"Apa yang kau lakukan di depan rumahku hujan-hujan?"
"Aku tidak puas. Aku kesal karena kau memilih mereka dari aku pacarmu."
"Apa kau tidak paham juga kalau kita sudah putus?"
"Aku mengaku salah Kak. Apapun yang ada dipikiranmu tentang aku dan sudah menjauhkan kau dari sahabat-sahabatmu, aku mengalah. Apapun itu aku mengaku salah demi kita. Demi hubungan kita. Aku sayang samamu. Enggak begini caranya."
"Pulang Diaz. Aku tidak ingin punya urusan samamu."
"Aku enggak akan pulang sampai kau mau maafkan aku dan kita baikan lagi."
"Aku tidak peduli."
"Oke. Aku akan tetap di sini."
"Silahkan."
Ruben membuka gerbang dan membiarkan Diaz hujan-hujanan.
Vanya. Vanya. Vanya.
Ruben tidak habis pikir dengan kejadian hari ini. Vanya ikhlas. Tetapi ia terluka. Dan saat ini ia semakin yakin dengan perasaannya kalau Diaz memang kosong dihatinya. Ruben menyembunyikan diri di kamarnya. Merenung setiap centi ruangannya bersama Vanya. Ia menuju atap dan mengenang kebersamaannya dengan Vanya di sana. Segelas teh manis panas menemaninya.
Jangan kau pikir aku benar-benar mengejar Diaz, Va. Aku justru di sini mengenangmu, aku masih ingin menjadi kenanganmu tentang hujan.
Hujan semakin kencang, angin mengibaskan korden yang tertiup kencang. Ketika Ruben ingin menutup kembali kordennya, ia melihat Diaz masih bersih keras berdiri di sana. Lemah lunglai dengan cintanya yang teguh.
"Keras kepala!" Ruben menyibak korden lalu turun.
"Kak Ruben." Suara lemah itu tidak terdengar.
"Masuk." Ruben memayungi Diaz. Kemudian memberinya handuk. "Kau keringkan tubuhmu, kau salin dengan ini di kamar mandi." Ruben menunggu di luar. Ia enggan masuk sampai Diaz benar-benar selesai dan hujan reda.
"Kak. Sudah."
"Kau makan apa saja yang ada di meja. Setelah itu cuci sendiri piringnya."
Diaz menahan air matanya. "Aku memilih tidak makan daripada kau bersikap dingin seperti ini. Terima kasih kau sudah menolongku, setidaknya kau sedikit masih berbaik hati."
"Segitu hujan berhenti kau bisa langsung pulang. Aku tidak mau tetangga menggunjingkan keluargaku. Cukup di sekolah saja."
"Jadi kau benar-benar risih?"
"Berhenti mempertanyakan hal-hal bodoh Diaz! Aku muak!"
"Kalau kau memang menyesal berhubungan samaku, kau seharusnya bersikap lebih baik dari sekarang. Kau membuatku terpojok. Kau hancurkan aku dengan sikapmu. Aku masih tidak habis pikir kenapa tiba-tiba hubungan kita kacau."
"Aku tidak ingin mendengar apapun darimu."
"Oke asal kau tahu. Vanya pernah menekanku di sekolah untuk tidak kecentilan karena aku pacaran samamu. Anggun dan Mutia juga ikut melabrakku. Mereka melakukan itu ketika aku menunggumu OSIS. Mereka tekan aku berkali-kali. Aku tidak bisa apa-apa. Katanya aku sudah merusak persahabatan kalian dan hubunganmu yang dulu mesra dengan Vanya. Sejak itu aku tahu alasan kau dijauhi sahabat-sahabatmu."
"Aku tidak percaya. Aku kenal sahabat-sahabatku."
"Mereka bahkan hack semua sosial mediaku. Mereka hancurkan citraku."
"Aku tidak percaya Diaz!"
"Terserah kalau kau tidak percaya. Aku hanya jujur. Selama ini aku diam karena aku menghargai persahabatan kalian. Sekarang saat aku menjadi korban persahabatan kalian, aku berjuang sendiri menyelamatkan hubungan kita. Apa kau rela Kak?"
"Semakin kau menyalahkan sahabat-sahabatku, kau semakin buruk dimataku."
"Aku hanya bicara fakta."
"Kau pulang sekarang."
"Hujan? Kau tega?"
"Pulang!"
Diaz menangis. "Kau benar-benar melukaiku Kak! Kau tega samaku."
"Aku tegaskan sekali lagi Diaz. Kita putus."
"Kak Ruben maafkan aku." Diaz menangis sesenggukan. "Aku akan melakukan apapun demi kita, apapun Kak. Aku minta maaf, aku enggak bisa jauh darimu."
"Pulang Diaz." Ruben tidak peduli lagi ia basah. Ia membuka gerbang mempersilahkan Diaz angkat kaki dari rumahnya. Ada siratan benci ditatapannya.
"Kak Ruben. Aku akan bunuh diri kalau kau memutuskan aku."
"Silahkan."
Seketika itu juga Diaz menjepit jarinya di pagar dan melengking kesakitan.
"Kau gila Diaz!!" Ruben langsung menarik Diaz dari pagar.
Maafkan aku semuanya. Aku hanya membuktikan apa yang aku ragukan. Ini yang terakhir kalinya aku rela kalian berpikir buruk samaku. Aku hanya ingin sebuah pembuktian keras. Maafkan aku kalau cara ini salah.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Potret Persahabatan
RomansaVanya. Mutia. Anggun. Bayu. Ruben. Alfa. Johan. Potret persahabatan dengan sejuta cerita yang terekam dalam seribu bingkai ekspresi.
