Saat ini kondisinya jadi sedikit tegang. Sebab Bian merasa bersalah dan khawatir Ira berpikiran yang tidak baik tentangnya. Sementara Ira sedang risih karena sikap Bian.
Bian tidak tahu sebenarnya dulu Zein bukan menikungnya. Namun justru sebelum Bian mengenal Intan, Zein sudah lebih dulu dijodohkan dengan wanita yang ia incar itu.
Sehingga bisa dikatakan ketakutan Bian kali ini cukup berlebihan. Sebab Ira memang hanya berhubungan dengannya, tidak ada lelaki lain yang dekat dengannya.
Tak lama kemudian pelayan datang untuk membawakan pesanan mereka. “Silakan!” ucapnya.
“Terima kasih,” jawab Bian dan Ira.
Beruntung kondisi itu dapat mencairkan suasana yang tadi sempat menegang.
“Sayang, kamu mau coba ini, gak? Ini enak banget,” ucap Bian. Ia berusaha mengalihkan suasana yang canggung itu.
“Boleh,” jawab Ira.
Saat Ira hendak menyendok makanan Bian, Bian langsung menepisnya. “Biar sama aku aja, ya!” ucapnya. Kemudian Bian menyendok makanan itu dan menyuapkannya ke Ira.
“Nih, cobain!” ucap Bian sambil menyodorkan sendok berisi makanan itu.
Ira pun tersenyum dan menyuap makanannya. ‘Emang sih dia kayak anak kecil. Tapi masalahnya sikap dia selalu bikin aku berbunga-bunga. Meski nyebelin,’ batin Ira. Kemudian ia mengunyah makanan itu sambil tersenyum.
“Enak?” tanya Bian.
Ira mengangguk. “Enak! Kamu mau coba yang punya aku, gak?” tanya Ira.
Bian mengangguk. “A!” ucap Bian. Ia pun minta disuapi oleh Ira.
Ira terkekeh melihatnya.
“Kok ketawa?” tanya Bian sambil mengerutkan keningnya.
“Kamu tuh lucu! Kayak anak kecil, deh. Padahal kamu kan Komandan. Apa kata bos kamu kalau lihat ini?” ledek Ira. Meski begitu ia tetap menyuapi Bian.
“Kamu tau, gak?” tanya Bian.
“Tau apa?” Ira balik bertanya.
“Ketika lelaki bertemu dengan wanita yang tepat dan membuatnya nyaman. Maka lelaki itu akan menunjukkan sikap kekanakkannya,” ujar Bian sambil menatap Ira. Kemudian ia menyuap kembali makanannya.
Ira tak dapat berkata-kata. Ia hanya bisa tersenyum.
“Jadi kalau kamu merasa sikapku kekanakkan, itu artinya aku sudah sangat nyaman dengan kamu, Sayang,” lanjut Bian.
“Masa?” tanya Ira, malu-malu.
“Iya, kalau gak percaya tanya aja sama abang kamu! Kamu punya abang, kan?” Bian balik bertanya.
Uhuk! Uhuk!
Mendengar abangnya disebut Bian, Ira jadi tersedak. Ia terkejut sekaligus khawatir. Ira pun segera mengambil minum untuk mentralkan tenggorokkannya.
“Pelan-pelan dong makannya!” ucap Bian.
“Kamu kok tau aku punya abang?” tanya Ira.
“Gimana sih? Kamu kan sering bilang. Waktu teleponan juga ada abang kamu datang ke kamar. Lupa?” Bian heran.
“Ooh iya, hehehe.” Ira lega karena Bian hanya mengetahui sebatas itu. ‘Kirain tau dari mana. Udah kaget aja,’ batin Ira.
Ia khawatir jika Bian mengetahui bahwa Intan adalah kakak iparnya, dia akan mundur. Sehingga Ira ingin merahasiakannya sampai pertemuan keluarga nanti.
Beberapa saat kemudian mereka sudah selesai makan dan langsung pergi ke loket untuk membeli tiket.
“Bi, aku ke toilet dulu, ya,” ucap Ira saat hendak ke loket.
KAMU SEDANG MEMBACA
Komandan Tampanku
RomansaIra yang merupakan seorang dokter dijodohkan dengan Bian yang merupakan komandan angkatan darat. Namun pertemuan pertama mereka kurang baik, sehingga Ira dan Bian saling membenci satu sama lain. Ira sengaja dikirim ke perbatasan oleh papahnya agar b...
