Ira pura-pura sibuk membaca buku saat Bian datang ke rumahnya.
“Assalamu alaikum,” ucap Bian ketika memasuki halaman rumah Ira.
Ira pura-pura baru tahu ada Bian datang. “Waalaikum salam,” jawabnya. Kemudian ia melipat buku itu dan beranjak, menghampiri Bian.
Meski pintu rumah Ira tertutup, tetapi Bian masih dapat melihat apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu. Sebab kaca jendela rumah dinas Ira cukup besar. Apalagi dalam rumahnya terang dan Ira belum menutup tirainya.
Ceklek!
Ira membuka pintu rumah itu. “Eh, udah datang?” ucapnya basa-basi.
“Kamu belum tidur?” tanya Bian.
“Belum ngantuk. Aku gak biasa tidur sore,” jawab Ira.
“Oh ....”
Berada dalam kondisi seperti itu, mereka berdua sama-sama canggung.
“Kamu mau ngopi, gak?” tanya Ira.
“Heuh? B-boleh. Tapi apa gak merepotkan?” Bian balik bertanya.
“Enggak, kok. Anggap aja ini ucapan terima kasih karena kamu udah nolong aku. Ditambah sekarang kamu mau jagain rumah aku. Cuma secangkir kopi, sebenarnya belum cukup untuk membalas kebaikanmu,” jelas Ira.
“Terus kamu mau balas pakai apa?” tanya Bian sambil tersenyum.
Ditanya seperti itu, Ira pun bingung. “Hah?”
“Hehehe, bercanda, kok. Jangan diambil hati!” ucap Bian. Kemudian ia duduk di kursi lipat yang ada di tendanya.
“Ooh, kirain, hehe. Ya udah aku bikinin kopinya dulu, ya?” sahut Ira. Ia pun masuk ke rumahnya, untuk membuatkan kopi.
“Kenapa aku jadi berasa lagi ngapel, ya?” gumam Bian sambil menggaruk kepalanya. Ia merasa apa yang sedang dilakukan saat ini sedikit konyol. Sebab dirinya hanya menjaga Ira sendirian.
“Yah, mau gimana lagi. Namanya juga tugas negara. Menjaga keamanan warga sipil, sudah tanggung jawab aku,” gumam Bian. Padahal ia senang melakukan hal itu.
Beberapa saat kemudian, Ira keluar sambil membawa secangkir kopi. “Ini kopinya,” ucap Ira. Namun di tenda Bian tidak ada meja. Sehingga Ira menawarkan agar Bian menikmati kopinya di meja yang ada di teras rumahnya itu.
“Gimana kalau ngopinya di sana aja?” tanya Ira.
Bian menoleh ke arah teras. “Oh, boleh,” jawabnya. Mereka pun berjalan ke arah teras dan menikmati kopi sambil duduk di sana.
Saat Bian duduk, Ira bingung hendak masuk atau menemaninya. ‘Kalau masuk, kayaknya kurang sopan, ya? Tapi kalau aku temenin, apa gak aneh?’ batin Ira.
Bian dapat merasakan kegelisahan Ira. “Kalau mau duduk, duduk aja!” ucapnya. Ia pun memang ingin berbincang dengan Ira lebih dulu. Apalagi ini adalah malam pertama Bian berjaga di sana.
“Eh iya,” sahut Ira. Ia malu karena ketahuan oleh Bian. Akhirnya ia pun duduk di kursi yang ada di sebelah meja.
“Selama kamu tinggal di sini, apa ada sesuatu yang mencurigakan?” tanya Bian. Ia membuka obrolan dengan membahas hal yang berhubungan dengan apa yang sedang Bian kerjakan saat ini.
“Enggak ada, sih. Tapi emang di sini sepi banget. Kenapa ya rumah dinasnya agak jauh dari keramaian?” keluh Ira.
Sebenarnya rumah itu berjajar dengan beberapa rumah dinas lainnya. Namun saat ini hanya rumah Ira yang terisi. Sehingga kondisi di sana sangatlah sepi. Apalagi di seberang rumah dinas Ira hanya ada kebun.
“Iya, mungkin memang tanah pemerintah adanya di sini. Biasanya sih kalau rumah yang lain terisi, gak akan terlalu sepi. Tapi memang rumah-rumah itu hanya terisi jika ada peneliti yang sedang datang ke sini untuk konservasi,” jelas Bian.
“Ooh, begitu. Pantesan agak horor, hehe. Jujur aja, kalau bisa pindah, aku pingin pindah ke yang lebih ramai,” jawab Ira, jujur.
“Sayangnya gak bisa, hehe,” sahut Bian.
“Kamu udah lama dinas di sini?” tanya Ira.
“Lumayan, udah beberapa tahun. Tapi harusnya sih ini tahun terakhir,” jawab Bian.
“Ooh, berarti sudah hafal dengan situasi di sini, ya?”
“Begitulah kira-kira. Makanya sekarang aku jaga di sini. Soalnya mereka itu pendendam. Padahal mereka yang salah, tapi jika tahu tawanannya kabur, pasti mereka akan mencarinya lagi,” jelas Bian.
“Thanks ya, maaf aku jadi ngerepotin kamu terus,” ucap Ira. Ia tidak enak hati karena membuat Bian sampai harus berjaga di rumahnya seperti itu.
“Kamu minta maaf terus. Nanti aja minta maafnya pas lebaran!” ucap Bian sambil tersenyum.
“Hehehe, bisa aja.”
“Eh, tapi sebelumnya kita pernah ketemu gak, sih?” tanya Bian. Ia memancing Ira untuk membahas masalah momen lempar bunga itu.
Ira mengerutkan keningnya. “Kayaknya sih enggak, ya? Perasaan pertama kali ketemu itu pas kamu jutek banget. Padahal aku nanya baik-baik,” jawab Ira.
Ia sama sekali tidak sadar bahwa Bian yang telah melempar bunga ke arahnya.
“Hehehe, kamu masih inget aja. Tapi waktu itu kamu gak kalah jutek, lho. Aku sampe kaget,” ucap Bian, jujur.
“Kaget kenapa? Gak nyangka ya, dikira kamu aja yang bisa jutek?” ledek Ira.
Bian tersenyum. “Bukan begitu. Aku kan cuma jutek dikit, tapi kamu malah marah-marah gak jelas. Sampe bilang aku ‘keparat’ segala.” Bian merasa sangat konyol jika mengingat kejadian itu.
“Hehehe, maaf. Namanya juga lagi kesel. Lagian kamu, gak ada angin gak ada ujan, malah marah. Apalagi pas aku ngobatin kamu. Bukan bilang terima kasih, malah ngusir aku. Gak jelas banget.”
Akhirnya mereka bernostalgia.
“Sebenarnya waktu itu aku kaget. Buka mata, lihat ada kamu di samping aku. Jadi gitu reaksinya. Tapi sekali lagi terima kasih, ya. Kamu udah mau ngobatin aku. Padahal waktu itu hubungan kita lagi kurang baik.”
“Ya, sebagai dokter, itu udah kewajiban aku. Gak mungkin aku diem aja lihat orang sekarat begitu. Meskipun dia musuh aku. Mungkin sama dengan kamu yang menyelamatkanku kemarin. Pasti kamu juga ngelakuin itu karena kewajiban, kan?” tebak Ira.
“Oh iya. Ya, selain kewajiban, juga ada rasa kemanusiaan. Mana mungkin aku diam aja lihat kamu diculik begitu. Kalau sampai telat bertindak, bisa berakibat fatal,” jelas Bian.
Ia sudah beberapa kali menghadapi kasus penculikan. Namun biasanya orang yang diculik tidak selamat. Sehingga Bian merasa sangat bersyukur karena bisa menyelamatkan Ira, tepat waktu.
Saat mereka sedang berbincang, ponsel outdoor milik Ira berdering.
“Sebentar, ya!” ucap Ira. Kemudian ia menjawab panggilan tersebut. Kebetulan saat itu ponselnya memang sedang ia kantongi.
“Iya, Pah,” ucap Ira, pada Muh yang ada di seberang telepon.
“Kamu lagi apa, Ra?” tanya Muh.
“Lagi santai aja nih, Pah. Kenapa?”
“Gak apa-apa. Cuma dari kemarin perasaan Papah gak enak. Kamu baik-baik aja kan, Ra?” tanya Muh lagi.
“Aku ... aku baik kok, Pah. Udah Papah tenang aja! Aku aman di sini,” jawab Ira, kikuk. Ia tidak ingin papahnya khawatir. Sehingga Ira tidak menjelaskan kejadian yang ia alami kemarin.
Bian menoleh. Ia dapat menebak apa yang sedang Ira bicarakan dengan papahnya itu.
“Syukurlah kalau begitu. Kalau ada apa-apa, kamu harus segera kabari Papah, ya!”
“Siap, Pah!” sahut Ira, dengan semangat.
“Oh iya, Papah sekalian mau info. Beberapa minggu lagi Zein dan Intan akan mengadakan resepsi. Apa kamu bisa datang?” tanya Muh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Komandan Tampanku
Storie d'AmoreIra yang merupakan seorang dokter dijodohkan dengan Bian yang merupakan komandan angkatan darat. Namun pertemuan pertama mereka kurang baik, sehingga Ira dan Bian saling membenci satu sama lain. Ira sengaja dikirim ke perbatasan oleh papahnya agar b...
