Saking bahagianya, Bian sampai sujud syukur saat mendengar berita kehamilan istrinya itu. "Ya Allah, alhamdulillah," lirihnya. Ia menitikan air mata karena merasa seperti mendapat hadiah.
Ira senang melihat kebahagiaan suaminya itu. Ia pun bangga karena perjuangan suaminya selama satu bulan di tengah lautan begitu luar biasa.
"Selamat ya, Sayang," ucap Ira, saat Bian memeluknya lagi.
Bian mengangguk. "Iya. Hari ini aku mendapat dua hadiah yang luar biasa. Aku sampai merasa ini seperti mimpi," ucap Bian. Kemudian ia melepaskan pelukannya.
"Sayang, kamu luar biasa. Maafkan aku karena tidak hadir di momen-momen penting kamu," ucapnya sambil menangkup wajah Ira.
Ira menggelengkan kepala. "Kamu gak perlu minta maaf. Bisa pulang dengan selamat saja sudah lebih dari cukup bagiku," ucapnya. Ia sudah mulai adaptasi menjadi seorang istri TNI. Sehingga Ira berusaha memaklumi kondisi suaminya itu.
Bian terlalu terbawa emosi. Saat itu juga ia hendak langsung mencumbunya. Namun tiba-tiba atasannya berdehem.
"Ehem!"
Sontak saja Bian yang bibirnya hampir mendarat di bibir Ira itu menghentikan gerakannya. Kemudian ia menoleh ke arah atasannya itu.
"Sebentar ya, Sayang! Aku izin dulu," ucapnya, sambil mengusap kepala Ira.
Kemudian Bian menghadap ke atasannya itu dan langsung memberi hormat.
"Lapor! Tugas sudah dilaksanakan. Laporan selesai!" ucap Bian, tegas.
Atasan Bian itu tersenyum. "Terima kasih banyak Komandan Malik. Sekarang Anda bebas tugas selama satu minggu. Tapi setelah itu akan ada pelantikan kenaikan pangkat. Mohon untuk tidak absen di acara tersebut," ucap atasan Bian.
Ia paham betul bagaimana perasaan pengantin baru itu. Mereka harus terpisah selama satu bulan setelah menikah beberapa hari. Sehingga dapat dipastikan kerinduan mereka sudah sangat membuncah.
Bian tak menyangka misinya kali itu langsung membawanya ke pangkat yang lebih tinggi. "Siap, laksanakan!" jawab Bian. Kemudian ia pun pamit dan langsung berlari ke arah Ira lagi.
"Sekali lagi selamat ya, Sayang," ucap Ira, sambil memeluk Bian lagi.
"Ayo kita pulang. Aku mau ketemu sama juniorku," bisik Bian.
Ira terkekeh mendengarnya. Ia pun pamit pada atasan Bian, kemudian meninggalkan area tersebut.
"Sayang, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Bian.
"Aku memohon ke Bapak (ayahnya Bian). Alhamdulillah beliau mengizinkan dan aku diantar sampai ke sini oleh anak buahnya," jawab Ira.
"Anak buahnya siapa? Lelaki atau perempuan?" tanya Bian.
"Ya ampun, Bi. Apakah dalam kondisi seperti ini hal itu perlu dipertanyakan? Mau lelaki atau perempuan, yang penting kan aku bisa nyampe ke sini. Kalau kamu pake protes, lebih baik aku pulang aja, deh!" keluh Ira.
"Hehehe, iya lebih baik kamu pulang. Pulang ke hotel sama aku!" ucap Bian. Kemudian ia langsung menggendong Ira.
"Bi! Aku malu, ih. Itu kan banyak orang," bisik Ira. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Bian.
"Biarin aja! Kalau ada yang ngeledek, palingan mereka iri," sahut Bian. Ia berjalan dengan begitu percaya diri.
"Cieee, akhirnya pengantin baru bisa melepas rindu. Uhuuyy!" ledek anak buah Bian yang sedang duduk bersantai karena baru saja bebas tugas.
"Jomlo dilarang iri!" sahut Bian, tanpa menoleh.
Sontak saja anak buah Bian langsung belingsatan. "Hahaha, janji gak jomlo!" canda mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Komandan Tampanku
RomanceIra yang merupakan seorang dokter dijodohkan dengan Bian yang merupakan komandan angkatan darat. Namun pertemuan pertama mereka kurang baik, sehingga Ira dan Bian saling membenci satu sama lain. Ira sengaja dikirim ke perbatasan oleh papahnya agar b...
