“Sstt! Kamu jangan heboh gitu, dong! Aku gak ngapa-ngapain, cuma berusaha menghangatkan saja,” jelas Bian. Namun kemudian ia sadar ada yang salah dari kata-katanya.
Ira terbelalak saat mendengar kata ‘menghangatkan’. “Apa kamu bilang?” tanyanya dengan nada tinggi.
“Eh, tenang dulu! Maksud aku itu semalam kita hampir mati kedinginan. Jadi harus berpelukan supaya tetap hangat. Tapi selebihnya tidak ada hal lain yang aku lakukan. Percayalah!” ucap Bian, gugup.
Memang kondisi seperti itu cukup sulit dijelaskan. Apalagi mereka sama-sama gadis dan perjaka. Sehingga sangat aneh ketika tidur dalam posisi berpelukan.
“Apa tidak ada cara lain?” tanya Ira, kesal. Ia merasa Bian telah mengambil kesempatan dalam kesempitan.
“Seandainya ada, aku pasti sudah mengambil cara itu,” jawab Bian.
“Terus itu apa?” tanya Ira sambil menoleh ke arah sisa bara api dan kayu bakar yang ada di dekat mereka. Bahkan asapnya pun masih mengepul.
Bian terbelalak melihat benda itu. Ia sendiri tidak tahu mengapa ada bekas api unggun di sana.
“Aku tidak tahu. Semalam sebelum tidur, api itu belum ada. Kamu kan tahu sendiri kita tidak membawa apa pun,” jelas Bian, kikuk.
“Bohong!” tuduh Ira. Ia masih tidak terima karena Bian telah memeluknya dalam posisi tidur.
“Eh, Komandan dan dokter Ira sudah bangun?” tanya anak buah Bian yang baru saja muncul.
Bian dan Ira yang sejak tadi tidak sadar belum mengubah posisinya pun langsung duduk. Mereka berdua salah tingkah karena posisinya yang sedang rebahan dan saling berhadapan itu bisa membuat orang lain salah paham.
“Kamu jangan mikir macam-macam!” bentak Bian saat melihat anak buahnya tersenyum.
“Tidak apa-apa, Ndan! Kami sudah dewasa, jadi Komandan tidak perlu malu,” jawab anak buah Bian.
Tadi mereka menunggu di kejauhan. Sehingga tidak mendengar apa yang Ira dan Bian perdebatkan. Mereka mendekat karena mendengar suara mereka meski tidak jelas.
“Apaan, sih? Emangnya kamu pikir kami ini ngapain?” tanya Ira, kesal.
“Ini kami sudah membuatkan teh hangat. Silakan diminum, untuk mengembalikan stamina,” ucap anak buah Bian. Ia seolah tidak mau tahu apa pun penjelasan mereka.
Ira pun jadi salah tingkah. “Emangnya aku abis ngapain sampai harus mengembalikan stamina?” tanya Ira, kesal.
“Dokter kan pasti kelelahan,” ucap anak buah Bian.
“Kamu jangan mikir kotor, ya!” bentak Ira.
Bian tersenyum melihat reaksi panik Ira. Ia pun jadi ingin menggodanya. “Ya, kamu benar, aku memang kelelahan. Tenagaku hampir habis semalam,” ucap Bian.
Sontak Ira langsung memelototi Bian. “Kamu!”
“Apa? Emangnya kamu gak lelah? Hebat ya, sepertinya tenaga kamu tidak ada habisnya,” ledek Bian.
“Bian!” bentak Ira lagi.
“Kemari hampir seharian aku gendong kamu. Jadi tenagaku hampir habis. Oh iya, kamu digendong, makanya gak lelah, ya?” bisik Bian.
Wajah Ira pun langsung bersemu merah. Ia malu karena telah memikirkan yang tidak-tidak.
Melihat Ira malu setelah dibisikki oleh Bian, membuat anak buah Bian semakin berpikiran yang tidak-tidak.
“Sorry,” lirih Ira.
“Ya udah diminum dulu! Semalam kamu hampir hipotermia. Untung aku meluk kamu,” ucap Bian.
Set!
Mata Ira langsung memicing tajam ke arah Bian.
“Kapan kalian datang?” tanya Bian, ia tak ingin berdebat dengan Ira lagi.
“Maaf, Ndan. Semalam hujan deras, jadi kami baru bisa merapat ke sini dini hari tadi,” jawab anak buah Bian.
“Kalian terlihat sangat kelelahan, jadi kami tidak tega untuk membangunkannya,” lanjutnya.
“Oke terima kasih, saya memang sangat lelah,” jawab Bian.
Ira langsung menyikut perut komandan itu. Ia kesal karena sejak tadi Bian selalu mengatakan kalimat yang bisa membuat orang lain salah paham.
“Kalau begitu kami tunggu di luar. Jika kalian sudah siap, baru kita lanjutkan perjalanan,” ucap anak buah Bian.
“Oke,” sahut Bian.
Setelah anak buah Bian pergi, ia menoleh ke arah Ira sambil tersenyum. “Hem ... emang semalam kamu gak kelelahan?” godanya.
“Biaaan! Udah deh. Jangan bikin orang berpikiran kotor!” ucap Ira sambil menggeretakkan giginya.
“Hehehe, sebenarnya yang berpikiran kotor itu siapa? Itu sih kamu aja yang dari bangun tidur udah mikir macem-macem. Atau jangan-jangan kamu emang berharap terjadi sesuatu, ya?” ledek Bian.
“Kamuuuu!” Bola mata Ira hampir melompat. Saking kesalnya pada Bian.
“Hehehe, bercanda. Tapi aku minta maaf karena semalam sudah lancang memeluk kamu. Jujur, bukan cuma kamu, semalam aku pun kedinginan. Tidak ada cara lain untuk bertahan selain berbagi kehangatan tubuh,” jelas Bian.
“Bisa gak sih kalimatnya jangan kayak gitu? Gak enak banget didengernya. Oke aku percaya dan sudah cukup jelas. Jadi gak perlu dijelaskan lagi! Semakin kamu berusaha menjelaskan, aku bisa semakin salah paham,” ucap Ira, kesal.
“Makanya pikirannya jangan kotor!” ucap Bian sambil mengusap kepala Ira. Sebenarnya ia sedang pura-pura menyapu pikiran Ira yang kotor. Namun, hal itu malah membuat mereka sama-sama salah tingkah.
“Euh, udah beres, kan? Pulang sekarang, yuk!” ajak Bian.
“Ayo!” sahut Ira.
Mereka sama-sama salah tingkah saat keluar dari gubuk. Apalagi begitu banyak pasang mata anak buah Bian yang menatap mereka.
“Kalian lihat apa?” sentak Bian. Ia merasa seperti jadi tersangka yang sedang tertangkap basah.
“Siap! Kami tidak melihat apa pun, Ndan!” sahut mereka, tegas.
“Kita pulang sekrang!” ajak Bian.
Mereka pun berjalan pulang.
Meski Bian dan Ira sudah berusaha menjelaskan. Namun mereka tetap senyum-senyum jika mengingat apa yang mereka temukan saat tiba di sana.
Mereka tiba ketika fajar. Saat melihat ada gubuk, mereka pun masuk secara perlahan sambil membawa senter.
Mereka semua ternganga kala melihat Bian dan Ira berpelukan. Apalagi kala itu wajah Ira sedang menghadap ke Bian. Sehingga mereka seolah sedang bercumbu.
“Apa yang lain sudah kembali ke markas?” tanya Bian.
Suara komandan itu membuat mereka yang sedang mengkhayal pun terkesiap. “Siap! Sudah, Komandan,” jawab mereka.
“Syukurlah. Lalu bagaimana dengan penjahatnya. Apa sudah ditangkap?” tanya Bian lagi.
“Sayangnya mereka berhasil melarikan diri. Jadi kita tetap harus waspada,” jawab anak buah Bian lagi.
“Ck! Sial!” maki Bian. Ia jadi khawatir akan keselamatan Ira. Apalagi setiap malam Ira tidur di rumah dinasnya sendirian.
“Begini saja, mulai malam ini harus ada yang berjaga di rumah dokter Ira!” usul Bian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Komandan Tampanku
RomanceIra yang merupakan seorang dokter dijodohkan dengan Bian yang merupakan komandan angkatan darat. Namun pertemuan pertama mereka kurang baik, sehingga Ira dan Bian saling membenci satu sama lain. Ira sengaja dikirim ke perbatasan oleh papahnya agar b...
