Indah. Rasanya Aiza tidak akan pernah bosan melihat pemandangan indah dihadapannya ini. Sudah berbulan-bulan berlalu sejak bulan madu mereka di Tasikmalaya, dan Aiza masih belum bosan menatap wajah tenang Gerald saat ia membuka matanya dipagi hari.
Aiza tidak menyangka, kehidupan pernikahan yang dulu sangat ia takuti akan menjadi semenyenangkan ini. Sudah enam bulan setelah Gerald ijab qabul bersama pamannya, dan tidak ada yang berubah dalam interaksinya antara Aiza dan Gerald, semuanya masih sama, hanya keintiman mereka saja yang semakin intens dan Aiza sudah mulai biasa dengan itu semua.
Tangan Aiza terangkat, menelusuri wajah Gerald dengan jari telunjuknya, mulai dari alis lengkungnya, hidung mancungnya, jarinya berhenti sejenak di bibir proporsional itu, lalu kembali turun melewati dagu terbelahnya. Hingga saat tangannya sampai di jakun lelaki itu, mata Gerald mulai mengerjap, membuat Aiza langsung menarik tangannya dan menutup matanya rapat. Ia tidak mau Gerald tahu kalau ia sedang memperhatikannya bahkan mengaguminya.
Tapi lebih dari itu, ia ingin merasakan rutinitas Gerald saat membuka matanya, yaitu mencium kening Aiza. Seperti saat ini, lelaki itu tengah mengelus wajahnya yang terhalang beberapa halai rambut, dengan lembut lelaki itu menyingkirkannya dan menyematkannya di balik telinga Aiza. Setelahnya, ia mendekati Aiza dan mengecup keningnya dalam sembari bergumam lirih.
“Maafin gue, Az.”
Setelah membenarkan posisi selimut Aiza, Gerald beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi dengan tanpa menggunakan atasan. Itu adalah kebiasaan lama Gerald yang tidak suka memakai baju saat tidur.
Bersamaan dengan suara pintu kamar mandi yang ditutup, Aiza membuka matanya dan mengunci tatapannya pada pintu penghubung ke kamar mandi itu penuh tanya.
‘Maaf’ kata itu tidak pernah absen dari rutinitas pagi Gerald setiap harinya. Entah kenapa lelaki itu selalu mengucapkannya tanpa mau Aiza mendengarnya.
Tapi sudahlah, Aiza tidak mau menebak-nebak dan berprasangka buruk pada Gerald. Mungkin lelaki itu hanya merasa bersalah karena membuatnya harus tinggal di rumah ini dimana ada Omanya yang sangat tidak menyukainya.
Sembari menunggu Gerald mandi, Aiza beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju walk in closet untuk menyiapkan pakaian Gerald.
Sudah menjadi rutinitas Aiza untuk menyiapkan pakaian suaminya. Dan itu cukup menyenangkan untuk Aiza karena ia bisa me mix and match pakaian Gerald. Seperti sekarang, ia memilihkan kemeja putih yang dipadukan dengan jas dan celana biru muda. Entah kenapa, Aiza paling senang ketika melihat Gerald memakai pakaian berwarna biru muda seperti ini.
Mungkin karena wajah sangar Gerald sedikit tersamarkan dengan jas soft seperti ini. Sebagai sentuhan terakhir, Aiza mengambil dasi navi sebagai penyeimbang warna pakaian Gerald yang semuanya berwarna soft. Sembari menunggu Gerald, ia menyimpulkan dasi itu supaya Gerald tidak rusuh dan tinggal memakainya saja.
Tepat saat simpul itu selesai, tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pinggangnya yang dibalut dengan piama tidur berwarna ungu soft kesukaannya. Wanita itu sedikit bergetar saat tetesan air dari rambut Gerald menetes ke bahu telanjangnya karena piama yang ia kenakan agak turun, membuat Aiza langsung melepaskan dirinya dari Gerald.
“Er, baju gue basah ini. Lo kebiasaan banget gak ngeringin rambut lo dulu.” Rajuk Aiza sembari melap bahunya yang basah.
“Udahlah, lo juga belum mandi ini.” Balas Gerald sembari menarik Aiza dan kembali memeluk erat wanita itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Roman d'amour"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
