"Kebetulan aku masih ada cuti, Pah. Jadi kalau Papah mengizinkan, kami akan pergi bulan madu," jawab Bian, malu-malu.
Muh tersenyum. "Oh, silakan! Namanya pengantin baru pasti butuh bulan madu, kan. Pergi saja ke mana pun kalian mau, selama itu aman!" ucap Muh. Meski begitu ia tidak ingin membuat menantunya semakin malu.
"InsyaaAllah untuk saat ini kondisi masih aman, Pah. Semua penjahat yang bermasalah pun sudah ditangkap. Jadi aku berani ngajak Ira pergi bulan madu," jelas Bian.
"Syukurlah kalau begitu. Tapi papah dengar kasus kemarin itu ada hubungannya sama pejabat negara, ya?" tanya Muh.
"Iya, Pah. Makanya misi itu sangat rahasia dan aku baru bisa cerita ke Papah setelah semuanya clear," jelas Bian.
"Ya sudah, yang penting sekarang sudah beres. Semoga kedepannya tidak ada lagi hal seperti itu."
"Memang masalahnya apa, Bi?" tanya Zein, kepo.
"Penyelundupan barang dan human trafficing, Bang," jawab Bian.
"Astaghfirullah ... masih ada saja orang seperti itu, ya?" Zein tidak habis pikir mengapa bisa ada orang-orang yang tega melakukan hal seperti itu.
"Begitulah, Bang. Gak heran, sih. Sekarang kan banyak organ tubuh yang diperjualbelikan secara ilegal. Terkadang orang yang punya uang egois, ingin tetap hidup tanpa memikirkan nyawa orang lain. Jadi asal beli organ meski tidak legal," jelas Bian.
"Ya Tuhan, aku sebagai dokter jadi merasa bersalah. Tapi selama ini aku selalu meminta legalitas setiap organ yang akan dicangkok ke tubuh pasien. Biasanya organ tersebut memang diambil dari jenazah yang baru meninggal. Itu pun atas persetujuan pihak keluarga."
"Bahkan beberapa orang memang sudah berniat mendonorkan organnya saat dia masih hidup. Jadi ketika dia meninggal, tim medis sudah mendapat izin untuk mengambil organnya agar bisa diberikan ke pasien yang membutuhkan," jelas Zein.
"Justru karena itu, antara supply and demand tidak seimbang. Jadilah mereka mengambil jalan pintas dengan cara ilegal. Tentu saja itu dijadikan ladang bisnis bagi mafia," jelas Bian.
"Jadi berita yang sempat ramai di televisi itu kamu yang menangkap mereka, Bi?" tanya Zein.
"Iya, Bang," sahut Bian.
"Lalu kenapa mereka tidak mengatakan bahwa kamu pahlawannya?" Zein bingung.
"Identitas kami itu sama dengan nyawa kami, Bang. Jadi harus dijaga sebaik mungkin. Sebab kami tidak tahu kapan akan menghadapi situasi berbahaya lagi," jelas Bian.
Zein manggut-manggut.
"Wah-wah ... ini the real pahlawan tanpa tanda jasa. Padahal kalian yang berjuang tapi kalian tidak butuh pujian."
"Untuk apa pujian sesaat jika nyawa kami jadi taruhannya, Bang? Kurang lebih samalah dengan intel. Seberapa keras usaha mereka untuk menangkap penjahat, tapi identitasnya tidak akan terungkap. Meski hanya nama," jelas Bian.
"Kalau bahas masalah ini, aku merasa seperti orang bodoh," ucap Zein sambil tersenyum.
"Pun sebaliknya. Kalau bahas masalah kesehatan, aku gak tau apa-apa, hehe," ujar Bian.
"Oh iya, Pah. Satu lagi, rencananya setelah bulan madu nanti aku mau ngajak Ira pindah ke rumahku. Semoga Papah mengizinkan," ucap Bian.
"Oh iya, silakan! Kalian kan sudah menikah, Papah tidak bisa mengekang Ira lagi," ucap Muh.
"Alhamdulillah, terima kasih, Pah," ujar Bian. Ia senang karena mertuanya itu cukup pengertian.
"Tapi kalau misalnya nanti kamu ada pergi dinas ke luar kota atau apa, biar Ira nginep di sini aja ya, Bi? Kasihan dia kalau di rumah sendirian," pinta Muh.
"Siap, Pah! Nanti aku yang antar Ira ke sini kalau memang mau dinas ke luar kota," sahut Bian, yakin.
