Ira memalingkan wajah. Ia tak berani menatap punggung Bian terus karena khawatir khilaf.
‘Sadar, Ira! Jangan sampe khilaf. Jangan malu-maluin,’ batin Ira sambil komat-kamit.
Saat seperti itu, ternyata Bian sudah selesai mencuci piring. Bahkan ia berdiri tepat di samping Ira.
“Kenapa?” tanyanya tanpa dosa.
Deg!
Ira refleks menoleh dan ternyata Bian sudah ada di hadapannya. “Astaghfirullah!” pekik Ira. Ia sangat terkejut karena Ira pikir Bian masih berada di tempat cuci piring.
Ira yang terkejut pun langsung mundur, hingga ia hampir terjatuh. Beruntung Bian yang merupakan seorang tentara itu sigap menangkap Ira dan menariknya.
Set!
Buk!
Ira pun langsung mendarat di dada Bian yang sedang berdiri tegak itu. Tanpa sengaja posisi mereka saat ini sedang berpelukan.
“Hati-hati!” ucap Bian. Ia dapat merasakan debaran dada Ira yang cukup kendang.
“I-iyah,” jawab Ira, lemas. Ia seperti orang yang sedang dihipnotis. Melihat Bian dari dekat seperti itu, rasanya jantung Ira seperti hampir meledak.
Bian pun jadi salah tingkah karena ditatap oleh Ira. Apalagi gadis itu belum melepaskan pelukannya. Hingga akhirnya beberapa detik kemudian mereka tersadar dan saling membubarkan diri.
“Euu, ya udah kalau begitu selamat istirahat,” ucap Bian, salah tingkah.
“Iya, kamu juga,” jawab Ira. Ia langsung masuk kamar.
Bian pun meninggalkan rumah Ira dan menutup pintunya dari luar. Ira yang baru menyadari hal itu pun akhirnya keluar dari kamar untuk mengunci pintu.
“Iiih, apaan sih? Kenapa jadi salting gitu, coba?” gumam Ira. Ia jadi malu sendiri karena sikapnya barusan.
“Kenapa aku jadi grogi begini, sih? Padahal harusnya biasa aja biar kelihatan cool,” gumam Bian. Ia pun menyesal karena tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Akhirnya mereka sama-sama tidak bisa tidur.
“Ini kan masih sore, baru abis makan pula,” gumam Bian, sambil duduk di kursi lipat yang ada di teras tendanya.
Ia menatap ke rumah Ira, kemudian menghayal. ‘Kalau udah nikah, enak kali ya. Bisa tidur bareng di kamar itu,’ batin Bian sambil tersenyum.
“Astaga!” Bian menyadarkan dirinya sendiri. “Mikir apa aku ini?” keluhnya. Ia malu karena telah berpikir yang tidak-tidak.
Sementara itu, Ira yang ada di dalam pun sama seperti Bian. Ia tidak bisa tidur.
“Kalau aku keluar, kan jadinya gak lucu. Tapi kalau cuma diem di dalem gini juga gak bakalan bisa tidur. Gimana dong? Hiks,” keluh Ira.
Ia sedang jungkir balik di atas tempat tidurnya. “Ya ampun, kenapa jadi deg-degan begini, sih? Kira-kira tadi dia sadar gak ya kalau aku grogi? Terus muka aku kelihatan merah gak, ya?” Ira jadi panik sendiri.
“Huuh! Ira ... lo kenapa jadi norak begini, sih? Biasanya juga kalau ketemu cowok, biasa aja. Tapi sekarang kenapa malah gak bisa ngendaliin diri? Aneh banget,” gumam Ira. Ia malu pada dirinya sendiri.
“Tapi emang badan dia tuh bagus banget. Ya namanya juga tentara, ya. Mana tinggi, bahunya bidang, terus punggungnya lebar. Pelukable banget, huhuhu.” Ira semakin berguling-guling di tempat tidur.
“Tapi kayaknya dia gak ngerokok, deh. Soalnya tadi kok bibirnya seksi terus warnanya agak merah gitu, ya?” gumam ira sambil menggigit bibir bawahnya. Ia membayangkan bagaimana rasanya bibir Komandan tersebut.
“Astaga! Sadar Ira, sadar! Kayaknya gue kesambet setan di tengah hutan, deh. Gak banget. Ini bukan gue!” Lagi-lagi ia berusaha menyadarkan dirinya sendiri.
Di luar, Bian lebih memilih untuk berolah raga agar pikirannya teralihkan. Ia memang selalu seperti itu. Dulu, ketika dirinya sakit hati karena ditikung Zein pun olah raga sampai lupa waktu.
Bian berlari-lari kecil, kemudian ia push up, lalu melakukan peregangan otot dan lainnya. “Bahaya ini bahaya!” gumam Bian. Ia khawatir karena otaknya terus berkelana.
Bian pun tak sadar ada yang mengintip dari dalam. “Dia lagi ngapain, sih?” gumam Ira. Ia heran karena Bian olah raga di malam hari seperti itu.
“Apa dia udah biasa begitu, ya? Dulu waktu gue baru datang ke sini pun dia olah raga gila-gilaan sampe dehidrasi. Kok aneh banget, sih?” gumam Ira, heran.
Ia tidak habis pikir mengapa Bian seperti itu. Seandainya Ira tahu alasan Bian, ia pasti akan sangat malu. Sebab dirinyalah yang menjadi penyebab Bian berolah raga kali ini.
Keesokan harinya, Ira berangkat ke klinik seperti Biasa.
Sebelum Ira keluar rumah, Bian pun sudah mulai salah tingkah. Ia mencuci wajah menggunakan air galon yang tersedia, kemudian menyikat gigi dan memastikan bahwa wajahnya sudah bersih.
“Oke, semoga tidak ada yang terlewat,” gumam Bian. Ia tidak mungkin membawa cermin ke tenda. Sehingga Bian tak bisa bercermin untuk memastikan penampilannya.
Bian sengaja menunggu di dalam tenda agar tidak terkesan sedang menunggu. Namun lehernya sudah hampir panjang karena terus menoleh ke arah pintu rumah Ira.
Hingga akhirnya pintu tersebut dibuka dari dalam.
Ceklek!
“Nah, itu dia,” gumam Bian. Ia pun bersiap untuk pura-pura baru keluar dari tenda.
Cetek!
Bian tersenyum saat mendengar Ira mengunci pintu. Kemudian ia memasang telinganya untuk mendengarkan langkah Ira. “Satu ... dua ....” Dalam hitungan ketiga, Bian pun keluar dari tendanya.
Set!
Bian keluar dengan sangat alami. “Eh, udah mau jalan?” tanyanya pada Ira.
“Iya,” jawab Ira sambil tersenyum. Padahal tadi Ira sempat membatin karena tak melihat Bian. Ia pikir Bian sudah kembali ke markas.
“Ya udah bareng aja! Sekalian aku juga mau balik ke markas,” ucap Bian sambil menarik resleting tendanya.
“Oh, iya,” sahut Ira. Ia menunggu Bian di jalan.
‘Semoga dia gak inget kejadian semalam,’ batin Ira. Sebagai wanita normal, wajar saja jika Ira tergoda oleh bentuk tubuh pria tampan yang gagah itu. Wanita mana pun pasti ingin dipeluk oleh Bian.
“Ayo!” ajak Bian.
“Iya,” sahut Ira.
Berbeda dengan kemarin, mereka bisa berbincang santai. Kali ini mereka canggung. Sehingga bingung hendak mengatakan apa.
“Udah sarapan?” tanya mereka secara bersamaan sambil menoleh.
Akhirnya mereka kembali malu. ‘Ya ampun basi banget. Kayak gak ada obrolan lain aja,’ batin Bian sambil menggaruk kepalanya.
‘Hei, Ira! Lo kenapa jadi gagu begini, sih?’ gumam Ira dalam hati.
Mereka sama-sama berpikir keras bagaimana cara agar bisa berbincang dengan santai.
Padahal saat mendekati Intan, dulu Bian tak seperti itu. Ia selalu percaya diri, berbeda dengan saat ini. Dirinya justru selalu salah tingkah.
“PAGI KOMANDAN!” ucap anak buah Bian yang melihat mereka. Suaranya cukup nyaring karena bersemangat.
Bian dan Ira pun terperanjat dibuatnya.
‘Waduh, mereka lagi kenapa? Kok shock banget kayak gitu? Padahal aku cuma nyapa,’ batin anak buah Bian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Komandan Tampanku
RomantikIra yang merupakan seorang dokter dijodohkan dengan Bian yang merupakan komandan angkatan darat. Namun pertemuan pertama mereka kurang baik, sehingga Ira dan Bian saling membenci satu sama lain. Ira sengaja dikirim ke perbatasan oleh papahnya agar b...
