64. Penjelasan Bian

12.1K 979 57
                                        

Seketika air mata Ira mengalir. Sudah sebulan lebih sejak terakhir kali mereka bertemu di mall. Ira berusaha keras untuk melupakan Bian, bahkan ia rela berusaha membuka hati untuk Arga.

Kekecewaannya sudah sangat dalam. Apalagi kala itu Bian meninggalkan Ira sendirian dan ia malah pergi dengan wanita lain.

Namun, kini Bian justru ada di hadapannya. Datang bersama keluarga untuk melamarnya. Ira tidak paham dengan situasi yang ia hadapi. Ia merasa bahwa Bian telah mempermainkannya.

Mereka semua diam karena paham bahwa Ira pasti sangat kecewa pada Bian. Namun mereka pun tahu bahwa dua insan itu masih sama-sama saling mencintai. Hal itulah yang membuat Muh memberi kesempatan pada Bian.

Kemarin Bian menghubungi Muh kembali dan mengatakan niat baiknya itu. Awalnya Muh sempat menolak. Namun Bian memohon dan berjanji akan memperbaiki semuanya.

Bian pun menjelaskan apa yang terjadi selama sebulan terakhir. Sehingga Muh tidak tega dan mau memberikan kesempatan padanya lagi.

Ira menatap Bian untuk beberapa saat. Akan tetapi, ia tidak sanggup menghadapi situasi seperti itu. Rasanya begitu sesak dan sakit.

Napas Bian pun terlihat begitu cepat. Sepertinya ia merasakan hal yang sama dengan Ira.

“Maaf, permisi,” ucap Ira. Lalu Ia langsung pergi tanpa menyapa orang tua Bian lebih dulu. Kekecewaannya sudah terlalu besar. Ira bahkan sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi.

“Ra!” panggil Rani. Ia tidak menyangka Ira akan seperti itu. Ia pikir meskipun akan menolak, setidaknya Ira duduk lebih dulu.

“Om-Tante! Bolehkah ...?” tanya Bian, dengan mata yang berkaca-kaca.

“Silakan!” jawab Muh. Ia tahu apa yang akan Bian katakan. Muh memberi kesempatan pria itu untuk menjelaskan pada anaknya.

“Terima kasih, Om,” ucap Bian. Orang tua Bian tidak menyalahkan Ira. Mereka dapat memakluminya karena memang Bian sudah terlalu lama menggantung hubungan mereka.

Ia mengejar Ira. “Ra, tunggu!” panggilnya.

Sadar dirinya dikejar oleh Bian, Ira pun berlari ke arah taman. Ia tidak ingin Bian membuntutinya ke kamar dan ada drama di depan kamarnya itu.

Setibanya di taman, Ira duduk di gazebo sambil menangis. Sepertinya ia pun masih mengharapkan penjelasan dari Bian.

Melihat Ira duduk, Bian pun memperlambat langkahnya. Ia tidak ingin Ira berlari lagi.

“Ra, aku bisa jelasin semuanya,” ucap Bian, sambil mendekat ke arah Ira secara perlahan.

Ia mengusap air matanya. “Apa yang perlu dijelasin? Katanya kamu gak kenal aku,” sindir Ira.

“Ra, kamu kan tau kerjaan aku kayak gimana. Waktu itu aku lagi diincar oleh mafia. Aku gak mau keselamatan kamu terancam. Bahkan kamu sendiri sempat dibuntuti orang, kan,” ujar Bian.

Saat ini Bian sedang berdiri di dekat Ira. Ia belum berani duduk karena merasa masih perlu memberikan penjelasan padanya.

Penjelasan Bian memang masuk akal. Jika bukan karena dia, untuk apa pria itu membuntuti Ira tempo hari.

“Sekarang misi aku sudah selesai dan aku menepati janji untuk melamar kamu. Oke, aku tau ini sudah sangat terlambat dan mundur terlalu jauh. Tapi kondisi aku memang terpaksa harus seperti itu,” jelas Bian. Ia bahkan berjongkok di hadapan Ira.

“Aku tau kesalahanku sangat fatal. Entah bagaimana caranya minta maaf sama kamu. Tapi, please! Beri kesempatan satu kali lagi. Aku janji gak akan pernah ngecewain kamu. Kalau kita udah nikah nanti, kamu berhak tau apa pun yang aku lakukan,” lanjut Bian.

Bian dapat melihat tangan Ira gemetar. Ia memejamkan mata sesaat karena tahu saat ini Ira sedang tertekan. Setelah itu, ia membuka mata kembali dan memberanikan diri untuk menggenggam tangan wanitanya tersebut.

Awalnya Ira hendak menarik tangannya. Namun Bian langsung menahannya. “Aku mohon, Ra,” lirih Bian sambil menahan tangan Ira.

Bian pun menatap Ira yang sedang memalingkan wajah. “Aku sayang kamu, aku takut kamu tiba-tiba diculik sama mafia itu. Makanya selama ini berusaha menghindari kamu dan pura-pura gak kenal,” lanjut Bian.

“Setelah bertemu kamu di mall bulan lalu, aku dan team bergerak untuk menangkap mereka. Beruntung kala itu ada mantan mafia yang tempo hari menangkap kita di perbatasan. Dia membantu tim kami.”

“Alhamdulillah kami berhasil menangkap mereka. Tapi sayangnya aku tertusuk dan harus dirawat selama sebulan. Jadi baru sekarang aku bisa datang nemuin kamu,” tutur Bian panjang kali lebar.

Mendengar kata tertusuk, Ira pun langsung menoleh.

Bian berdiri perlahan. “Kalau kamu gak percaya, aku bisa buktikan,” ucap Bian sambil melepas kancing kemejanya.

Melihat Bian melepas kancing kemeja, Ira pun panik.

“Mau apa, kamu?” tanyanya, ketus. Sambil memalingkan wajah lagi.

“Mau membuktikan kalau aku gak bohong, Ra. Ini kamu bisa lihat sendiri!” ucap Bian sambil menyibak kemejanya yang sudah terbuka itu.

Ira pun menoleh secara perlahan. Memang benar di dekat dada Bian ada bekas jahitan.

Bola mata Ira pun bergerak-gerak perlahan. Dapat terlihat bahwa ia mengkhawatirkan pria itu. Ira ingat betul dulu hanya ada luka bekas tembakan di tubuh Bian. Apalagi jahitan tersebut terlihat masih baru. Sehingga ia percaya pada apa yang Bian ceritakan.

“Sedikit saja melesat ke jantung, mungkin saat ini aku gak ada di sini, Ra,” ucap Bian.

“Bi!” sentak Ira. Ia tidak suka mendengar ucapan Bian barusan. Ira bahkan langsung berdiri dan menahan bibir Bian dengan satu jarinya.

Alis Ira berkerut sambil menatap Bian. Bian pun membalas Ira dengan tatapan hangat. “Aku cinta kamu, Sayang. Maaf kalau selama ini telah membuatmu kecewa dan khawatir,” ucap Bian, sambil menangkup sebelah pipi Ira.

“Kamu jahat,” lirih Ira, dengan mata berkaca-kaca. Suaranya terdengar manja.

“Iya, aku emang jahat. Tapi aku janji, setelah ini gak akan mengulangi hal itu lagi. Aku bersumpah akan selalu terbuka sama kamu,” ucap Bian. Ia sudah tidak tahu harus bicara apa lagi agar Ira percaya padanya.

“Jangan ngilang lagi!” pinta Ira, manja.

“Siap, janji!” sahut Bian, tegas.

Ira pun tersenyum. Sudah lama ia tidak mendengar kalimat seperti itu.

Ira yang sudah tidak tahan akan rasa rindunya pun langsung memeluk Bian. “Aku benci kamu, Bi,” ucapnya.

Bian sangat senang. Meski Ira mengatakan benci, tetapi sikapnya menunjukkan bahwa ia mau menerima Bian lagi. “Iya, aku memang pantas dibenci,” sahut Bian.

Ia mendekap Ira dan mereka berpelukan untuk melepas rindu. Beberapa saat kemudian, mereka melepaskan pelukan, lalu saling bertatapan.

Mereka yang sama-sama sudah terluka karena terlalu merindu itu tak bisa menahan diri. Perlahan wajah mereka semakin mendekat, hingga bibir Bian hampir mendarat di bibir Ira.

Namun, kemudian mereka dikejutkan oleh suara Muh.

“Ehem!” Muh berdehem dengan sangat kencang hingga mereka berdua terperanjat.

Komandan TampankuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang