Waktu terus berjalan, malam perlahan bergulir digantikan oleh sang surya yang mulai naik dari ufuk timur. Cahaya keemasan merayap masuk melalui celah-celah gorden, menari-nari di lantai marmer kamar mewah itu.
Yuta mengerutkan kelopak matanya saat silau itu mulai mengganggu peristirahatannya. Ia mengerjap sekali, dua kali hingga perlahan--dengan berat--matanya terbuka.
Pandangan awalnya buram, seperti melihat dunia melalui kabut tipis. Bayang-bayang dan cahay yang bercampur menjadi satu. Namun seiring kesadarannya yang mulai terkumpul sedikit demi sedikit, kabut itu menghilang, berganti dengan kejelasan yang menyesakkan.
Jendela kamar membentang tinggi dari lantai hingga langit-langit, sebuah kanvas raksasa yang memperlihatkan langit pagi yang cerah. Gorden tebal berwarna krem hanya menutupi sebagian, membiarkan tirai tipis di belakangnya menerjemahkan sinar matahari menjadi semburat hangat yang memenuhi ruangan.
Pagi, pikirnya. Hari kedua di sangkar emas ini.
Tubuhnya mulai bergerak, meregangkan otot-otot yang terasa kaku setelah semalaman dalam posisi yang sama. Namun sebelum ia bisa sepenuhnya menggerakkan badan, ia merasakan sesuatu yang membuat seluruh gerakannya terhenti.
Sebuah lengan. Entah milik siapa.
Niatnya untuk bangun seketika menguap. Tubuhnya membeku, otot-ototnya menegang dalam kewaspadaan. Kehadiran lain di belakangnya--hangat, berat, dan terlalu dekat--membuatnya tak berani bergerak sedikitpun. Jantungnya mulai berdebar, memompa adrenalin yang tak diundang ke seluruh tubuh.
Takut. Ia takut. Bahkan tak berani bergerak lebih, jika kehadiran di belakangnya sampai terbangun, pagi yang tenang ini bisa berubah menajdi sesuatu yang tak akan bisa dikendalikan.
Tenang. Jangan panik.
Dengan hati-hati, nyaris tak bernapas, Yuta menggerakkan tangannya untuk menyingkirkan lengan itu. Namun, saat jemarinya baru menyentuh pergelangan--yang bisa ia rasakan denyut nadi di bawah kulit hangat itu--lengan itu tiba tiba seketika mengencang.
Tarikan kuat mendadak menariknya mundur, memeluknya semakin erat hingga ia bisa merasakan dada bidang yang menempel di punggungnya, dan deru napas yang hangat menerpa leher belakangnya.
"Yuta..." panggilnya. Suara parau khas baru bangun tidur, berat dan dalam.
Tubuh Yuta mendadak kaku total dalam pelukan itu. Ia tahu siapa pemilik suara ini. Terpaan napas di lehernya membuat bulu kuduknya berdiri, rambut-rambut halus di tengkuknya meremang. Ia menatap lurus ke depan, tak berani menoleh sedikitpun.
"J-Jaemin... ini sudah pagi," ucapnya, berusaha keras agar suaranya terdengar normal.
Jaemin hanya menggeram pelan, lalu membuka matanya dengan malas--menatap rambut Yuta yang terurai indah di hadapannya. Ia mendekatkan wajah, menghirup aroma sampo yang masih menempel. Wangi, seperti bunga yang baru mekar.
"Aku dengar, kemarin kau mengelilingi rumah ini," ujarnya, nada bicaranya terdengar rendah dan lembut namun entah mengapa mengandung arti yang sulit dijelaskan.
Jantung Yuta seketika melompat ke tenggorokan. Panik menjalar cepat, namun ia berusaha mati-matian untuk tidak menunjukkannya. Di balik wajahnya yang menghadap ke depan, pikirannya berputar cepat, mencari alasan, menyusun kata-kata yang tak akan menimbulkan kecurigaan.
"Aku hanya ingin mengelilingi kediaman baruku," jawabnya akhirnya, berusaha terdengar tenang. "Tidak boleh?"
Jaemin terkekeh pelan. Suaranya kali ini jauh lebih rendah, lebih dalam, seperti getaran yang merambat dari dadanya ke punggung Yuta. Lengannya yang melingkar di perut Yuta semakin mengerat--bukan untuk melukai, tapi cukup untuk menjelaskan bahwa ia tak punya niat melepaskan pria ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Step Brother Na Yuta
FanfictionSi kembar yang tak terima jika Yuta menjadi kakak tiri mereka.
