36. Masih Rahasia

11.5K 909 32
                                        

Ira salah tingkah saat ditanya seperti itu oleh Zein. “Emang masalahnya apa kalau tentara?” tanya Ira sambil masuk ke mobil Zein.

“Aku gak suka! Tentara itu kebanyakan hidung belang. Pokoknya jangan sampai kamu nikah sama tentara!” ucap Zein, kesal.

“Lha, gak semua gitu kali, Bang. Lagian emang kenapa sih anti banget? Pernah punya masalah sama tentara, kah?” tanya Ira.

“Ssstt! Dulu saingannya tentara,” bisik Intan sambil tersenyum. Kemudian ia pun masuk ke mobil.

Ira langsung terdiam. Ia baru ingat bahwa dulu Bian menyukai Intan. ‘Lha, iya. Kenapa aku bodoh banget. Bisa-bisanya aku lupain hal sepenting itu?’ batin Ira.

Ira jadi melamun sambil menatap mereka berdua. ‘Gara-gara Bian, Bang Zein jadi anti sama tentara. Lha, tentaranya aja dia anti, apalagi Biannya?’ gumam Ira dalam hati.

Ia jadi khawatir hubungannya dengan Bian nanti akan terhalang restu Zein. Sebab ia masih belum tahu bahwa papahnya yang justru akan mendukung.

“Ya udahlah, kalau jodoh gak kemana,” gumam Ira, pelan-pelan. Kemudian ia menatap ke luar jendela. Sebab malas mendengarkan ocehan Zein yang sibuk mengkhawatirkannya.

Setibanya di rumah, Ira disambut oleh Muh dan Rani.

“Assalamu alaikum, Mah,” ucap Ira.

“Waalaikum, Sayang. Akhirnya kamu sampe juga. Duh, Mamah kangen banget sama kamu,” ujar Rani sambil memeluk Ira.

“Hem ... persaan aku udah biasa jauh dari Mamah. Tumben baru sebulan lebih pergi udah dikangenin?” ledek Ira.

“Ya beda, dong! Kalau di Singapura kan kamu tinggal sama Oma dan tempatnya aman. Nah, kemarin kamu tinggal di perbatasan. Haduh Mamah was-was banget. Apalagi pas tau kamu diculik,” ujar Rani, heboh.

“Ya salahin yang ngirim, lah. Siapa suruh tega ngirim anak sendiri ke perbatasan. Tuh! Punya abang juga tega banget jadiin adiknya tumbal,” ucap Ira sambil menjebik.

“Tapi kayaknya tiap Papah telepon, kamu happy ya tinggal di sana?” ledek Muh.

“Ah, Papah sok tau,” sahut Ira sambil berlalu.

Mereka pun masuk ke rumah.

“Lho, Papah beneran tau, dong. Kamu kan anak Papah. Jadi bisa membedakan gimana emosi kamu. Iya kan, Mah?” Muh minta dukungan dari istrinya.

“Iya, sih. Mamah juga kalau nelepon kamu, kayaknya kamu betah di sana,” timpal Rani.

Sebenarnya mereka ingin memancing Ira agar mengakui hubungannya dengan Bian. Mereka ingin semuanya berjalan secara alami. Sebab sudah cukup Zein yang dijodohkan secara terang-terangan.

Namun Ira masih sangat rapat. Apalagi ia tahu Zein tidak menyukai tentara. Salah-salah nanti Bian dianggap playboy jika tiba-tiba menghilang. Ira pula yang disalahkan oleh Zein, pikirnya.

“Ya udah aku mau istirahat dulu ya, Pah-Mah. Jetlag, nih,” ujar Ira.

“Iya, Sayang. Oh iya, kapan kamu bisa mulai kerja?” tanya Muh.

“Ya ampun, Pah. Baru juga nyampe rumah, nantilah bahasnya kalau aku udah gak capek,” keluh Ira.

“Hehehe, iya maaf. Ya udah sana kamu istirahat!” sahut Muh.

Ira pun pergi menuju kamarnya. Saat hendak naik ke lantai atas, Ira menghentikan langkahnya. “Bang! Nanti tolong bawain koper aku, ya!” ucap Ira sambil tersenyum meledek.

Ia sengaja ingin memanfaatkan Zein karena kakaknya itu telah membuat dirinya dikirim ke perbatasan. Ira pun langsung melanjutkan langkahnya kembali.

Zein geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya itu. “Lihat tuh, Mah! Masa sama kakak sendiri begitu?” adu Zein.

“Biarin aja! Gitu-gitu juga dia udah mau berkorban buat kamu, kan? Cuma ngangkat koper gak ada apa-apanya,” skak Rani.

Intan tersenyum melihat suaminya diskak seperti itu. Namun ia jadi tidak enak hati karena Ira dikirim kesana demi menggantikannya.

Setibanya di kamar, Ira langsung mengecek ponselnya. Ia pun tersenyum saat melihat banyak pesan singkat dari kekasihnya itu.

“Duh, kayaknya ada yang kangen banget sama aku, nih,” gumam Ira.

Ia senang karena Bian begitu perhatian padanya. Ira pun segera menghubungi kekasihnya itu.

Tak butuh waktu lama, panggilan tersebut langsung dijawab oleh Bian. Sepertinya pria itu memang sedang menantikan kabar dari Ira.

“Assalamu alaikum, Sayang,” sapa Bian.

“Waalaikum salam. Ini kayaknya cepetan tangan kamu dari pada deringnya, ya? Perasaan aku belum sempet denger nada panggilannya, deh,” ledek Ira.

“Iya, dong. Insting aku kan kuat. Jadi pas tau kamu mau telepon, aku langsung jawab,” sahut Bian, bangga.

Ira yang sedang lelah pun jadi tersenyum. Saat ini ia sedang duduk di sofa sambil memeluk bantal.

“Kamu udah sampe rumah?” tanya Bian.

“Udah, maaf ya baru sempet ngabarin. Soalnya tadi abang aku jemput. Gak enak kan kalau telepon kamu di depan dia,” ujar Ira.

“Gak enak kenapa? Kamu malu punya pacar kayak aku?” tanya Bian. Ia kecewa karena Ira seolah menutupi hubungan mereka.

“Lho, bukannya malu. Tapi kan kamu masih belum pasti. Nanti aja kalau kamu udah pulang ke Jakarta, aku jemput terus aku kenalin ke keluargaku,” ucap Ira.

Bian langsung belingsatan. Ia sangat senang karena Ira ingin memperkenalkannya ke keluarganya.

‘Eh, tapi kira-kira nanti dia shock gak ya kalau tau abang aku itu suaminya Mbak Intan?’ batin Ira.

Ia belum berani mengatakan pada Bian bahwa Zein adalah kakaknya. Ira tidak ingin Bian mundur sebelum berperang. Lagi pula selama ini Bian tidak pernah cerita masalah Intan. Sehingga Ira memilih untuk pura-pura tidak tahu.

‘Bodo, ah! Boleh kan gue egois? Lagian kalau dia udah move on mah gak masalah. Misalnya Bang Zein gak setuju juga bodo amat. Urusan hati gue, dia gak berhak ikut campur,’ gumam Ira dalam hati.

Ia ingin egois untuk masalah yang satu itu. Selama Bian memang pria yang baik, Ira ingin berjuang demi hubungannya.

“Sayang! Kok diem?” tanya Bian.

“Eh, enggak. Cuma lagi ngantuk aja, hehe,” sahut Ira.

“Emang kamu gak tidur di jalan?” tanya Bian lagi.

“Tidur, sih. Cuma namanya abis jalan jauh, pasti capek, kan.”

“Ya udah kalau kamu mau istirahat, tutup aja teleponnya!” ujar Bian. Ia tidak ingin Ira memaksakan diri.

“Eh, enggak. Istirahat sambil dengerin suara kamu lebih nyaman, hehe,” sahut Ira.

Bian pun senang. “Kalau gak dengerin suara aku, gimana?” tanyanya.

“Ya kangenlah ... makanya kalau ada waktu, kita harus sering teleponan. Oke?” pinta Ira.

“Siap, Nyonya!” sahut Bian, tegas.

Saat mereka sedang berbincang. Tiba-tiba pintu kamar Ira diketuk.

Tok, tok, tok!

Ira pun langsung menoleh. “Siapa?” tanyanya.

“Ini kopernya mau disimpan di mana?” Zein balik bertanya.

“Waduh, Abang!” gumam Ira. Ia bingung harus berbuat apa. Sebab Ira khawatir Bian menyadari bahwa Zein adalah kakak Ira.

Komandan TampankuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang