62. Menjalankan Misi

10.3K 832 41
                                        

Ketika mobil Bian sudah keluar dari mall, ia menyadari bahwa dirinya dibuntuti lagi. Namun, Bian terkejut kala melihat bahwa orang yang membuntutinya berkurang satu.

“Berengsek!” maki Bian. Kemudian ia pun berusaha agar lolos dari penguntit. Setelah itu Bian bergegas kembali ke mall.

Ia yakin satu orang lagi sedang membuntuti Ira. Bian pun melajukan kendaraannya secepat mungkin agar bisa segera menyelamatkan Ira.

Berhasil Bian bisa lolos karena ada lampu merah yang menahan pengendara motor itu. Setibanya di mall, Bian segera memarkir mobilnya dan mencari Ira yang entah ada di lantai berapa.

‘Semoga aku tidak terlambat,’ batin Bian.

Saat Bian sedang berlari kecil sambil mencari Ira, dari kejauhan ia melihat bahwa Ira sedang dibuntuti. “Benar dugaanku,” gumam Bian.

Ia pun berlari dan naik eskalator karena posisi Ira ada di lantai atas. Ia menuju ke arah yang Ira tuju, kemudian menunggunya di persimpangan.

Saat Ira tiba di persimpangan, Bian langsung menarik tangan wanita itu.

Greb!

Ira sangat terkejut kala tangannya tiba-tiba ditarik. Ia hampir berteriak, tetapi pria itu langsung membekap mulutnya. Ira dibawa ke tempat tersembunyi agar orang yang membuntutinya tadi tidak dapat menemukannya lagi.

“Sstt! Jangan berisik!” bisik Bian.

Deg!

Ira semakin terkejut kala menyadari bahwa pria yang ada di hadapannya kini adalah Bian. Saat ini posisi Ira sedang bersandar pada dinding. Mereka berhadapan dengan posisi wajah yang sangat dekat karena tempatnya sempit.

Jantung Ira berdebar hebat. Ia masih ingat bagaimana ketika hubungan mereka masih hangat. Jangankan peluk, jika berada di posisi itu, Bian sudah pasti akan mencium bibirnya.

Saat itu Bian serius memperhatikan ke luar. Ia ingin memastikan bahwa pria yang membuntuti Ira tadi sudah pergi.

Sedangkan Ira, ia hanya fokus menatap Bian. Garis wajahnya masih sama, tetapi ia melihat ada bekas luka di lehernya.

“Bi,” lirih Ira sambil menyentuh leher Bian.

Bian menggenggam tangan Ira yang hendak menyentuh lehernya itu. “Sudah aman. Mari saya antar pulang!” ajak Bian, sambil menarik tangan Ira.

Ira menahannya. “Tunggu, Bi!” ucap Ira.

“Nama saya bukan Bi. Mungkin kamu salah orang,” ucap Bian.

“Bi! Aku tuh gak bodoh. Aku tau ini kamu. Entah apa yang sedang terjadi, tapi aku yakin kamu pasti punya alasan untuk melakukan semua ini, kan?” tanya Ira dengan suara bergetar dan mata memerah serta berkaca-kaca.

Gluk!

Rasanya Bian sangat ingin memeluk Ira. Ia senang karena belum dijelaskan pun Ira sudah paham. Namun ia sudah terlanjur bersumpah untuk tidak mengatakan tentang misi rahasianya pada siapa pun.

“Kalau kamu bukan Bian. Untuk apa kamu nyelamatin aku?” tanya Ira.

“Tadi saya lihat kamu dibuntuti, makanya saya nolong kamu. Tapi kalau memang kamu tidak percaya, saya tak akan memaksa,” jawab Bian.

Seketika air mata Ira menetes.

“Terserah kamu mau bilang apa, Bi. Yang pasti selama ini aku nunggu kamu. Aku kangen banget sama kamu, Bi. Sakit rasanya kehilangan orang yang aku cintai. Tapi aku gak akan nyerah. Aku yakin cepat atau lambat, kamu pasti akan kembali,” ucap Ira.

Hati Bian terasa begitu pedih. Ia tak tahan melihat Ira seperti itu. ‘Apa aku jujur saja?’ batin Bian.

Saat Bian hendak membuka mulutnya dan mengatakan yang sebenarnya, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Bian.

Komandan TampankuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang