"Siap aku salah!" ucap Bian. Ia tidak ingin berdebat lagi dengan istrinya. Saat ini ia hanya bisa mengakui kesalahannya. Bian tidak mau sampai bulan madunya gagal karena hanya hal sepele.
"Aku kecewa sama kamu," ucap Ira sambil memalingkan wajah.
Meski sedang kesal, melihat Bian mau mengakui kesalahannya membuat Ira senang. Baginya Bian mau mengaku saja sudah cukup, tetapi rasa kesalnya masih ada walaupun ia tidak marah lagi.
"Yank, itu camilannya mau di makan, gak?" tanya Bian. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Gak!" jawab Ira, ketus.
'Haduh! Pake ketemu dia segala, sih. Jadi kacau gini kan bulan madunya. Gawat banget kalau sampe dia ngambek terus,' batin Bian.
'Apa iya cewek tadi cuma temen lama dia? Tapi kenapa tatapannya ke aku sinis banget? Aku gak yakin,' batin Ira. Kemudian ia memicingkan matanya ke arah Bian. Ia ingin menelisik apakah Bian berbohong padanya atau tidak.
'Semoga dia gak nanya macem-macem lagi, deh,' gumam Bian dalam hati.
Ira yang sedang kesal itu akhirnya terlelap. Sepanjang jalan Ira tidur dan Bian membiarkannya. "Gak apa deh, dari pada nanti marah-marah terus. Lumayan sekalian charge energi juga, hehe," gumam Bian.
Beberapa jam kemudian, mereka pun tiba di resort tempat mereka akan bulan madu. Bian sengaja tidak membangunkan Ira. Ia turun untuk check in lebih dulu dan meninggalkan Ira di parkiran.
Saat Bian sedang check in, Ira pun terbangun. Kemudian ia bingung karena hanya sendirian di sana. "Lho, ini di mana?" gumamnya.
Ira celingukan karena tidak mengenal lokasi sekitarnya. "Tapi kayaknya ini di dalam resort, deh," gumam Ira.
Tak lama kemudian Bian muncul dari dalam salah satu gedung tempat tersebut. Ira pun pura-pura tidur kembali. Ia ingin tahu apa yang akan dibicarakan oleh suaminya itu.
"Ya ampun, nyenyak banget tidurnya, Sayang," gumam Bian saat kembali ke mobil. Ia pun menurunkan koper-kopernya dan maminta staf resorf untuk mengantarkan koper mereka ke kamar.
Setelah semua barang mereka dibawa oleh staf resort, Bian pun mematikan mesin mobilnya. Kemudian ia berjalan ke arah pintu Ira dan membukanya.
"Sayang, kita udah sampe," ucap Bian sambil mengusap pipi Ira.
"Kalau kamu gak bangun, biar aku gendong aja, ya?" tanyanya, sambil tersenyum.
Ira tidak mau digendong. Akhirnya ia pun langsung bangun sambil pura-pura.
"Eh, akhirnya bangun juga. Udah sampe, turun yuk!" ajak Bian.
"Hem!" sahut Ira. Ia gengsi untuk langsung baik pada Bian.
"Hati-hati turunnya!" ucap Bian, sok perhatian. Bahkan ia menuntun Ira.
"Aku bisa sendiri!" ucap Ira, ketus.
"Oh, oke. Kirain mau digendong, hehe," sahut Bian.
"Gak lucu!" ucap Ira, ketus. Ia masih gengsi untuk lunak pada Bian.
"Ngambeknya jangan lama-lama dong, Sayang," ucap Bian, sambil menyoleh lengan Ira.
Ira tidak menjawabnya. Ia berjalan lebih dulu dari Bian. Seolah tahu harus jalan ke mana.
Bian pun tersenyum. Saat Ira jalan lurus dan sudah jauh, Bian sengaja menunggunya. Kemudian ia memanggilnya. "Sayang! Cottage-nya yang ini," teriak Bian. Ia yakin Ira akan kesal sekaligus malu.
Ira pun langsung menoleh. "Kurang asem, aku dikerjain!" gumam Ira, kesal. Ia sangat emosi karena Bian telah membiarkannya berjalan jauh seperti itu.
Akhirnya Ira kembali dengan wajah ditekuk. Ia malu karena sudah salah jalan.
Saat ia tiba di cottage, staf resort sudah pergi. Sehingga hanya ada mereka berdua.
"Welcome," ucap Bian tanpa dosa.
Ira pun langsung masuk tanpa menghiraukan Bian. Kesalnya yang tadi belum hilang. Kini ditambah lagi.
Bian menutup pintu dan menguncinya. Kemudian ia membuntuti Ira. "Gimana, kamu suka gak tempatnya? Sesuai gak sama harapan kamu?" tanya Bian sambil berjalan ke dekat Ira.
Ira melihat-lihat sekeliling, ternyata tempat yang Bian pilih sangat cocok dengan keinginannya itu. Sehingga ia senang dan ingin berterima kasih pada Bian. Ira pun menoleh.
Namun, saat melihat Bian tersenyum, Ira jadi kesal. Ia merasa seperti sedang diledek. Akhirnya ia pun mengurungkan niatnya untuk mengucapkan terima kasih.
"Haduhh, Sayaaangg. Lagi bulan madu kok mukanya ditekuk aja, sih," gumam Bian sambil memeluk Ira dari belakang.
"Kamu nyebelin!" ucap Ira, ketus.
"Iya aku emang nyebelin. Maafin aku, ya," jawab Bian, kemudian ia menyandarkan dagunya di bahu Ira.
"Aku gak suka kamu terlalu akrab sama cewek lain, Bi," keluh Ira.
"Iya aku minta maaf. Aku janji gak akan kayak gitu lagi," jawab Bian.
"Kamu tau gak, aku tuh tadi merasa gak dianggap sama kamu. Aku nunggu di mobil, kamu malah asik ngobrol sama cewek. Aku kesel!" adu Ira.
"Kalau kamu mau marah, silakan! Kamu mau pukul aku juga silakan! Tapi tolong jangan diemin aku, ya? Aku lebih baik dihajar dari pada didiemin sama istriku sendiri," ucap Bian.
"Aku tuh sayang banget sama kamu, Ra. Gak pernah terpikir sedikit pun untuk gak menghargai kamu. Kan tau sendiri gimana perjuanganku selama ini. Aku berusaha bertahan hidup cuma buat kamu," jelas Bian.
Ira menoleh ke arah suaminya itu.
Cup!
Bian langsung mengecup bibirnya.
"Jangan sampai momen bulan madu kita ini gagal cuma karena kamu salah paham, ya? Aku yakin, kita sama-sama tahu perasaan satu sama lain. Jadi gak ada yang perlu diragukan lagi," ucap Bian.
Ira hanya menatap suaminya tanpa berkata-kata. "Aku masih trauma, Bi. Aku takut kamu ngilang lagi kayak dulu," ucap Ira.
Bian menggelengkan kepala. "Kalaupun aku hilang, kamu pasti tahu penyebabnya. Aku gak akan merahasiakan apa pun dari kamu lagi," ucap Bian.
"Bi! Harusnya kamu jawab kalau kamu gak akan ngilang lagi, dong!" Ira protes. Ia kesal karena Bian tidak menyangkal.
"Masalahnya aku gak bisa bohong, Sayang. Kan kamu tau sendiri tugasku berisiko. Bahkan orang terdekatku pun bisa jadi musuh terbesar aku," ucap Bian.
Dalam dunia kerjanya, Bian sadar siapa pun bisa jadi musuh. Sehingga Bian harus siap dengan risiko terpahit sekali pun.
"Kamu resign aja, deh!" pinta Ira.
Bian tersenyum. "Gak semudah itu, Sayang. Lagian kalau aku resign, nanti aku mau kasih makan kamu apa?" tanya Bian.
"Keahlianku cuma di sini. Aku juga udah susah payah membangun karier dari nol. Jadi berat buat ninggalin semuanya," lanjutnya. Ia bicara jujur karena tidak ingin memberikan harapan palsu pada Ira.
"Kalau kamu disuruh milih. Kamu akan pilih kerjaan apa aku?" tanya Ira. Ia berharap Bian bisa memberi jawaban yang membuat hatinya senang.
"Untuk saat ini aku pasti pilih kamu. Kan kamu yang ada di hadapan aku," canda Bian. Kemudian ia mencumbu istrinya sambil memeluknya dengan mesra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Komandan Tampanku
عاطفيّةIra yang merupakan seorang dokter dijodohkan dengan Bian yang merupakan komandan angkatan darat. Namun pertemuan pertama mereka kurang baik, sehingga Ira dan Bian saling membenci satu sama lain. Ira sengaja dikirim ke perbatasan oleh papahnya agar b...
