“Ngaco kamu! Mana ada begitu. Kamu itu wanita pertama yang aku kasih kalung ini,” jawab Bian. Ia tak menyangka Ira akan menganggapnya playboy.
“Masa? Tapi aku taunya tentara itu terkena playboy. Aku jadi ragu, deh. Jangan-jangan kamu mau mainin aku, ya?” tanya Ira lagi.
Bian menatap Ira dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Ia memikirkan cara menjelaskan pada Ira agar Ira tidak menuduhnya lagi.
“Sekarang aku balik tanya ke kamu. Di luar sana kan ada beberapa kasus dokter. Ada yang mal praktek, atau pelecehan, atau lainnya. Kalau aku bilang semua dokter seperti itu, kamu mau gak?” tanya Bian.
“Ya enggaklah. Gak semua begitu. Itu cuma ulah beberapa oknum yang kebetulan profesinya dokter aja,” jawab Ira, sebal.
“So? Apa karena ulah beberapa oknum tentara yang jadi playboy, lantas kamu mencap semua tentara playboy?” skak Bian.
Ira ternganga. Apa yang Bian katakan memang benar. Ia pun jadi malu. “Iya, maaf. Aku tuh cuma takut aja. Sebenernya selama ini aku gak mau pacaran karena takut disakitin. Dan sekarang malah ketemunya sama tentara,” ucap Ira sambil menunduk.
“Kamu tau gak kalau yang suka nyakitin itu bukan cuma cowok? Di luar sana, cewek juga banyak kok yang selingkuh. Tapi aku gak takut,” ucap Bian.
Ira menoleh ke arah Bian.
“Karena aku tau, gak semua cewek jahat. Dari sekian banyak wanita, pasti masih ada yang tulus dan mungkin sudah ditakdirkan untuk jadi jodohku.”
Bian menjelaskan meski tidak ditanya. Sebab ia tahu tatapan Ira sudah mewakili sebuah pertanyaan.
“Sebenarnya kalau mau nethink, bisa aja aku juga mikir kalau kamu itu playgirl. Tapi aku bukan orang yang seperti itu dan aku percaya kalau kamu wanita baik-baik,” ucap Bian lagi.
Ira tersipu malu saat disebut seperti itu oleh Bian. Bian sendiri yakin karena ia sudah sering stalking media sosial milik gadis itu.
“Ya udah, lanjut yuk! Dingin, nih,” ajak Bian.
“Oh iya, ayo!” sahut Ira. Ia pun kembali melanjutkan jalannya.
“Kamu mau makan mie instant, gak?” tanya Ira. Melihat Bian kedinginan, Ira jadi memiliki ide untuk memasak mie instant agar tubuh mereka hangat.
“Wah, boleh tuh,” jawab Bian. Ia sangat antusias karena saat ini dirinya memang sedang butuh yang hangat-hangat.
“Ya udah nanti aku bikinin,” jawab Ira.
“Emang bisa?” ledek Bian.
“Gak bisa, sih. Kalau gak enak, harap maklum, ya,” sahut Ira. Ia malah menimpali ledekan Bian.
“Serius kamu gak bisa masak mie instant? Wah, nanti kalau udah nikah, aku dimasakin apa, dong?” canda Bian.
“Menurut kamu? Ya kali gak bisa masak mie instant. Anak SD aja bisa, kali. Lagian emang nikah itu harus bisa masak, ya?” tanya Ira. Ia sedang mengetes Bian.
“Hem ... gak juga, sih. Sekarang kan udah banyak yang jual makanan. Lagian mau order online juga bisa, jadi gak repot,” sahut Bian.
“Kalau misalnya aku sama sekali gak bisa masak dan gak pernah turun ke dapur, kamu keberatan, gak?” tanya Ira.
“Enggak. Semua orang juga berawal dari gak bisa. Nah, kedepannya tergantung orang itu mau belajar apa enggak. Jadi intinya bukan masalah bisa atau gak bisa. Tapi mau apa enggak,” ujar Bian.
“Kalau bisa masak tapi gak mau masak juga kan percuma. Tapi kalau gak bisa masak dan mau nyenengin suami dengan masakannya, pasti akan semangat belajar meski gak mudah,” jelas Bian.
“Oooh, oke kalau begitu aku ganti pertanyaannya. Misalnya aku gak mau masak, kamu keberatan, gak?” tanya Ira lagi.
“Gak bisa dipungkiri setiap lelaki pasti pingin dimasakin sama istrinya. Karena makan masakan istri sama masakan orang lain pasti beda feel-nya. Tapi kalau emang istriku nanti gak mau masak, ya mau dikata apa. Yang penting dia cinta dan setia sama aku.”
“Buatku, selama istri bisa menghormatiku sebagai suami, ‘melayaniku’ dengan baik, serta bisa menjadi madrasah bagi anak-anaknya, itu sudah cukup. Masalah masak dan kerjaan rumah kan bisa bayar orang,” ucap Bian.
“Ooh, jadi kamu mau dihormati kayak gini?” ledek Ira sambil memberikan hormat pada Bian. Ia sengaja bercanda agar tidak terlalu tegang.
“Ya bukan begitu, Ra! Makusdnya tuh ... ya kamu tau sendirilah, istri memang harus menghormati suaminya. Sedangkan suami harus menghargai istrinya. Contohnya, kalau kamu mau pergi ke mana-mana harus izin suami,” ucap Bian.
“Tapi kamu bakalan ngekang istri, gak?” tanya Ira lagi.
“Hem ... aku kok merasa kayak lagi disensus, ya?” canda Bian.
“Hehehe, ya ... namanya juga diajak nikah, kan aku harus tau banyak tentang kamu. Jangan sampai kayak beli kucing dalam karung. Aku gak tau apa-apa tentang kamu dan ternyata zonk. Repot, kan,” ucap Ira.
“Oke, aku sih gak akan ngekang tapi aku harap istriku tau batasan. Kamu boleh pergi keluar selama dengan teman wanita. Tapi kamu harus tau kalau aku orangnya cemburuan. Jadi batasi pergaulan dengan teman pria!” ucap Bian, tegas.
Sejak tadi jawaban Bian selalu realistis. Ia tidak ingin memberikan janji manis pada Ira, sehingga Bian mengatakan apa yang ia inginkan. Bukan hanya untuk memancing Ira agar mau menerimanya.
“Kalau begitu, artinya kamu juga membatasi pergaulan kamu, dong?”
“Jelas. Namanya menikah itu artinya siap berkomitmen, masalah komitmennya seperti apa, kita bisa bicarakan baik-baik. Lagi pula aku sadar, sebagai suami yang baik, aku tidak akan bergaul dengan wanita lain. Sebab akan lebih banyak muhdarat dari pada manfaatnya.”
Ira yang ada di depan Bian pun tersenyum. Ia senang karena jawaban Bian cukup memuaskan. Setidaknya nanti mereka tidak akan banyak berdebat mengenai perbedaan pendapat. Sebab semua jawaban Bian bisa dikatakan satu frekuensi dengannya.
‘Kok dia diem, sih? Apa jawaban aku ada yang salah, ya?’ batin Bian. Ia tidak melihat ekspresi Ira. Sehingga Bian khawatir akan jawabannya.
“Kamu mau ke markas dulu apa langsung pulang?” tanya Ira. Ia seolah mengalihkan pembicaraan. Padahal Ira hanya merasa puas dan sudah cukup atas jawaban Bian. Sehingga untuk saat ini ia tidak akan bertanya lagi.
“Pulang?” tanya Bian. Ia sedang memikirkan reaksi Ira, sehingga tidak paham.
“Eh, salah. Maksudnya ke rumah aku,” ucap Ira. Ia jadi malu sendiri.
“Hehehe, jadi berasa udah nikah diajak pulang ke rumah kamu,” ucap Bian sambil tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Komandan Tampanku
RomanceIra yang merupakan seorang dokter dijodohkan dengan Bian yang merupakan komandan angkatan darat. Namun pertemuan pertama mereka kurang baik, sehingga Ira dan Bian saling membenci satu sama lain. Ira sengaja dikirim ke perbatasan oleh papahnya agar b...
