16. Mulai Ada Rasa

15.8K 1K 57
                                        

“Yah, Papah kan tau aku gak bisa pulang kalau gak ada yang gantiin,” keluh Ira.

“Iya juga, ya. Tapi kalau kamu gak datang, gak apa-ap?” tanya Muh.

“Ya gak apa-apa, sih. Kan yang mau resepsi Abang, bukan aku. Ada atau gak ada aku juga pasti tetap berjalan. Namanya lagi tugas, mau gimana lagi,” jawab Ira.

Meski sebenarnya Ira ingin menghadiri acara kakaknya. Namun ia cukup profesional. Sehingga tidak memaksakan diri untuk pergi.

“Ya sudah kalau begitu. Pokoknya kalau kamu bisa pulang, pulang aja, ya!” pinta Muh.

“Siap, Pah!” jawab Ira, semangat.

“Kamu kok kayaknya seneng banget, sih?” tanya Muh. Ia heran karena anaknya begitu bersemangat. Padahal waktu berangkat, Ira sempat mengeluh.

“Itu cuma perasaan Papah aja, kali. Ya udah, udah dulu ya, Pah. Bye!” jawab Ira. Kemudian ia memutus sambungan teleponnya. Ia khawatir papahnya itu semakin bertanya-tanya.

Bian dapat mendengar apa yang Ira katakan. Namun ia tidak tahu apa yang dikatakan oleh papahnya Ira. Sampai saat ini, Bian pun belum tahu bahwa Ira adalah anak Muh.

“Kamu ada acara?” tanya Bian.

“Euh, iya. Ini kakak aku mau ada resepsi. Nikahnya sih udah lama,” jawab Ira. Ia tidak menyebutkan nama Zein. Ia pun lupa bahwa Bian sempat tertarik pada Intan.

“Ooh, begitulah tugas di tempat jauh seperti ini. Harus sering ikhlas karena melewatkan acara penting,” jawab Bian.

“Iya, ya. Aku aja baru beberapa hari. Apalagi kamu yang udah lama,” ucap Ira.

“Begitulah. Yang penting aku bisa hadir pas acara pernikahanku nanti, hehe,” canda Bian.

“Ya iyalah. Masa pengantinnya gak hadir. Ya kali nikah virtual,” sahut Ira, gemas. Ia pun terkekeh dibuatnya.

“Eh jangan salah! Ada lho orang yang nikahan virtual,” ucap Bian.

“Oya?”

Mereka pun asik berbincang sampai lupa waktu. Setelah beberapa jam, Ira mulai menguap.

“Kalau ngantuk, masuk aja! Udah malem juga, besok kan harus kerja lagi,” ucap Bian saat melihat Ira menguap.

“Hehehe, iya nih. Ya udah aku masuk dulu, ya. Kamu hati-hati di luar,” ucap Ira.

“Iya,” jawab Bian sambil berdiri.

“Oh iya, kamu mau ke toilet dulu, gak? Mumpung pintunya belum aku kunci,” tawar Ira.

“Boleh, deh,” jawab Bian lagi.

“Ya udah, silakan!” Ira pun minggir agar Bian bisa lewat.

“Permisi!” ucap Bian. Kemudian ia masuk ke rumah Ira.

Ira menunggu Bian di ruang tamu. Sebab, ia takut jika berada di luar sendirian.

Tak lama kemudian Bian pun keluar.

“Udah selesai?” tanya Ira basa-basi.

“Udah. Thanks, ya,” sahut Bian.

“Oke, kalau begitu aku kunci pintunya, ya?”

“Iya,” sahut Bian kikuk.

Saat ini mereka sama-sama canggung. Sebab mereka masih belum mau berpisah.

“Good night,” ucap Ira sambil menutup pintu.

“Night,” jawab Bian. Ia pun berjalan pelan ke arah tendanya.

Setelah menutup pintu, tak lupa Ira menutup tirai jendela. Kemudian ia mengintip sebentar. Memastikan bahwa Bian sudah masuk ke tendanya.

Ia pun tersenyum. “Bisa gitu, ya? Pertama datang ke sini, gue kayak tom and jerry sama dia. Kenapa sekarang malah jadi akrab?” gumam Ira, sambil berjalan masuk ke kamarnya.

Setelah sama-sama merebahkan tubuhnya di tempat tidur masing-masing. Mereka tidak bisa langsung terlelap.

“Ternyata dia baik juga, ya? Asik lagi diajak ngobrolnya. Suka bercanda. Aku kirain sombong dan jutek,” gumam Ira sambil tersenyum. Ia berguling-guling di tempat tidurnya sendiri.

“Kalau dilihat dari sosmednya sih kayaknya dia belum punya pacara. Apalagi suami. Lagian kakaknya aja baru nikah, kan? Berarti aman,” ucap Bian. Ia pun merasakan hal yang sama dengan Ira.

Mereka yang sudah mengantuk pun lama-lama akhirnya terlelap. Hingga tak terasa waktu sudah pagi.

Mereka terbangun karena alarm ponsel Ira berbunyi.

“Alhamdulillah,” ucap Bian dan Ira. Kemudian Ira pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu ia melaksanakan shalat subuh.

Pun demikian dengan Bian. Ia berwudhu menggunakan air galon. Beruntung ada dispenser portable. Sehingga Bian tidak perlu repot menuangkan airnya lebih dulu.

Selesai sahalat, Ira membuka pintu rumahnya. Ia tidak enak hati jika rumahnya tertutup terus karena Bian ada di sana.

“Pagi!” ucap Bian saat Ira membuka pintu rumahnya. Ia senang pagi-pagi sudah bisa melihat Ira.

“Eh, udah bangun? Pagi juga,” sahut Ira. Ia pun bersemangat karena melihat Bian.

Padahal biasanya Ira lesu karena benar-benar sendirian di sana. Berbeda dengan saat ini, ada Bian yang menjadi imune booster-nya.

“Belum. Ini masih tidur,” canda Bian.

“Hehehe, bisa aja! Kamu mau minum teh atau kopi?” tawar Ira.

“Gak usah! Tadi udah bikin,” jawab Bian. Ia membawa kompor kecil. Sehingga bisa menyiapkan kopi sendiri.

Sebenarnya bisa saja ia langsung pulang saat hari sudah pagi. Namun rasanya Bian masih betah di sana.

“Oh, ya udah kalau begitu.” Akhirnya dengan berat hati Ira pun masuk ke rumahnya lagi.

Saat Ira sedang bersiap, Bian menunggunya sambil menikmati secangkir kopi susu.

“Kok berasa kayak punya istri, ya? Bangun tidur udah ada yang nawarin kopi, hehe,” gumam Bian sambil senyum-senyum sendiri.

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya karena pikirannya sudah ke mana-mana.

Beberapa saat kemudian, Ira keluar rumah dengan penampilan yang rapih. Ia siap untuk pergi bekerja.

“Mau jalan sekarang?” tanya Bian.

“Iya, kan jalannya lumayan. Biar gak kesiangan. Sambil olah raga pagi,” jawab Ira.

“Ya udah, kalau begitu bareng aja! Aku juga mau balik ke markas,” jawab Bian.

“Ayo!”

Mereka berdua meninggalkan rumah itu. Tak lupa Bian dan Ira mengunci ‘rumah’ masing-masing.

“Gimana semalem, bisa tidur, gak?” tanya Ira.

“Alhamdulillah, bisa. Meskipun banyak nyamuk, hehe,” jawab Bian.

“Duh, sorry, ya. Aku jadi gak enak, kamu kesusahan gini gara-gara aku,” ucap Ira. Ia menyesal karena telah membuat Bian kesusahan.

“Udah santai aja!” jawab Bian.

“Iya, aku gak enak aja. Aku tidur nyaman di kamar, sedangkan kamu harus tidur di tenda begitu,” ucap Ira.

“Ya, kalau kamu mau ngajak aku tidur di kamar juga gak apa-apa, sih,” sahut Bian, kelepasan.

Komandan TampankuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang