40. Ingat Kamar

11.2K 895 32
                                        

Zein kesal karena Dimas malah membela tentara. “Udah lo gak usah sok tau!” ucap Zein, sambil berlalu.

“Lha, aneh banget. Kenapa jadi dia yang sewot. Perasaan pertanyaan gue biasa aja,” gumam Dimas, bingung.

Sementara itu, Ira sedang kesal pada Dimas. ‘Ini pasti ada hubungannya sama Bang Zein yang rese itu. Awas aja kalau bener!’ batin Ira.

Selesai makan, Ira langsung pamit pada Arga. Sebab ia harus menghubungi Bian kembali. Ia tak ingin Bian salah paham karena tadi dirinya memutuskan sambungannya dengan Bian begitu saja.

“Dok, saya duluan, ya. Ada perlu,” ucap Ira.

“Oh iya, silakan!” sahut Arga.

Ira pun meninggalkan tempat itu dan mencari tempat sepi. “Coba ke taman aja, deh,” gumam Ira. Ia menuju ke taman agar bisa berbincang dengan santai tanpa diganggu. Tak mungkin Ira berbincang di ruangan Muh atau Zein.

Setibanya di taman, Ira langsung menghubungi Bian.

Telepon terhubung.

“Halo, Sayang. Udah selesai makannya?” tanya Bian. Ia sudah sejak tadi menanti telepon dari Ira.

“Hai ... udah, Sayang. Kamu lagi apa?” Ira balik bertanya.

“Lagi nungguin telepon dari kamu. Nanti setengah jam lagi mau latihan,” jawab Bian.

“Yang semangat latihannya ya, Sayang! Biar bisa cepet pulang,” ujar Ira, manja.

“Tapi hari ini aku gak semangat, nih,” keluh Bian.

“Lho, gak semangat kenapa?” tanya Ira, heran.

“Kamu tadi nyuekin aku gitu aja. Terus kamu makan berdua sama senior laki-laki, ya?” tanya Bian, lesu.

Ira terkejut karena Bian mengetahui hal itu. Ia pikir Bian tidak akan mengetahuinya. ‘Dia tau dari mana?’ batin Ira.

“Tuh kan kamu diam,” keluh Bian.

“Enggak, Sayang. Emang kamu tau dari mana aku makan berdua cowok?” tanya Ira.

“Bener, kan?”

Ira menghela napas. Kemudian menjelaskannya. “Iya bener. Tapi dia kan cuma senior aku. Kami sama-sama baru di sini,” jelas Ira.

“Jadi kalau nanti ada senior cewek atau junior cewek datang ke sini, aku boleh berdua juga?” skak Bian.

Ira tercekat. Tentu saja ia tak rela jika Bian berduaan dengan seniornya. “Ya jangan,” ucapnya, memelas.

“Terus kenapa kamu begitu? Curang dong kalau kamu boleh terus aku gak boleh?” tanya Bian, ia sedikit kesal karena tadi Ira tidak memikirkan perasaannya. Padahal Bian sudah mengatakan bahwa dirinya cemburuan.

“Iya, maaf. Lain kali aku gak gitu lagi,” lirih Ira, manja.

Ia menyesal karena telah membuat Bian marah. Ia pun jadi takut Bian melakukan hal yang sama untuk membalasnya.

“Ya udah, kali ini aku maafin. Tapi jangan sampai terulang!”

“Kalau terulang, emang kamu gak mau maafin aku?” tanya Ira, khawatir.

“Gak! Kalau sampai terulang, aku akan langsung terbang ke Jakarta dan nikahin kamu,” ancam Bian.

Ira langsung tersenyum. “Kalau gitu mendingan aku ulang aja, deh,” ucap Ira, genit.

Bian pun jadi tersenyum. “Dasar kamu ini! Awas ya kalau berani macam-macam! Nanti aku hukum,” ucap Bian, gemas.

“Enggaklah, ngapain sih aku macam-macam? Satu macam aja udah pusing karena gak bisa ketemu,” sahut Ira. Ia seperti orang belingsatan. Hingga tidak sadar ada yang memperhatikan dari jauh.

“Duh, dua bulan kenapa rasanya lama banget, ya?” gumam Bian. Ia merasa frustasi membayangkan harus menunggu dua bulan agar bisa segera melamar Ira.

“Ya udah katanya mau terbang ke sini? Buktiin, dong!” tantang Ira.

“Gak semudah itu, Sayang. Bisa berantakan kalau aku tinggalin mereka begitu aja,” jawab Bian, lemas.

“Terus tadi ngapain kamu bilang begitu?”

“Ya itu kan kondisi darurat. Aku terbang, nikahin kamu terus bawa kamu ke sini,” jawab Bian.

“Lho, kok dibawa ke sana?”

“Ya kan aku masih harus jaga di sini. Makanya kamu jangan macam-macam! Kan gak lucu kalau kamu tidur di barak sama aku,” ucap Bian sambil terkekeh.

“Hihihi, enak aja! Masa aku gabung sama yang lain juga?”

“Ya enggak, kan kamarku terpisah. Kamu bukannya pernah masuk, ya?”

“Ooh yang itu. Iya aku pernah masuk terus diusir dengan sadis oleh seseorang!” ucap Ira, kesal.

Ia sebal jika mengingat kejadian itu. Masih teringat jelas bagaimana juteknya Bian kala itu.

“Ya ampun, kamu masih inget aja,” ucap Bian. Ia merasa bersalah karena telah mengusir Ira.

“Iyalah! Pokoknya momen sama kamu itu gak ada yang aku lupain. Apalagi waktu kamu datang ke klinik terus minta tanggung jawab. Enak aja. Udah kamu yang ngusir, ehhh aku yang disuruh tanggung jawab. Dasar gak tau malu!” cibir Ira.

Ia jadi emosi dan seolah masih bermusuhan dengan Bian.

“Hei ... kamu kok kesel banget? Itu kan udah berlalu, Sayang,” ucap Bian, heran.

“Hehehe, ya abisnya kamu nyebelin banget. Ya udah jangan diingetin lagi. Aku jadi emosi bawaannya. Nanti yang ada aku kesel sama kamu,” ucap Ira, sebal.

“Iya maaf. Aku kan cuma mau ngingetin kamarnya aja. Tapi ingetan kamu malah ke mana-mana,” kilah Bian.

“Ya masalahnya pas aku ke kamar kamu itu gak berkesan banget. Jadinya aku kesel.”

“Ya udah, kapan-kapan kalau kamu ke kamar aku lagi, kita tinggalin kesan yang romantis, ya! Biar pas lagi inget bawaannya happy,” ucap Bian, genit.

Ira pun tersenyum malu. “Iih, ngapain juga aku ke kamar kamu lagi? Kan nanti kalau kamu pulang ke sini, gak balik lagi ke sana,” ucapnya.

“Ya, kamar aku yang lain. Kan nanti kalau udah nikah, kita pasti tidur sekamar,” jawab Bian, nakal.

“Ya udah gak usah dibahas sekarang! Nikahnya juga masih lama,” ucap Ira sambil menggigiti jarinya.

“Kenapa? Takut pingin, ya? Udah gak sabar, ya ...?” ledek Bian.

“Bi! Kamu jangan gitu, dong! Kayak yang sendirinya sabar aja!” skak Ira.

“Lho, kalau aku sih udah jelas gak sabar. Makanya pingin buru-buru pulang,” sahut Bian tanpa malu.

Bian terlalu asik berbincang dengan Ira. Sampai ia tak sadar ada anak buahnya yang sedang menguping.

‘Eh, kita godain Komandan, yuk!” ajak salah satu anak buah Bian pada temannya.

“Gimana caranya?” tanya yang lain.

“Ya udah, ikutin aja! Kan kita pura-pura gak tau kalau dia lagi teleponan.”

“Ya udah, ayo!”

Mereka pun sepakat untuk menggoda Bian.

“Eh, Bang! Dokter baru itu cantik juga, ya. Tadi pagi pas kita lari, dia lagi nyapu. Kamu lihat, kan?” tanya anak buah Bian pada temannya. Ia sengaja meninggikan suara agar Ira mendengarnya.

Bian langsung menoleh ke arah anak buahnya itu.

“Eh, ada Komandan. Siang, Ndan!” sapa anak buah Bian. Pura-pura tidak sadar ada Bian di sana.

Bian tidak menjawabnya. Ia kesal karena yakin Ira pasti bertanya-tanya.

“Lihatlah. Orang dia senyum juga kan ke kita. Komandan lihat, gak?” tanya anak buah itu pada Bian.

Bian langsung memelototinya.

“Oooh, jadi kamu lari pagi lewat rumah dokter itu?” ucap Ira, kesal.

Komandan TampankuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang