Ditanya seperti itu oleh Ira, Bian pun salah tingkah. “Lho, maksud aku bukan begitu. Maksudnya aku tuh ... ah, iya. Salut sama dia. Aku bangga ada pribumi yang masih semangat belajar,” jelas Bian, gugup.
“Oooh, kirain kamu naksir sama anak kecil,” ledek Ira.
“Ya gak mungkinlah. Aku masih normal. Masa naksir sama anak kecil. Kalau sama kamu mungkin,” jawab Bian, kelepasan.
Ira terkesiap mendengarnya.
Bian pun terkejut saat menyadari ada yang salah dengan ucapannya. “Aku masuk dulu, ya. Kamu mau nunggu di mana?” tanyanya, berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Aku tunggu di dekat pos aja,” jawab Ira. Ia pun tidak ingin membahas hal itu lagi.
“Ya sudah, ayo!” ajak Bian. Mereka berjalan ke pintu masuk markas tersebut.
“Sore, Ndan!” sapa anak buah Bian yang sedang berjaga di pos.
“Sore! Tolong titip, ya!” jawab Bian sambil melirik ke arah Ira yang berdiri di dekat pos.
“Siap, Ndan! Tenang aja, dijamin aman!” jawab anak buah Bian sambil tersenyum. Mereka jadi berpikiran bahwa Ira adalah kekasih Bian. Sebab Bian bersikap seperti itu.
Bian tidak ingin berdebat. Sebab hari sudah mulai gelap. Ia bergegas masuk menuju kamarnya. Kemudian mengambil senjata untuk berjaga-jaga.
Setelah mengambil senjata, Bian pun bergegas kembali ke pos untuk pergi ke rumah Ira. Namun, ketika sedang berjalan, Bian melihat ada sepeda ontel yang memiliki boncengan.
“Apa aku pake sepeda aja, ya?” gumam Bian. Akhirnya ia pun mengambil sepeda itu dan membawanya.
Kring! Kring!
Bian menekan bel sepeda agar anak buahnya membukakan pintu gerbang.
Anak buah Bian pun berlari membuka pintu gerbang. Kemudian ia tersenyum dan bicara pada Bian. “Wih, biar lebih mesra ya, Ndan?” tanyanya.
“Kepo!” jawab Bian sambil mengayuh sepedanya.
“Semangat, Ndan!” Anak buah Bian semakin yakin bahwa mereka memang sudah berhubungan.
“Ayo!” ajak Bian.
Ira bingung karena Bian menggunakan sepeda. “Oh, iya,” jawabnya. Kemudian ia berjalan mendahului Bian.
Bian tersenyum melihat sikap Ira. “Gimana, sih?” gumamnya. Kemudian ia menyusul Ira. “Kamu ngapain jalan? Ayo naik!” ajak Bian.
Ira masih tercenung.
“Hari semakin gelap. Kalau jalan kaki kelamaan,” ucap Bian. Kemudian ia meraih tangan Ira dan menariknya agar duduk di boncengan sepeda itu.
“Pegangan, ya!” pinta Bian.
Ira pun memegang pinggang Bian. Kemudian Bian mulai mengayuh sepedanya.
“Emang gak berat?” tanya Ira. Ia khawatir Bian tidak kuat memboncengnya.
“Kalau berat, tinggal disuruh dorong,” canda Bian.
“Iih, dasar!” Ira pun malu jadinya. Padahal ia pikir Bian akan menggombal.
Sore itu mereka bersepeda dengan suasana langit senja yang berwarna gradasi jingga keunguan. Ditambah indahnya ilalang di samping jalan, membuat momennya jadi sangat romantis.
“Jalan di sini bagus juga, ya?” ucap Ira, memecah keheningan.
“Ya bagus, masa jalan di dekat markas dan perbatasan jelek?” sahut Bian.
“Bukan begitu. Soalnya waktu aku pertama datang ke sini, sopir yang ngantar itu bilang mobilnya gak bisa masuk sampe ke depan rumah. Jadi aku diturunin di jalan,” jawab Ira.
“Oya? Kok bisa?” Bian terkejut mendengarnya.
“Itu dia. Makanya waktu itu aku kesel banget. Kamu inget gak waktu aku nyeret-nyeret koper?” tanya Ira.
“Ooh, yang kamu marah-marah itu, ya?” ledek Bian.
“Iih, iya! Yang kamu jutek,” balas Ira.
“Hehehe, maaf. Waktu itu aku lagi ada masalah,” jawab Bian.
“Sama, aku juga. Makanya pas dijutekin jadi kesel. Orang aku nanya baik-baik.” Ira malah curhat.
Kebetulan waktu itu jalan di dekat Ira diturunkan memang jelek. Namun sebenarnya masih bisa dilalui kendaraan. Akan tetapi, jalan jeleknya hanya sedikit.
Selebihnya jalanan mulus meski hanya dari tanah. Namun tanahnya cukup padat. Sehingga jika hujan tidak akan berlumpur. Berbeda dengan jalanan di dekat markas yang sudah diaspal.
“Eh maaf, malah jadi curhat, kan. Ya pokoknya waktu itu aku ditipu sama sopir. Padahal aku bayar mahal. Tapi dia malah kayak gitu. Kan lumayan juga jalan dari ujung belokan sana sampai ke klinik,” keluh Ira, kesal.
“Kamu inget gak nama sopirnya?” tanya Bian.
“Yah, mana aku inget. Kan aku gak kenalan sama dia,” jawab Ira, polos.
“Iya juga, ya. Kalau mukanya?” tanya Bian lagi.
“Mukanya juga lupa-lupa inget. Emang kenapa?”
“Gak apa-apa. Nanti kalau ketemu bisa kita kerjain kalau dia ingat. Biar kapok, hehe.”
“Hehe, aku gak yakin masih inget,” jawab Ira. Ia memang tidak terlalu memperhatikan wajah sopir. Sebab Ira duduk di belakang. Meski begitu ia sempat melihat wajahnya.
“Pemandangan di sini indah banget, ya? Kayaknya di Jakarta gak akan ada kayak gini, deh,” ucap Ira.
Ia merasa pemandangan yang sedang ia lihat saat ini seperti lukisan.
“Iya, ini salah satu yang bikin aku betah di sini. Meski jauh dari mana-mana, tapi aku merasa seperti healing setiap hari,” jawab Bian, jujur.
“Iya juga, ya. Di sini gak ada gedung tinggi. Adanya cuma pemandangan indah,” ucap Ira.
“Jadi kamu betah di sini?” tanya Bian.
“Enggak!” sahut Ira, cepat. Ia sangat jujur. Sehingga beberapa detik kemudian mereka pun tertawa.
“Hahaha, emang jarang banget ada yang betah di sini. Kalaupun ada, gak mungkin minat tinggal di sini selamanya,” ucap Bian.
“Ya iyalah. Siapa sih yang betah tinggal di tempat terpencil? Kecuali emang warga asli sini. Itu pun karena mereka belum terkontaminasi oleh glamour-nya kota, kan?”
“Begitulah. Lebih baik seperti itu. Jadi mereka bisa tetap tinggal di sini dengan nyaman.”
“Iya, kalau semua pindah ke kota, bisa-bisa kampung ini kosong, hehehe.”
“Tapi warga sini tuh unik-unik, ya,” ucap Ira.
“Unik kenapa?” tanya Bian.
“Unik aja. Jujur, aku sering dibikin pusing sama mereka. Soalnya mereka kalau ngejelasin keluhan itu pakai bahasa mereka sendiri. Untung ada suster yang paham. Udah gitu, kadang mereka tuh ngeyel. Jadi bikin gemes, deh,” keluh Ira.
“Ya begitulah. Tapi itu belum seberapa,” ucap Bian sambil tersenyum.
“Maksudnya gimana?” tanya Ira.
“Biasanya ada yang lebih amazing lagi dari sekadar penjelasan beda bahasa. Nanti kamu bakal ngerasain!”
“Apa, tuh?” Ira sangat penasaran dengan penjelasan Bian yang tidak jelas itu.
***
Mafia up siang ini, ya. Maaf kemarin aku sibuk, hehe.
See u,
JM.
KAMU SEDANG MEMBACA
Komandan Tampanku
RomanceIra yang merupakan seorang dokter dijodohkan dengan Bian yang merupakan komandan angkatan darat. Namun pertemuan pertama mereka kurang baik, sehingga Ira dan Bian saling membenci satu sama lain. Ira sengaja dikirim ke perbatasan oleh papahnya agar b...