"Syukurlah kalau begitu. Pesan Papah, kalian hiduplah yang rukun! Berusaha saling memahami satu sama lain. Sebab menikah itu bukan untuk mendapatkan yang sempurna, tetapi untuk menyempurnakan hidup kalian dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing," jelas Muh.
"Siap, Pah! Aku akan selalu berusaha mengerti Ira," jawab Bian.
"Ira itu anaknya mandiri. Tapi dia sangat perhatian. Jadi tolong jangan pernah sekali pun kamu sakiti dia!"
"Siap, Pah!" Bian sudah biasa seperti itu jika diberi arahan oleh atasannya. Sehingga ia terbawa sampai ke kehidupan pribadinya.
"Papah percaya kamu bisa membahagiakan Ira. Satu lagi. Kalau sekiranya kamu merasa jenuh dengan hubunganmu atau kamu menyukai wanita lain, jangan pernah duakan anak Papah! Bilang sama Papah, biar nanti kami yang jemput Ira!" ucap Muh.
Ucapan Muh itu terdengar seperti ancaman bagi Bian.
"Papah jangan bicara seperti itu. Aku tidak mungkin melakukannya. Aku sudah berjanji akan menjalani sisa hidupku hanya bersama Ira," ucap Bian, yakin.
"Kita lihat saja nanti. Semoga kamu bisa memegang ucapanmu," sahut Muh sambil merangkul bahu Bian.
"Udah siang, kalau begitu aku jalan dulu deh, Pah. Siang ini mau ada operasi," ucap Zein.
"Kamu udah jadi direktur masih operasi aja, Zein?" tanya Muh.
"Ya kan itu pasien lama aku, Pah. Lagian pelantikannya juga belum lama. Tapi sebelum ada yang bisa menggantikan posisi aku, mungkin aku akan tetap turun tangan untuk hal itu," jelas Zein.
"Kamu ini! Kasihan anak istrimu kalau kamu terlalu sibuk," tegur Muh.
"Tenang, Intan kan ada di rumah sakit juga. Kalau Aydin, aku bisa menghabiskan waktu dengannya ketika di rumah," jawab Zein.
"Ya sudah, hati-hati! Oh iya, Aydin biar di sini saja! Papah masih mau main sama dia," ucap Muh.
"Siap, Pah," jawab Zein dengan ekspresi meledek Bian. Ia sengaja meniru ucapan Bian.
Bian pun tersenyum. Ia tak menyangka sikap Zein akan berubah baik padanya.
"Kalau begitu kamu istirahat aja dulu, Bi! Pasti capek, kan," ucap Muh.
"Enggak kok, Pah," sahut Bian, malu-malu.
"Halah! Papah ini kan udah pengalaman. Ya udah sana! Gak usah sungkan. Papah juga mau main sama Aydin dulu," ucap Muh. Kemudian ia bangkit dan mencari cucunya.
'Alhamdulillah, punya mertua pengertian banget, hehehe,' batin Bian. Akhirnya ia pun menuju ke kamar untuk 'istirahat' bersama Ira.
Sementara itu, Zein dan Intan sudah pergi meninggalkan rumah Muh. "Nanti sore kamu pulang jam berapa, Mas?" tanya Intan.
Saat ini Intan sudah resmi menjadi dokter.
"Pulang normal, Sayang. Nanti kita pulang bareng, ya," sahut Zein, sambil menggenggam tangan Intan.
"Oke, nanti aku ke ruangan kamu," jawab Intan.
"Sayang!" panggil Zein, mesra.
"Yah?" tanya Intan sambil menoleh ke arah Zein.
"Sejak Aydin lahir, kita belum ada quality time berdua, deh," ucap Zein, genit. Ia sedang memberi kode pada istrinya itu.
Intan mengerutkan keningnya. "Maksudnya?" Ia pura-pura tidak paham. Padahal ia tahu ke mana arah pembicaraan Zein.
"Maksudnya, kapan kita bisa nginep di hotel berdua? Biar kalau lagi ehem gak ada yang ganggu," rengek Zein, nakal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Komandan Tampanku
RomanceIra yang merupakan seorang dokter dijodohkan dengan Bian yang merupakan komandan angkatan darat. Namun pertemuan pertama mereka kurang baik, sehingga Ira dan Bian saling membenci satu sama lain. Ira sengaja dikirim ke perbatasan oleh papahnya agar b...
