"Hehehe, iya Pah," jawab Ira, jujur. Ia tidak ingin mengambil risiko dengan berbohong pada papahnya. Sehingga ia memilih jujur meski mungkin Muh tidak akan mengizinkan.
Muh lega karena Ira jujur. "Oke, tapi kamu harus ingat pesan Papah!" ucap Muh, dengan nada sedikit mengancam.
"Siap, Pah," sahut Ira. Ia tak menyangka Muh akan mengizinkannya. Wajah Ira pun terlihat sumeringah.
Muh geleng-geleng melihat kelakuan anaknya itu.
Ira pun segera keluar dari ruangan itu. Kemudian ia menyusul Bian yang ada di kantin. Saat itu Bian menunggu Ira bersama Kiana.
Saat hampir tiba di depan kantin, Ira berpapasan dengan Arga. "Lho, kok ada di sini, Ra?" tanya Arga. Ia senang karena bertemu dengan Ira.
"Iya, ada perlu," sahut Ira. Ia khawtir Bian melihat Arga dan cemburu padanya. Sebab, sejak dulu Arga memang menjadi saingan Bian.
"Gimana acaranya semalam, lancar?" tanya Arga.
Sebelumnya Ira sudah memberi tahu Arga bahwa ia akan dijodohkan oleh orang tuanya. Sebenarnya Arga sakit hati, tetapi ia berusaha menerima dengan ikhlas. Seperti biasa, Arga selalu bersikap cool dan tidak menunjukkan kekecewaannya.
"Alhamdulillah, lancar," sahut Ira. Ia sedikit canggung dan tidak enak hati pada Arga. Sebab secara tidak langsung ia seperti memberi harapan palsu pada pria itu.
Sesuai dugaan Ira, Bian yang melihat mereka dari dalam kantin pun menghampirinya. "Sayang!" ucap Bian.
Arga langsung menoleh ke arah Bian. Ia ingat betul siapa pria itu. "Itu?" tanyanya.
"Iya, ini calon suami aku," jawab Ira, malu. Ia seperti gadis ABG yang sudah galau tapi tetap mau kembali pada pria yang telah menyakitinya.
Arga merasa seperti dejavu. Namun ia masih tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. 'Katanya dijodohin. Kenapa malah sama dia lagi? Terus selama ini dia kemana, kok tiba-tiba muncul?' batin Arga, heran.
"Apa kabar, Dok?" sapa Bian. Ia berusaha cool di hadapan Arga. Ia tidak mungkin tak menyapa Arga karena mereka memang saling mengenal.
"Kabar baik. Sudah lama tidak bertemu," ucap Arga. Secara tidak langsung ia menyindir Bian. Arga sedikit kesal karena Bian seperti orang tidak tahu malu, menurutnya.
"Biasalah, namanya juga 'anggota'. Ada misi khusus," jawab Bian, santai.
"Ooh, begitu. Kirain gak akan muncul lagi, hehe," canda Arga, dengan nada sedikit sinis.
"Gak mungkinlah, kan jodohnya ada di sini. Ke mana pun aku pergi, sejauh apa pun melangkah, pasti akan kembali ke 'rumah'," ucap Bian sambil merangkul Ira. Maksudnya Ira adalah rumahnya.
Arga tersenyum getir. "Syukurlah kalau begitu. Semoga acaranya lancar dan tidak melesat lagi, ya. Kalau begitu saya duluan," ucap Arga. Ia tidak nyaman berbincang terlalu lama dengan mereka.
"Oke, terima kasih," sahut Bian.
Saat Arga pergi, Ira menoleh ke arah Bian. Ia tersenyum sambil menatapnya.
"Why?" tanya Bian.
"Kamu keren, hehe," bisik Ira. Ia bangga karena kali ini Bian tidak seperti tempo hari.
"Baru sadar kalau calon suami kamu ini keren?" tanya Bian, bangga.
"Mulai deh, norak. Gak jadi ah kerennya," sahut Ira, sebal.
"Ehem!" Kiana yang sejak tadi menunggu di dalam pun berdehem.
Mereka berdua menoleh ke arah Kiana. "Eh, ada Kiki," ucap Ira.
"Tolong tangannya dikondisikan! Ingat ya, harus jaga jarak. Atau nanti aku laporin ke Bapak," ancam Kiana.
"Jangan gitu dong, Ki! Kamu mah gak asik, ah," keluh Bian.
"Ya, kecuali ada uang tutup mulutnya, hehehe," ucap Kiana sambil menaik turunkan alisnya.
Bian langsung tersenyum. "Bener nih?" tanyanya.
"Bener," jawab Kiana, yakin.
"Oke, kamu lagi pingin laptop, kan? Mas akan beliin kamu laptop, tapi dengan syarat kamu harus tutup mata dan telinga kalau kami lagi ketemu," pinta Bian.
"Emang kamu mau ngapain, Bi?" tanya Ira, heran.
"Mau kangen-kangenan sama kamu," bisik Bian.
"Oke deal!" sahut Kiana, cepat. Ia tidak berpikir panjang demi mendapat laptop.
"Sip! Gitu dong. Itu baru namanya adik yang baik," ucap Bian. Ia senang karena Kiana bisa diajak kerja sama.
"Bian! Kamu tuh kayak orang mau berbuat kriminal aja, deh!" tegur Ira.
"Bukan kriminal, cuma agak nakal dikit. Pegangan doang mah gak apa-apa, kan?" tanya Bian sambil mengedipkan matanya.
"Tapi aku gak yakin kamu bisa begitu. Nanti ujung-ujungnya suka ngelunjak," jawab Ira.
"Ya kan sebentar lagi juga kita mau nikah, Sayang. Paling ketemu cuma sebentar. Gak ada kesempetan buat aku macem-macem sama kamu. Bisa pegangan tangan atau sekadar peluk kamu aja aku udah seneng banget, kok," jelas Bian.
"Ya, semoga aja Papah aku gak lihat. Bahaya soalnya kalau dia lihat," ucap Ira.
Bian langsung celingukan. Meski begitu, ia tetap takut pada Muh.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah kembali ke auditorium tempat acara berlangsung. Namun, ternyata acara tersebut sudah selesai. Bian pun menghampiri papahnya yang sedang berbincang dengan Zein dan yang lain.
"Selamat ya, Prof!" ucap Bian sambil mengulurkan tangan.
Zein terkejut melihat Bian ada di sana. Namun ia menerima ucapan itu. "Iya, terima kasih," jawabnya.
Setelah itu Zein menatap Ira dengan tatapan bertanya-tanya. Menyadari hal itu, Muh pun berbisik pada Zein.
"Minggu ini mererka akan segera menikah," bisik Muh.
Zein sangat terkejut. Ia tahu betul bagaimana Bian menghilang. Zein pun ingat bagaimana setahun terakhir adiknya sangat murung. Sehingga ia heran mengapa Muh mengizinkan mereka untuk menikah.
"Kenapa bisa?" tanya Zein.
"Bian tidak salah. Mereka hanya salah paham. Papah sudah tahu semuanya. Tolong kamu support mereka, ya!" pinta Muh.
Mendengar penjelasan papahnya, Zein sudah tidak bisa bicara apa-apa lagi. Ia percaya bahwa papahnya tidak mungkin menjerumuskan adiknya tersebut.
***
Beberapa hari kemudian.
Setelah mengurus semua persiapan, termasuk mendaftarkan pernikahan ke KUA dan sidang pra nikah di kesatuan Bian, kini mereka pun akan melangsungkan pernikahan.
Semalaman Bian dan Ira tidak bisa tidur. Sebab ini merupakan momen yang mereka nanti-nanti sejak lama.
"Akhirnya anak mamah menikah juga," ucap Rani saat menghampiri Ira di kamarnya.
"Alhamdulillah, Mah. Terima kasih atas support dari Mamah dan papah, ya," sahut Ira.
"Iya, Sayang. Kami selalu menginginkan yang terbaik untuk kamu. Dan kebetulan itu pula yang kamu inginkan. Jadi kami pasti dukung," jelas Rani.
Tak lama kemudian, mereka mendapatkan info bahwa rombongan Bian sudah tiba di rumah.
"Calon mempelai pria sudah tiba, Bu," ucap tim MUA.
"Wah, kamu siap-siap ya, Ra. Mamah mau menyambut mereka dulu. Kamu tunggu di sini! Nanti kalau udah selesai ijab kabul, baru kamu keluar, ya!" pinta Rani.
"Iya, Mah," jawab Ira. Ia sudah diberikan penjelasan. Sehingga Ira tidak banyak bertanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Komandan Tampanku
RomanceIra yang merupakan seorang dokter dijodohkan dengan Bian yang merupakan komandan angkatan darat. Namun pertemuan pertama mereka kurang baik, sehingga Ira dan Bian saling membenci satu sama lain. Ira sengaja dikirim ke perbatasan oleh papahnya agar b...
