! Aku bergetar. Hatiku nyeri sekali seperti disayat sembilu. Aku benar-benar menyedihkan!

Mata Vanya berkaca-kaca ketika akhirnya melewati Ruben dan Diaz. Ia benar-benar tidak kuat untuk kembali ke kelas melihat mereka lagi. Saat itu juga ia duduk lemas di koperasi, menunggu bel sampai mereka masuk kelas. Ini lebih lemas dari ancaman Roland sekalipun!

Aku melakukan kebodohan ini. Aku kalah? Terserah yang penting Ruben tidak melihat air mataku. Sakit!

"Va."

"Al?"

"Aku anter kamu ke kelas."

Tetesan air mata itu pun jatuh.

***

Potret PersahabatanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang