“Ya iya, masa rame-rame?” sahut Ira. Ia tahu Bian akan cemburu, tetapi Ira tidak mungkin bohong.
Bian langsung menatap Ira dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Semalam kamu udah datang ke rumah. Udah kenal sama keluargaku dan mereka semua merestui kita. Jadi aku harap kamu gak perlu merasa khawatir lagi,” jelas Ira. Ia tahu apa yang sedang Bian pikirkan.
“Oke. Aku percaya sama kamu,” jawab Bian, dengan berat hati.
“Nah! Gitu, dong!” ucap Ira. Kemudian ia mengusap kepala Bian.
Bian ternganga. “Aku kok berasa jadi kayak anak kecil, ya?” tanyanya.
Ira tersenyum. “Iya, kamu kan bayi kecil aku,” sahutnya sambil tersenyum.
Seketika Bian tersenyum nakal. “Kalau bayi kecil berarti boleh mimik cucu, dong?” tanyanya, genit.
Plak!
Ira refleks memukul lengan Bian. “Kamu jangan ngelunjak ya, By!” ucapnya, kesal. Mendengar ucapan Bian barusan membuat Ira malu.
“Kok ngelunjak? Emang apa salahnya mimik cucu? Di supermarket juga banyak susu, kan?” sahut Bian sambil menyipitkan matanya. “Emang kamu mikir apa, hem?” godanya.
Ira langsung gelagapan. “Enggak, udah ah aku mau kerja. Kebanyakan ngobrol sama kamu, nanti malah lupa kerja,” ucap Ira. Ia pun langsung berdiri dan hendak melarikan diri.
Bian langsung memegang tangan Ira. “Tunggu!” ucapnya.
“Apa lagi?” tanya Ira, kesal.
“Aku mau pergi jauh. Kita baru ketemu dua bulan lagi. Masa gini aja perpisahannya?” tanya Bian, memelas.
Ira baru ingat bahwa kekasihnya itu hendak pergi. “Iya, terus harus gimana?” tanya Ira, salah tingkah.
“Peluk, kek. Cium, gitu,” jawab Bian, nakal.
“By! Ini kan tempat umum,” keluh Ira.
“Ya udah, kalau peluk boleh, gak? Aku bakalan kangen banget sama kamu, Sayang,” pinta Bian.
“Tapi kalau ada yang lihat gimana? Aku malu,” ucap Ira. Sebenarnya ia pun ingin memeluk Bian.
Bian mengulurkan tangannya. Kemudian ia memberikan tangannya pada Bian. Pria itu pun meraih tangan kekasihnya dan mengecupnya dalam waktu yang cukup lama.
“Aku harap kamu gak lupain kecupan ini,” ucap Bian, setelah melepaskan bibirnya. Kemudian ia menatap Ira dan menempelkan dua jari di bibirnya. Lalu komandan itu menempelkan jari tadi di bibir Ira.
“I love you,” ucap Bian.
Ira tersenyum. “Kamu nih emang banyak banget akalnya,” ucap Ira, gemas.
“Kalau gak gitu, aku gak akan jadi komandan angkatan darat,” jawab Bian, bangga.
“Iya deh, iya ...,” ucap Ira.
“Ya udah, aku pergi, ya. Nanti aku kabarin kalau udah sampe sana,” ucap Bian, berpamitan pada Ira. Tetapi tangannya masih menggenggam sebelah tangan Ira.
“Iya, hati-hati!” sahut Ira.
Bian melepaskan tangan Ira secara perlahan. Ia sangat berat jika harus berpisah dengan kekasihnya begitu saja.
“Jangan nakal!” ucap Bian.
“Kamu juga!” sahut Ira.
Perlahan, genggaman tangan mereka terlepas. Bian pun melangkah semakin menjauh. Hingga akhirnya Ira balik badan saat sudah tidak melihat Bian lagi.
Namun, tiba-tiba Bian berlari ke arah Ira dan memeluknya dari belakang.
Greb!
Ira sangat terkejut dibuatnya. Matanya terbelalak dan hendak protes.
“Sebentar aja! Aku mohon,” bisik Bian. Kemudian ia menghirup aroma rambut Ira untuk mengenangnya.
Muach!
Bian mengecup kepala Ira. Sontak saja Ira langsung menoleh. “Bian!” Ira protes.
Namun, bukannya menyesal, Bian malah mengecup bibir Ira, setelah itu ia langsung kabur.
“Makasih, Sayang. Love you,” ucap Bian sambil berlari.
Ira yang hendak marah pun malah jadi terkekeh. Ia merasa gemas akan tingkah calon suaminya itu. “Dasar bocah nakal,” gumam Ira, sambil geleng-geleng kepala.
“Jangan terlalu seneng dulu!” celetuk Zein yang tiba-tiba muncul.
“Ck! Apaan sih, Bang? Ngerusak suasana aja,” ucap Ira, kesal.
“Kamu tuh gak malu apa kayak gitu di tempat umum begini? Lagian kalian bukan mahrom. Kamu ngerti gak, sih?” tegur Zein.
“Emang Abang dulu gak pernah nyentuh Mbak Intan waktu belum nikah?” skak Ira.
“Kamu!” Zein tercekat. Sebab dirinya pun tidak beda jauh dengan Bian. Zein pernah mencumbu Intan saat mereka belum menikah.
Sebagai kakak, Zein merasa gagal memberi contoh pada adiknya. Seandainya dulu dia tidak melakukan hal itu, pasti Zein akan leluasa menasihati adiknya.
“Nah, diem kan?”
“Ra! Kamu tuh perempuan. Harus bisa jaga diri! Abang begini karena peduli sama kamu. Gak mau kamu disakitin sama cowok,” ucap Zein.
“Iya aku paham, Bang. Aku juga sebenernya gak mau kayak gitu. Tapi namanya mau pisah dalam waktu yang lama, aku pasti kangen sama dia, lah. Cuma peluk doang juga. Lagian abis ini gak akan ketemu lagi,” keluh Ira.
“Terus tadi apaan itu cium bibir segala, hah?”
Pletak!
Zein menjitak kening Ira.
“Khilaf, Bang,” gumam Ira, sambil cemberut.
“Khilaf-khilaf! Jangan berlindung di balik kata khilaf. Apa pun alasannya, tidak dibenarkan bersentuhan dengan bukan mahrom. Pokoknya kalau nanti ketemu lagi, kamu harus bisa jaga jarak. Paham!” ucap Zein, tegas.
“Tenang aja, Bang! Ketemu lagi langsung nikah,” sahut Ira, yakin.
Zein menyeringai. “Yakin sekali, kamu? Kamu tau kenapa aku gak suka sama tentara?” tanya Zein.
“Kenapa?”
“Karena sebagian besar tentara itu hidung belang. Lagian apa sih bagusnya dia? Kayak gak ada lelaki lain aja,” cibir Zein.
“Bang! Kalau ngomong tuh hati-hati! Gak semua tentara begitu. Jangan karena Abang cemburu sama Bian, terus Abang jadi benci sama semua tentara!” skak Ira.
Zein terkesiap. “Maksudnya apa?” tanyanya, heran.
“Emang abang pikir aku gak tau? Aku tau dulu itu Bian pernah suka sama Mbak Intan, kan. Tapi dia kalah cepet sama Abang,” ucap Ira.
Zein mengerutkan keningnya. “Kamu tau?”
“Iyalah.”
“Terus kenapa kamu masih mau sama dia?” Zein tidak habis pikir mengapa Ira masih mau dengan lelaki yang pernah menyukai istrinya.
“Masalahnya di mana? Dia pernah suka sama Mbak intan kan dulu, kalau sekarang dia udah move on sama aku. Jadi gak ada hubungannya lagi sama Mbak Intan. Lagian mereka juga gak pernah berhubungan, kok,” jelas Ira, yakin.
Sebelumnya Ira sudah pernah mengorek informasi tentang hal itu dari anak buah Bian dan suster di perbatasan. Sehingga Ira yakin untuk melanjutkan hubungannya dengan Bian.
“Bagaimana kamu bisa yakin? Apa kamu gak takut kalau ternyata itu cuma modus dia buat deketin Intan lagi?” tanya Zein.
Ira terkekeh. “Hahaha, helooowww! Mbak Intan udah nikah. Dia juga udah hamil. Ya kali si Bian buta masih mau ngejar istri orang. Cinta boleh, tapi bodoh jangan!” cibir Ira. Ia sangat kesal pada kakaknya yang keterlaluan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Komandan Tampanku
RomanceIra yang merupakan seorang dokter dijodohkan dengan Bian yang merupakan komandan angkatan darat. Namun pertemuan pertama mereka kurang baik, sehingga Ira dan Bian saling membenci satu sama lain. Ira sengaja dikirim ke perbatasan oleh papahnya agar b...
