Setelah membersihkan tubuh, mereka kembali merebahkannya di tempat tidur.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu," bisik Bian, sambil memeluk istrinya. Saat ini mereka sedang beristirahat sejenak setelah pelepasan rindu.
"Aku juga, Bi. Aku kesepian banget kalau gak ada kamu. Apalagi kan sebelumnya kita udah lama gak ketemu. Pas baru ketemu lagi malah harus pisah. Sebulan itu lama lho, Bi," keluh Ira, manja. Ia memainkan jemarinya di dada Bian.
"Iya, Sayang. Maaf ya, beginilah risiko jadi istri abdi negara. Aku gak bisa jadikan kamu prioritas nomor satu," ucap Bian. Kemudian ia mengecup kepala istrinya.
"He'em. Mau gimana lagi. Itu emang risiko yang harus aku terima. InsyaaAllah aku kuat lewatin semuanya. Meskipun berat," jawab Ira.
"Makanya kalau lagi ada kesempatan, kita gak boleh menyia-nyiakannya, Sayang," ucap Bian.
"Kesempatan apa, Bi?" tanya Ira.
"Kesempatan untuk bercinta," bisik Bian. Kemudian ia menarik dagu Ira dan mencumbunya lagi.
"Heump! Bi, kan baru selesai," ucap Ira. Saat itu Bian tak melepaskan pagutan bibir mereka. Sehingga Ira kesulitan untuk bicara.
"Tapi aku udah pingin lagi, Sayang. Namanya juga kangen," jawab Bian. Ia pun bicara tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
***
"Terima kasih, Sayang. Aku cinta kamu," bisik Bian setelah merasa puas. Kemudian ia pun menggulingkan tubuhnya di samping tubuh istrinya itu.
Ira tidak merespon Bian. Ia sudah sangat lemas sehingga langsung terlelap.
Keesokan harinya, Bian dan ira sudah siap untuk pulang ke Jakarta. Ira terlihat begitu lemas, tetapi Bian justru kebalikannya. Ia seperti robot yang baru di-charge.
"Aku lemas, Bi," ucap Ira. Ia bahkan malas untuk bergerak.
"Mau aku gendong?" tanya Bian.
"Ya jangan! Aku bisa jalan sendiri. Tapi nanti sampai rumah langsung istirahat, ya," pinta Ira.
"Iya, Sayang. Nanti di pesawat juga kan kamu bisa tidur.
"Ya udah, ayo!"
Mereka pun meninggalkan kamar. Sebelumnya Bian memanggil beberapa anak buahnya untuk membawakan koper mereka. Saat keluar kamar, anak buah Bian sudah berada di sana.
"Pagi, Ndan!" sapa mereka.
"Pagi! Tolong bawakan koper kami! Aku tunggu di lobby," ucap Bian. Kemudian ia menggandeng Ira meninggalkan kamar itu.
"Siap, Ndan!" jawab mereka. Setelah itu mereka pun masuk ke kamar tersebut. Namun mereka langsung tercengang kala melihat kondisi kamarnya.
"Wooowww, sepertinya habis ada perang badar," gumam mereka.
Kemudian anak buah Bian saling bertatapan. Pikiran mereka pun berkelana, membayangkan apa yang terjadi semalam.
"Pantas saja tadi dokter Ira terlihat pucat. Ternyata habis digempur sama komandan," gumam anak buah Bian.
"Aku baru tahu kalau kamar pengantin baru bisa seperti kapal pecah begini," gumam temannya.
Tempat tidur mereka begitu berantakan. Bunga-bunga yang sempat menghiasi tempat tidur pun berserakan di lantai. Bahkan sebagian sprei-nya ada yang terlepas.
"Tapi komandan malah lebih segar dari sebelumnya, ya?"
"Iyalah. Namanya juga baru dapat vitamin GM."
"GM?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Komandan Tampanku
RomansaIra yang merupakan seorang dokter dijodohkan dengan Bian yang merupakan komandan angkatan darat. Namun pertemuan pertama mereka kurang baik, sehingga Ira dan Bian saling membenci satu sama lain. Ira sengaja dikirim ke perbatasan oleh papahnya agar b...
