BAB 37

3.7K 74 0
                                        

BAB 37

Penyesalan, Gerald tidak pernah berpikir kalau dihidupnya ia akan merasakan rasa penyesalan sebesar ini. Selama ia hidup, ia selalu melakukan segala sesuatu secara terencana hingga sebuah penyesalan bisa ia kendalikan seminim mungkin. Tapi saat ini dunia indahnya, harapan cintanya, semuanya runtuh bersama pengkhianatan yang dilakukan oleh orang yang sangat ia cintai.

Tapi diatas pengkhianatan yang dilakukan kekasihnya, rasa sakit setelah mengkhianati adalah hal yang paling menyesakan dada Gerald hingga saat ini. Rasa bersalah yang selama ini menumpuk di hatinya semakin bertambah tebal dan hampir meledak rasanya. 

Ia mengorbankan Aiza demi mempertahankan hubungan cintanya dengan Amanda. Tapi setelah pengorbanan besar yang ia lakukan, Amanda malah mengkhianatinya. Tapi jika pun hubungannya dan Amanda berhasil, rasanya pengorbanan itu tidak sebanding dengan apa yang ia dapatkan. 

Gerald memandang dalam gadis yang masih terlelap disampingnya. Cahaya lembut dari mentari pagi yang menghangatkan berhasil menembus kaca jendela mobil dan jatuh tepat di wajah lelah Aiza.

Setelah 12 jam berkendara tanpa henti, akhirnya Gerald sampai disebuah jalan besar dengan jembatan menjulang dimana ia menghentikan mobilnya sekarang. Tapi, bukan tempat ini yang Gerald dan Aiza tuju. Gadis itu mengajak Gerald untuk pergi ke kampung halaman Kakeknya yang ada di Tasikmalaya, dari penjelasannya, harusnya tempat yang akan Gerald kunjungi adalah sebuah kampung yang masih sangat terpencil, tapi yang ia dapati adalah jalanan besar yang perlahan ramai dengan stan para pedagang padahal jarak tempat itu menuju kampung yang mereka tuju hanya tinggal beberapa ratus meter.

Alhasil, Gerald hanya bisa menghentikan mobilnya dipinggir jembatan yang cukup sepi. Ia ingin bertanya pada Aiza, tapi Gerald tidak tega harus membangunkan gadis itu. Jadi, ia lebih memilih untuk menunggu Aiza untuk membuka matanya sembari menikmati keindahan wajah terlelap Aiza yang berubah semerahan dari cahaya mentari pagi yang menyorot kearahnya.

Tak lama, kelopak mata almon itu mulai mengerjap merasakan cahaya matahari itu mulai menajam dan menusuk indranya. Gadis itu berusaha menghalaunya dengan kedua tangannya, tapi tentu saja percuma karena cahaya itu terlalu terik untuk bisa dilawan.

Melihat itu, tak ayal menimbulkan kekehan kecil dari mulut Gerald yang sedari semalam terkunci rapat. Mendengar itu, Aiza langsung membuka matanya dan melihat kesal ke arah Gerald.

“Lo ngetawain gue, Er!” Ucap Aiza sembari memberikan cubitan cinta pada sahabatnya itu.

“Aaargh. Sakit Az! Lo gila yah.” Teriak Gerald sembari menggosok pahanya yang Lagi-lagi menjadi sasaran empuk cubitan gadis itu.

“Lagian lo sih, ngapain lo ngetawain gue?” Ungkap Aiza masih dengan suara kesalnya.

Meskipun begitu, jauh dalam hatinya, Aiza merasa lega bisa melihat tawa kecil penuh ejekan Gerald itu. Semalaman penuh ia dibuat frustasi karena Gerald yang tidak kunjung membuka mulutnya dan hanya diam sekeras apapun Aiza berusaha membujuknya bicara.

“Kita ada dimana?” Tanya Aiza sembari mengedarkan memperhatikan jalanan asing disekitarnya, gadis itu sedikit terpaku melihat pemandangan indah dari balik jendela mobil, matahari yang mulai terik itu baru saja keluar dari balik bebukitan.

“Harusnya gue yang nanya, kita ada dimana? Lo bilang kampungnya agak terpencil, tapi jarak dari sini ke kampung lo deket banget, Az.”

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang