BAB 72

3K 87 17
                                        

Dunia Gerald terasa berputar saat lelaki itu berhasil membuka matanya yang terasa berat hingga membuatnya harus secara refleks menutup kembali kelopaknya rapat berharap hal itu bisa sedikit mengurangi rasa pusing yang menyerangnya.

Saat lelaki itu menyentuh keningnya berniat untuk memijat kepalanya, lelaki itu malah mendapati sebuah kain basah yang masih hangat kuku menutupi keningnya. Sepertinya, seseorang tengah mengompres dahinya.

Meskipun sedikit sempoyongan, Gerald berusaha untuk duduk dan mencari keberadaan orang yang sudah merawatnya. Dilihatnya, Aiza tengah tidur meringkuk diatas kursi kecil dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Sepertinya, wanita itu barus saja terlelap, terbukti dari kain di dahi Gerald yang masih terasa hangat.

Tenggorokan Gerald yang belum tersiram air dari semalam membuatnya terasa kering. Lelaki itu ingin meminta bantuan Aiza, tapi melihat Aiza yang seperti kelelahan membuatnya urung dan memilih untuk mengambilnya sendiri. Kebetulan, air itu ada di atas nakas, hingga ia tidak perlu repot-repot turun dari ranjangnya dan pergi ke dapur untuk mengambil minum.

Karena masih lemas, tangan Gerald tidak sengaja menyenggol pigura foto Aiza, dirinya, Reynald, Ali dan Elena saat mereka bermain di pantai.

PRAK

Suara pigura yang jatuh itu sontak saja membuat Aiza langsung terbangun. Ia baru saja terlelap dan belum sampai ke fase tidur dalam, wanita yang biasanya sulit bangun itu langsung tersentak dan hampir saja jatuh dari kursinya.

Setengah sadar, Aiza mengedarkan pandangannya mencari sumber suara, tapi yang ia temukan adalah Gerald yang tengah berusaha meraih pigura fotonya yang tergeletak di lantai. Beruntung pigura itu tidak pecah hingga Gerald bisa langsung memajangnya kembali di meja nakas.

“Syukurlah, lo udah bangun, Er.” Ucap Aiza sembari menghela napas lega.

Semalam ia panik sekali melihat Gerald yang tiba-tiba tidak sadarkan diri, meskipun dalam hati ia sedikit bersyukur karena keadaan Gerald itu membuatnya selamat dari paksaan suaminya.

“Apa yang terjadi semalam?” Tanya Gerald yang hanya mengingat kalau ia tengah melampiaskan kemarahannya pada Aiza karena wanita itu kabur darinya untuk bertemu dengan Stevan. Setelahnya, ia tidak mengingat apapun.

“Lo demam.” Jawab Aiza sembari menaruh kembali pigura fotonya ke tempat asal.

“Demam?”

Aiza hanya mengguk. Semalam, suhu tubuh Gerald memang tinggi bahkan tubuhnya menggigil hebat. Meskipun takut Gerald akan kembali menyerangnya, Aiza tetap merawat Gerald dengan telaten.

Dengan susah payah ia memindahkan tubuh Gerald ke kamar dan mengganti pakaiannya. Beruntunglah di apartemennya masih ada baju Gerald yang memang sering mandi dan makan disana selepas kerja. Jadilah ia tidak kebingungan harus mencari pakaian kering untuk menggantikan pakaian Gerald yang basah kuyup.

“Kenapa gak tidur disini?” Tanya Gerald sembari menepuk bagian kosong dari ranjang yang didudukinya.

Aiza tidak menjawab, ia malah turun dari kursinya dan mendekati Gerald, lalu menaruh tangannya di dahi lelaki itu untuk mengecek suhu tubuh suaminya. Untunglah, suhu tubuh Gerald sudah tidak sepanas semalam meskipun masih belum begitu normal.

“Demam lo belum sepenuhnya turun. Sekarang lo istirahat.” Ucap Aiza mengabaikan pertanyaan Gerald.

Aiza baru saja akan berbalik dan pergi dari tempat itu, tapi Gerald sudah lebih dulu menarik tubuh Aiza hingga terduduk disamping Gerald.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang