Seperti biasa, setelah baca tinggalin jejak Yah, supaya mimin semangat nulisnya. Terimakasih!
***
Al, ada bubur ayam, kita sarapan dulu yuk!” Ajak Ali yang tengah berlari berdampingan dengan Gerald.
Yah, saat ini Gerald dan Ali tengah joging berdua saja mengelilingi area vila sembari menikmati panorama alam juga udara segar di daerah sana.
Sebenarnya, Gerald sudah mengajak Aiza, tapi gadis itu benar-benar malas jika menyangkut olahraga. Begitu juga Ali, ia sudah mengajak orang-orang, tapi mereka yang berniat ikut langsung urung ketika tahu Gerald akan ikut. Ali heran, Entah apa yang sudah dilakukan sahabatnya hingga membut orang-orang di vila enggan berdekatan dengannya.
“Gue gak sarapan dipagi buta kayak gini.” Balas Gerald membuat Ali langsung melihat kearah jam tangannya. Itu bahkan sudah hampir jam tujuh dan matahari sudah sepenuhnya menyinari bumi.
Merasa tidak tahan dengan aroma wangi dari bubur ayam yang menguar, Ali akhirnya secera mendadak menarik tangan Gerald untuk menghampiri gerobak bubur ayam itu, membuat Gerald mau tidak mau mengikutinya.
“Bang, dua mangkuk. Komplit.” Pesan Ali bahkan sebelum ia bertanya pada Gerald. Lelaki itu lalu mendudukkan dirinya di kursi panjang tepat dibawah rerimbunan pohon besar. Ali benar-benar menikmati suasana menyejukkan yang menyenangkan itu.
Gerald hanya bisa memutar bola matanya melihat itu. Ia lalu ikut mendudukkan dirinya didepan Ali dan menunggu pesanan Ali datang. Yah, tidak ada salahnya sarapan lebih awal dari jam seharusnya.
Sepertinya Gerald lupa dengan apa yang dilakukannya saat di Bandung dengan Aiza, ia bahkan sarapan sebelum matahari benar-benar terbit secara penuh.
Tidak berapa lama, dua mangkuk besar bubur ayam komplit tersaji dihadapan mereka. Ali dengan semangat langsung mengaduk buburnya. Meskipun sudah terbiasa dengan kebiasaan Ali itu, tetap saja Gerald kadang merasa sedikit aneh melihatnya. Maklum saja, ia bukan bagian dari tim bubur diaduk.
“Emh, Enak.” Pekik Ali heboh.
Selama Gerald kenal Ali, sepertinya sahabatnya itu tidak pernah mengatakan ada makanan yang tidak enak. Puncaknya, ia bahkan dengan bodohnya memakan es krim kadaluarsa beberapa waktu lalu.
Tapi kali ini Ali tidak berbohong, bubur itu memang lumayan enak, apalagi ditengah dinginnya pagi di puncak, hangatnya bubur itu benar-benar sangat cocok dan Gerald cukup menikmatinya.
“Al!” Panggil Ali tiba-tiba membuat Gerald yang tengah asyik menikmati makanannya harus mengangkat kepalanya menatap Ali.
“Hm?”
“Lo sama Aiza... Kalian gak ada rencana buat ngakhirin permainan kalian tentang pernikahan kontrak ini sedikit pun?” Tanya Ali sedikit ragu-ragu.
“Kenapa lo nanya kayak gitu?” Jawab Gerald dengan pertanyaan.
“Ya, tanggung Al. Lo sama Aiza itu udah saling ngerti satu sama lain, saling cemburu satu sama lain, saling menjaga satu sama lain, saling sayang. Menurut gue hubungan kalian sempurna sebagai satu pernikahan. Sayang banget kalo itu hanya untuk sementara.”
“Kalo masalah saling sayang dan saling jaga, lo sama Aiza juga kan lakuin itu."
“Tapi ada hal yang gak gue ngerti tentang Aiza dan lo bisa ngerti itu. Satu lagi, gue gak pernah cemburu sama Aiza.” Jelas Ali sedikit menyindir Gerald soal ia yang pecemburu.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romance"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
