Dari kaca mobil disampingnya, Aiza menatap gumpalan awan hitam yang sedikit demi sedikit memenuhi langit. Aiza menunggu rintikan hujan membasahi bumi menciptakan aroma tanah yang selalu membuatnya merasa tenang.
Tapi nyatanya, awan seperti enggan melepaskan semua bebannya. Ia menahan hujan untuk turun seakan ingin menunjukan kegagahan dan kekuatannya. Samaseperti apa yang Aiza lakukan saat ini. Menahan air matanya untuk tidak lagi menetes meskipun ia sangat ingin menangis dan melepaskan semua emosinya.
Aiza bukan wanita super, ia punya hati dan perasaan yang saat ini sudah tidak berbentuk. Ia sendiri tidak mengerti dengan apa yang ia lakukan sekarang, meminta pada ayah mertuanya untuk merestui hubungan suaminya dan kekasihnya, Amanda.
Aiza masih sangat ingat bagaimana semua orang kecuali Rosa menghakiminya. Tidak secara langsung memang, tapi Aiza tahu mereka seperti ingin mengatakan kalau Aiza sudah kehilangan akal.
Bram tidak menanggapi permintaan Aiza dan langsung pergi setelah Aiza mengungkapkan keinginannya, begitu juga dengan Ranti yang tidak bisa menyembunyikan raut kekecewaan di wajahnya. Apalagi Elena, ia langsung pergi dari rumah setelah mengatakan kalau Aiza tidak waras. Sementara Rosa, wanita itu tidak bereaksi apa-apa sama seperti Gerald.
Lebih tepatnya, Gerald tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Di satu sisi, ia belum mau menceraikan Aiza dan merasa terkejut dengan permintaan tidak terduga Aiza, tapi di sisi lain ia juga merasa senang karena setelah sekian lama dan banyaknya pertentangan, akhirnya ada juga yang mau mendukung hubungannya dengan Amanda dan dia adalah Aiza, sahabat yang menyandang status sebagai istrinya sendiri.
Ingin sekali Gerald menanyakan tentang alasan Aiza mengajukan permintaan anehnya dan membuat semua orang kecewa dibuatnya. Tapi melihat Aiza yang terpuruk seperti itu membuat Gerald mengurungkan niatnya. Gerald hanya berharap, Aiza akan baik-baik saja, meskipun ia yakin Aiza sedang tidak baik-baik saja.
“Kita langsung ke apartemen gue.” Ucap Aiza tiba-tiba setelah mobil yang dikendarai Gerald keluar dari pintu tol.
Gerald sangat senang mendengar suara Aiza yang kembali keluar setalah diam lama. “Kenapa? Ada barang yang mau lo bawa?” Tanya Gerald tanpa melepaskan fokusnya dari jalanan.
“Gue mau balik tinggal disana.”
Ckiit
Seketika tubuh Aiza terdorong kedepan dengan keras. Beruntung ia memakai sabuk pengaman, Jika tidak, ia mungkin sudah terhempas kedepan karena kebiasaan Gerald yang mengerem mendadak.
“Er, lo kebiasaan banget. Kalau kita celaka gimana?” Teriak Aiza dengan napas memburu karena terkejut. Lagi-lagi mereka beruntung karena mobil di belakang mereka berjarak cukup jauh.
“Balik tinggal di apartemen lo? Maksud lo apa?” Tanya Gerald seakan tidak peduli dengan kebodohan yang ia lakukan yang mungkin bisa membunuh mereka. Ia bahkan tidak memperdulikan suara klakson yang saling bersahutan dibelakang mobilnya.
“Sebentar lagi kita cerai. Akan lebih baik kalau gue balik ke apartemen gue.” Jawab Aiza tanpa mau menatap Gerald yang tengah mentapnya.
“Gue gak setuju.” Tegas Gerald.
“Kalau lo gak mau ngenter gue. Gue bisa pulang sendiri.” Ucap Aiza sembari membuka pintu mobil.
“Jangan gila lo, Az!”
Aiza tidak memedulikan ucapan Gerald dan langsung keluar dari mobil dan berlari kearah trotoar begitu saja
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romansa"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
