52. Berusaha Meyakinkan

10K 918 31
                                        

Bian cukup terkejut karena ternyata keluarga Ira bukan keluarga sembarangan. Ia tahu betul bahwa Muh adalah pemilik rumah sakit dan Zein merupakan dokter ternama.

Saat ini suasana di ruang tamu rumah Muh cukup menegangkan. Terutama bagi Bian, ia yakin Zein tidak akan merestui hubungannya dengan Ira. Namun ia yang sangat mencintai Ira itu tak ingin menyerah begitu saja.

Bian sudah tidak peduli meski Intan akan menjadi iparnya. Apalagi saat ini Bian sudah tidak memiliki perasaan sedikit pun untuk Intan. Sebab hatinya sudah berpaling pada Ira. Ia hanya merasa tidak nyaman jika bertemu dengan Intan.

"Apa hubungan kalian?" tanya Zein, terus terang. Ia memang tidak pernah bisa basa-basi.

"Mungkin lebih baik saya memperkenalkan diri dulu. Perkenalkan Om-Tante. Nama Saya Fabian Malik Adnan, saya merupakan seorang tentara yang bertugas di perbatasan. Mungkin Om sudah mengenal orang tua saya," ucap Bian.

Ia tahu bahwa ayahnya memiliki hubungan baik dengan Muh.

"Oya? Memang siapa orang tua kamu?" Muh balik bertanya.

"Irawan Yusuf Adnan," jawab Bian.

"Ooh, Jendral Irawan?" tanya Muh, pura-pura kaget.

"Masa Papah gak kenal? Aku aja tau," sahut Zein, kesal.

"Ya Papah memang berhubungan baik dengan Pak Irawan, tapi belum pernah bertemu dengan anaknya," sahut Muh.

"Saat ini saya menjalin hubungan dengan Putri Bapak. InsyaaAllah apabila tidak ada halangan, jika saya sudah bebas tugas, dua bulan lagi saya dan keluarga akan datang melamar Ira," jelas Bian, yakin.

Ia tidak ingin menundanya lagi. Bagi Bian, ini justru kesempatan baik untuk menyampaikan niat baiknya terhadap Ira.

Ira langsung menoleh ke arah Bian. Ia tak menyangka Bian akan seberani itu.

Sedangkan Zein sangat terkejut mendengar ucapan Bian.

"Mana bisa begitu?" tanya Zein, tegas.

"Memangnya kenapa tidak, Zein?" sahut Muh. Ia seolah tak berdosa. Muh tidak ingin Zein menghubungkan masalah Bian dan Ira dengan masa lalunya.

"Bisa kita bicara 4 mata?" tanya Zein. Ia tidak ingin berdebat di hadapan orang tuanya.

"Mau apa sih, Bang?" Ira balik bertanya. Ia tidak ingin Zein memaksa Bian untuk mundur.

"Abang hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Jika dia tidak punya niat jahat, kamu gak perlu takut!" sahut Zein.

"Untuk aku atau untuk Abang?" tanya Ira, kesal.

"Sudah! Kamu jangan berdebat!" ucap Bian, berusaha menenangkan Ira. "Mari!" ajak Bian. Ia terlihat sangat gentle.

Hal itu membuat Muh dan Rani semakin yakin untuk menjadikan Bian sebagai menantu mereka.

Zein berdiri dan mengajak Bian ke luar rumah.

"Apa maskud kamu mendekati adikku?" tanya Zein, terus terang.

"Karena saya cinta Ira," jawab Bian, jujur.

"Apa kamu yakin? Aku masih ingat betul bagaimana dulu kamu selalu mendekati istriku. Aku harap kamu tidak menjadikan Ira alat atas niat jahat kamu," tuduh Zein.

"Aku minta maaf jika Prof salah paham. Pertama, aku sama sekali tidak tahu bahwa Ira adalah adik Anda. Kedua, dulu aku berani mendekati Intan karena tidak tahu bahwa kalian sudah menikah," ucap Bian.

"Ketiga, hubungan kami tidak ada kaitannya dengan masa lalu. Bagiku, masa lalu sudah berakhir dan aku ingin mejalani masa depan dengan Ira," jelas Bian, tegas.

Komandan TampankuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang