BAB 90

3.8K 151 13
                                        

“Lo gugup, Zahra?” Stevan menggenggam tangan basah adiknya yang tengah menunggu seseorang yang ingin menemuinya.

Aiza tidak menjawab, ia hanya menoleh ke arah Stevan dan balas menggenggam tangan itu erat.

Saat ini, Aiza tengah berada di rumah Stevan. Setelah permainan kucing-kucingan yang melelahkan dengan orang-orang yang Gerald sewa, akhirnya Stevan berhasil membawa Aiza pergi dari apartemennya dengan bantuan Ali.

“Gue gak berharap lo mau nemuin dia, Zahra.”

Sedari awal Stevan kurang setuju saat ibunya meminta Aiza untuk menemui orang itu, ia kira Aiza juga punya pemikiran sama dengan dirinya, tapi ternyata adiknya itu langsung menyambutnya dan ingin bertemu dengan orang itu secepatnya.

“Lo tahu? Orang bilang saat wanita akan melahirkan, dia butuh maaf dari ibunya.”

Benar, orang yang tengah Aiza tunggu sekarang adalah Salina. Wanita itu meminta bantuan Stephany untuk menjadi jembatan mereka. Entah dari mana Salina tahu jika Stephany mengetahui keberadaan Aiza, mungkin naluri seorang ibu? tapi rasanya wanita itu tidak pantas disebut sebagai seorang ibu.

“Dia yang salah sama lo Zahra, harusnya dia yang ngemis maaf dari lo. Bukan Lo yang minta maaf sama dia.”

“Gue tahu. Gue cuma mau ketemu sama dia lagi. Gue mau selesain semua yang terjadi dimasa lalu, gue mau kami saling melepaskan bemua rasa sakit itu sebelum gue...” Aiza segera menghentikan ucapannya, tapi Stevan sudah bisa menebak apa yang akan Aiza katakan selanjutnya.

“Lo gak boleh punya pikiran itu, Zahra!”

“Meski gak ada yang mustahil, tapi Lo sendiri denger apa yang dokter bilang.”

Yah, Stevan juga ada disana saat dokter yang direkomendasikan Stephany menjelaskan kondisi Aiza.

Kemungkinan komplikasi saat melahirkan karena tumor itu sangat besar dan kemungkinan Aiza untuk selamat sangat kecil. Satu hal yang Aiza syukuri, meskipun kondisinya tidak terlalu baik, tapi anaknya berkembang cukup baik.

Stevan melepas paksa genggamannya dari tangan Aiza membuat wanita merasa hampa seketika.

“Harusnya gue minta lebih keras lagi supaya Lo ditindak saat kita pertama periksa kandungan lo.”

Aiza bisa melihat kekecewaan di mata Stevan untuk dirinya sendiri.

“Lo gak boleh kayak gini Stevan! Cuma Lo orang yang bisa gue percaya untuk jaga anak ini.”

Stevan menggeleng keras lalu beranjak dari tempatnya. “Ini semua gak adil. Setelah apa yang terjadi kenapa harus lo? Kenapa harus lo yang ada di kondisi ini, Zahra?”
 
Stevan tidak mampu lagi menahan dirinya, ia segera meninggalkan tempat itu sebelum emosinya meledak lagi dan tangisnya pecah.

“Stevan!” Seru Aiza yang ikut berdiri untuk mengejar Stevan.

“Zahra!”

Suara itu ... Suara lirih sarat akan kerinduan penuh sayatan itu menghentikan Aiza. Orang yang ia tunggu sudah datang, tanpa perlu menoleh, Aiza sudah bisa mengenali suara itu.

Aiza segera mengatur emosinya lalu menoleh ke arah pintu masuk ruangan itu dan hal pertama yang ia temukan adalah wanita yang melahirkannya itu terluka, bukan luka fisik, tapi Aiza bisa melihat kesakitan itu lewat matanya yang basah dan entah kenapa rasa sakitnya bisa Aiza rasakan hingga mata Almon itu ikut berkabut.

“Zahra!” Sekali lagi wanita itu menyerukan namanya dengan suara lembut yang selalu Aiza rindukan.

Hanya butuh sepersekian detik dan tubuh Aiza sudah ada dipelukan wanita itu.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang