53. Seragam Sakti

10K 842 22
                                        

Arga tidak sadar bahwa pria yang sedang bersama Ira adalah calon suaminya. Sehingga ia bisa menyapa Ira dengan santai.

Bian dan Ira langsung menoleh ke arah sumber suara. ‘Waduh, kenapa harus ketemu dia di sini?’ batin Ira. Ia yakin Bian akan kesal jika melihat Arga.

Apalagi pagi ini Arga terlihat begitu tampan. Ia mengenakan kemeja slim fit dengan kacamata hitam yang membuatnya terlihat begitu keren.

Tebakkan Ira benar. Bian langsung melirik ke arah Ira. Hal itu pun membuat Ira canggung.

“Pagi, Dok!” sahut Ira, kikuk. Ia tidak mungkin mengabaikan sapaan Arga.

Saat itu mereka berada posisi yang sama. Sebab pintu mereka bersebelahan. Arga sendiri masih berada di dalam mobilnya. Ia hanya menurunkan kaca jendela karena Ira berdiri di sebelah pintunya.

Ira menutup pintu mobilnya, kemudian ia berjalan ke bagian depan mobil. Bian pun langsung mendekat ke arah Ira saat melihat Arga turun dari mobil.

“Sayang, temenin aku makan ini dulu, yuk! Kan kamu udah capek bikinin sarapan buat aku, jadi aku harus makan di depan kamu,” ucap Bian, sedikit mengeraskan suaranya agar pria itu mendengar.

Arga yang mendengar pun melirik ke arah mereka. Ia dapat menebak siapa pria yang sedang bersama Ira.

Ira sendiri malu karena Bian terlihat norak. “Iya, Bi,” jawabnya.

“Ini calon suaminya, ya?” tanya Arga, saat melintasi mereka. Ia sengaja bertanya seperti itu agar tidak malu.

“Iya, saya Bian. Calon suami Ira,” jawab Bian, sambil mengulurkan tangannya.

Wajah Ira merona karena malu akan sikap Bian. Sedangkan Arga tersenyum melihat Bian yang posesif, seolah takut Ira diambil olehnya.

“Arga!” ucap Arga sambil menjabat tangan Bian.

“Oke, kalau begitu saya duluan. Sampai bertemu di ruangan, Dok,” ucap Arga. Ia seolah ingin meledek Bian dengan menunjukkan bahwa dirinya akan menghabiskan waktu lebih banyak dengan Ira.

“Iya, Dok! Silakan,” sahut Ira.

Arga pun berlalu. Ia berhasil membuat Bian panas. Meski Bian bangga bahwa dirinya telah dikenal sebagai calon suami Ira, tetapi ia melihat Arga tidak peduli akan hal itu.

“Oh jadi itu senior kamu?” tanya Bian, kesal.

“Iya, kenapa?” Ira balik bertanya.

“Norak!” cibir Bian.

Ira mengerutkan keningnya. “Hah? Gak salah? Perasaan dari tadi yang norak itu kamu, deh,” balas Ira.

Bian langsung menoleh ke arah Ira. “Kok kamu jadi belain dia, sih?” tanyanya. Ia kecewa karena Ira malah membela Arga.

“Ya aku cuma menilai secara objektif. Kenapa sih kamu gak bisa bersikap cool, gitu? Tanpa harus kamu bilang kalau kamu calon suami aku juga dia udah tau, Bi.”

“Oh, jadi kamu malu punya calon suami norak kayak aku?” tanya Bian, kecewa.

Ira tidak menjawabnya. Ia memang malu. Tetapi Ira tidak sampai hati untuk melukai hati Bian. Ia yakin bahwa Bian akan terluka jika dirinya berkata jujur.

“Udah, kamu jangan kebanyakan over thinking! Mendingan sarapan dulu biar gak oleng!” ucap Ira sambil menarik tangan Bian. Ia tidak ingin Bian semakin uring-uringan.

Sayangnya, meski Bian seperti itu, rasa cinta Ira terhadapnya tidak berkurang sedikit pun. Ia paham Bian seperti itu karena sangat menyintainya.

Begitulah cinta. Bukan masalah keren atau norak. Keren sekali pun tidak akan membuat seseorang berpaling jika tak mampu menyentuh hati.

Ira dan Bian berjalan menuju ke taman. Kemudian mereka duduk di salah satu kursi yang ada di sana.

“Kamu tunggu dulu, ya. Aku mau ke sana sebentar,” ucap Ira.

“Mau ke mana?” tanya Bian sambil mengerutkan keningnya.

“Mau beli minum buat kamu, Sayang ...,” ucap Ira, gemas. Sambil mencubit pipi Bian.

Bian pun tersenyum. “Ya udah, jangan lama-lama, ya!” sahut Bian.

“Hem!” Ira pun berlalu.

Bian yang sudah mengenakan seragam ‘sakti’ itu pun membuka kotak makan yang telah disiapkan oleh ira. Ia tersenyum saat melihat ada gambar hati yang dibuat oleh calon istrinya itu.

“So sweet banget, sih,” gumam Bian. Ia sampai tidak tega untuk merusaknya. Namun, kemudian ia pun menikmati makanan tersebut dengan lahap.

Melihat ada pria tampan dan gagah sedang makan di taman, banyak pasang mata wanita yang memperhatikannya. Bian pun tidak sadar akan hal itu. Sebab ia fokus pada makanan yang ada di hadapannya.

“Enak banget masakannya. Bisa-bisa kalau udah nikah nanti aku jadi gemuk, nih,” gumam Bian, sambil tersenyum. Ia membayangkan bagaimana dirinya dibuatkan makanan setiap hari oleh Ira.

“Udah, cepetan makannya!” ucap Ira, sambil duduk di samping Bian.

“Lho, kenapa?” tanya Bian, heran. Sebab ia masih ingin berlama-lama dengan Ira.

“Di sini banyak lalat,” ucap Ira, sambil melirik ke arah para wanita itu.

“Masa, sih? Perasaan dari tadi aku gak lihat ada lalat, deh?” Bian semakin tidak paham.

Ira yang kesal pun langsung menyuapkan satu sendok penuh makanan ke mulut Bian. “Udah jangan banyak ngomong!” ucapnya, ketus.

Ia tidak sadar bahwa ternyata sikapnya tak berbeda jauh dengan Bian. Sama-sama norak dan cemburuan jika ada yang mengincar pasangannya itu.

“Ya ampun, kamu nyuapinnya bar-bar banget. Yang romantis dikit dong, Sayang,” ucap Bian dengan mulut yang penuh.

“Hust! Makan gak boleh sambil ngomong! Udah kunyah dan telen aja dulu makanannya,” ucap Ira.

“Kamu udah kayak ibu aku aja,” canda Bian.

“Biarin!” Ira tak peduli meski disebut sebagai ibu. Yang terpenting saat ini adalah Bian segera pergi dari tempat tersebut.

“Lagian kamu tuh ngapain sih pake baju ketat begini?” tegur Ira. Ia sebal karena seragam Bian cukup ketat. Saat itu Bian mengenakan pakaian PDH yang mencetak tubuhnya dengan sempurna. Membuat siapa pun ingin memeluknya.

“Ya kan ini udah jam kerja aku, Sayang. Nanti sampai markas juga aku langsung kerja. Ini kan pakaian dinas,” jelas Bian. Padahal ia sengaja mengenakan seragam itu untuk pamer jika bertemu dengan saingannya.

Ternyata usaha Bian tidak sia-sia. Tadi ia sudah bertemu dengan Arga. Namun sayang, Arga tidak kalah keren darinya meski hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung dan celana panjang berwarna krem.

“Kamu kalau kerja, satu ruangan sama dokter tadi?” tanya Bian.

“Hah? Dokter Arga?” Ira balik bertanya.

“Iya. Emang siapa lagi?” Bian kesal karena Ira pura-pura tidak paham.

“Ooh, iya,” jawabnya.

“Berdua?” tanya Bian lagi, sambil menahan napas.

Komandan TampankuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang