34. Begitu Berat

11.7K 952 30
                                        

Bian langsung tersenyum simetris. Ia merasa bangga karena Ira cemburu padanya.

“Kamu cemburu?” godanya.

“Gak! Aku cuma ngingetin kamu, kok,” jawab Ira, ketus.

“Ah ... bilang aja kalau cemburu,” ledek Bian.

“Apa, sih. Ngapain aku cemburu? Kalau kamu macem-macem, aku bisa kok ngelakuin hal yang sama. Kan kamu sendiri yang bilang, peluangku lebih besar,” ujar Ira.

“Lho, kamu kok gitu, sih? Jangan, dong! Kita kan mau nikah. Gak usah aneh-aneh,” keluh Bian. Ia khawatir Ira benar-benar melakukan hal itu.

“Ya gampang aja. Kamu gak usah takut kalau kamu gak ada niat macem-macem. Kan aku begitu cuma kalau kamu nakal,” sahut Ira.

Bian tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Ia hampir salah paham karena ucapan Ira barusan. Mendengar Ira akan nakal membuat pikiran Bian jadi buntu.

“Kamu, nih!” ucapnya, gemas. Ia mencubit hidung Ira, kemudian memeluknya.

“Duh, jangan cubit-cubit! Nanti hidung aku lepas,” ucap Ira.

“Emangnya palsu,” ledek Bian.

“Iya. Kamu gak tau aja semua yang ada di muka aku tuh palsu,” canda Ira.

“Oya? Mana sini coba aku cek!” sahut Bian. Ia menangkup wajah Ira kemudian mengecupi semua bagian.

Cup!

Bian mengecup kening Ira. “Emm, ini asli,” ucapnya.

Kemudian ia mengecup bagian lain. Seperti pipi, hidung, dagu dan bibir.

“Asli semua,” ucapnya sambil tersenyum.

“Dasar! Kamu mah nyari kesempetan!” ucap Ira, sebal.

“Lho, kan aku cuma mau ngecek. Apa kurang ya kalau cuma disun? Apa perlu aku gigit?” canda Bian.

“Enak aja! Ya udah aku pergi dulu, ya. Kasihan itu pilotnya nunggu kelamaan,” ucap Ira.

Bian melirik ke arah pilot. “Aku kok gak tenang ya biarin kamu pergi sama mereka,” gumam Bian.

Ia khawatir melepas Ira pergi bersama dengan dua orang lelaki.

“Ya mau gimana lagi? Gak ada pilihan lain, kan,” sahut Ira.

“Ada, kok. Ya udah kamu naik dulu, sana!” ucap Bian.

Ira pun naik ke helikopter. Setelah itu, Bian langsung menyusulnya dan duduk di sebelah Ira.

“Lho, lho. Kamu mau ngapain?” tanya Ira, heran.

“Aku mau ngantar kamu sampai ke bandara,” jawab Bian sambil mengenakan earmuff dan memakaikannya pada Ira.

Ira langsung tersenyum, girang.

“Serius kamu mau nganterin aku? Nanti balik laginya gimana?” tanya Ira.

“Ya tinggal naik pesawat. Kan sekarang masih siang. Waktunya masih banyak,” jawab Bian.

“Makasih, ya,” ucap Ira. Ia sangat senang memiliki kekasih yang begitu perhatian seperti Bian.

“Gitu doang makasihnya?” ledek Bian.

“Terus mau gimana?” tanya Ira, heran.

Bian menghela napas. “Kalau kamu mau berterima kasih sama aku. Cukup tunggu aku dengan setia! Jangan nakal, jangan dekat dengan lelaki mana pun! Aku tuh orangnya cemburuan. Paham?” pinta Bian.

Ira menyipitkan matanya. “Emm ... kalau itu sih berlaku buat kamu juga, kan udah sering dibahas,” sahut Ira.

“Hehehe, iya ya. Baru juga beberapa menit lalu kita bahas. Intinya, kalau kamu mau berterima kasih sama aku, kamu harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.”

Bian seperti trauma karena ditinggal nikah oleh Intan. Padahal tak sampai satu bulan ia tidak bertemu Intan.

“Siap, Komandan!” jawab Ira, tegas.

Selama penerbangan, Bian tak melepaskan genggaman tangannya. Seolah ia takut kehilangan Ira. Mereka pun berbincang santai, sampai tidak terasa penerbangan mereka telah berakhir.

“Perasaan waktu pertama datang ke sini, penerbangannya lama banget. Kenapa sekarang malah jadi cepet banget, ya?” gumam Ira. Saat ini mereka sudah turun dari helikopter.

“Because, you like it but better when you with me,” ucap Bian percaya diri.

“Pede banget sih, kamu? Tapi bener, sih. Karena ada kamu, aku jadi menikmati perjalanan ini,” ucap Ira.

“Nah! Makanya, kita emang harus hidup bersama supaya kita bisa lebih menikmati hidup!” ucap Bian.

“Kamu, nih! Dasar tukang gombal. Bisa banget ngomongnya. Sebel, deh!” Ira sangat gemas pada Bian.

“Sebel apa? Seneng betul, ya?” tanya Bian sambil menaikturunkan alisnya.

Mereka pun terkekeh dan kemudian terdiam karena Ira harus segera berangkat. “Aku pasti akan merindukan kamu, Ra,” ucap Bian sambil menggenggam tangan Ira.

“Aku juga. Hem ... dua bulan pasti lama banget karena kamu gak ada di dekat aku,” ujar Ira.

“Nanti aku usahakan cari signal biar kita bisa video call-an. Jadi meski jauh, tetap terasa dekat,” ucap Bian.

Ira mengangguk. “Awas, ya! Jangan sampai gak ada kabar!” ancam Ira.

“Kamu juga! Tapi kalau aku gak ada signal, kita teleponan pake hape ini aja, ya?” tanya Bian sambil menunjukkan ponsel khususnya.

Ira mengangguk sambil memejamkan mata. “Pake apa pun, yang penting aku bisa denger suara kamu. Itu udah cukup,” sahutnya.

Bian memicingkan mata ke arah Ira. “Hem ... kamu udah mulai pintar gombal, ya? Belajar dari siapa, sih?” tanya Bian.

“Siapa lagi kalau bukan dari calon suami?” sahut Ira.

Bian langsung belingsatan saat disebut sebagai calon suami oleh Ira. “Aduh! Gawat ini. Aku jadi pingin ikut pulang ke Jakarta sekarang juga,” ucap Bian.

“Ya udah, ayo pulang! Dengan senang hati,” sahut Ira.

“Jangan, dong. Aku masih punya tanggung jawab di sini. Sabar, ya!”

“Kmau tuh yang harus sabar!”

“Emang kamu enggak?”

“Sama, sih. Hehhee. Udah ah, nanti aku ketinggalan pesawat,” ucap Ira.

“Tunggu! Aku punya sesuatu buat kamu,” ucap Bian.

Ira menyimaknya.

Bian pun mengambil sesuatu dari sakunya. Kemudian memberikan lambang hati dari jari ala korea. “Simpan ini baik-baik, ya!” ucap Bian.

Ira langsung tersenyum sambil geleng-geleng. “Dasar!” ucapnya. Namun ia tetap mengambil simbol hati tersebut. “Meski invisible, tapi aku dapat merasakannya,” ucap Ira.

“Jangan sampai hilang! Nanti pulang dari sini aku tagih,” ucap Bian.

“Siap, Komandan!” jawab Ira.

“Ya udah, sana! Kalau kelamaan nanti yang ada kamu aku bawa balik lagi ke perbatasan,” ujar Bian.

“Hehehe, jangan, dong! Nanti Papah aku nyariin. Ya udah aku pergi dulu. I love you,” ucap Ira.

“Love you more,” sahut Bian.

Mereka berpelukan, kemudian Ira pun meninggalkan Bian.

“Ya Tuhan, jaga dia! Semoga dia selamat sampai tujuan. Serta jauhkan dia dari godaan pria lain,” gumam Bian sambil menatap Ira.

Komandan TampankuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang