BAB 68

2.9K 94 23
                                        

Kehilangan. Ini bukanlah kali pertama Aiza mengalaminya. Dulu sekali, ia sudah pernah kehilangan Ayahnya. Ia melihat sendiri bagaimana ayahnya terbujur kaku di ruang mayat rumah sakit. Aiza masih sangat ingat, wajah pucat ayahnya yang diliputi dengan kesedihan, Entah karena apa.

Saat itu, Aiza tidak mengeluarkan setetes air mata pun, padahal kehilangan sosok seorang ayah diusianya yang baru menginjak enam tahun bukanlah hal mudah. Hatinya memang sakit, tapi air matanya terlalu kering dan sudah ia habiskan untuk menangisi kepergian ibunya yang memberinya tatapan penuh kebencian yang masih ia ingat sampai sekarang.

Sejak saat itu, Aiza tidak pernah menunjukan emosinya lagi, ia tidak pernah menangis saat disakiti, tertawa bahagia saat mendapatkan hadiah atau kebaikan apapun yang diberikan padanya. Satu-satunya emosi yang ia miliki hanyalah kemarahan. Yah, kemarahan. Meskipun emosi itu jarang sekali keluar.

Hingga ia bertemu Gerald, seseorang yng berhasil mengembalikan dunianya. Terdengar berlebihan, tapi itulah kenyataannya. Tanpa Gerald, mungkin saat ini ia hanyalah seorang gadis yang tumbuh dengan kemarahan dan rasa putus asa yang melingkupinya.

Mekipun ada Khadijah dan Reno, tapi entah kenapa kasih sayang mereka tidak mempu mencairkan kebekuan di hati Aiza. Tapi tidak bisa Aiza pungkiri, keberadaan Khadijah dan Reno mampu membangun kembali dunianya yang sempat beku dan hancur. Mereka mampu menghadirkan sosok orangtua untuk Aiza, bahkan peran mereka jauh lebih besar dalam hidup Aiza dibandingkan dengan orangtua kandungnya sendiri.

Satu hal yang Aiza sesali saat ini, menolak memanggil mereka dengan panggilan ayah dan ibu. Bukan karena tidak ingin, tapi saat Khadijah dan Reno memintanya, saat itu masih ada sedikit rasa trauma dalam diri Aiza. Ia takut  mereka juga akan meninggalkannya seperti kedua orang tuanya jika ia memanggil mereka dengan panggilan yang sama seperti ia memanggil Salina dan Evan.

Pagi-pagi sekali, Aiza sudah bangun dan pergi menuju perkebunan teh untuk menghirup udara segar bercampur aroma teh yang kentara dari perkebunan juga dari pabrik teh yang tidak jauh dari sana.

Meskipun kehilangan Khadijah juga Reno jauh lebih menyakitkan dibandingkan kehilangan orangtuanya, tapi Aiza berjanji, ia tidak akan terpuruk seperti dulu, ia harus bisa memulai hidup baru lagi tanpa bergantung pada siapapun. Terlebih, saat ini ada calon anaknya yang harus ia jaga. Yah, Aiza memutuskan untuk mempertahankannya. Saat ini hanya anak itu yang benar-benar ia miliki, setidaknya hanya dia yang berbagi darah yang sama dengannya selain ibunya.

Aiza berjanji, ia akan menjaga anak itu sebaik yang ia bisa, meskipun tidak bisa Aiza pungkiri, ia masih belum bisa menerimanya sepenuhnya. Ia hanya berharap waktu akan meluluhkan hatinya.

Mengenai Gerald, ia masih belum memliki niat untuk memberitahu Gerald tentang keberadaan anaknya, terlebih lelaki itu baru saja kembali pada gadis yang ia cintai. Aiza memang takut Gerald tidak mau menerima anaknya, tapi lebih daripada itu, ia takut Gerald harus kembali kehilangan kesempatannya untuk bisa hidup bahagia dengan Amanda dan terpaksa kembali pada Aiza hanya karena tanggung jawabnya pada bayinya.

Katakan Aiza Bodoh dan dungu, tapi Aiza tidak bisa mengabaikan kebahagiaan Gerald. Bagaimanapun, lelaki itu adalah sahabatnya, ikatan itu terasa lebih kuat daripada pernikahan mereka. Meskipun Aiza sangat memetbenci Amanda, tapi ia tahu betul jika Amanda adalah salah satu kebahagiaan Gerald. Dan Aiza tidak mau Gerald kehilangan kebahagiaannya, terlebih karena dirinya.

“AIZA!”

Lamunan Aiza harus terganggu saat ia mendengar seseorang memanggil namanya lantang. Wanita itu berbalik melihat kearah sumber suara, dilihatnya Gerald tengah berlari kearahnya dengan wajah panik.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang