B
esoknya, Aiza terbangun dengan suara kencang dari musik rok jadul yang sepertinya berasal dari ruangan gim yang ada disamping kamarnya.
Masih setengah mengantuk Aiza beranjak dari kasur nyamannya. Seketika udara dingin pedesaan menghampirinya. Ingin sekali ia kembali bergumul dengan selimut itu lagi, tapi suara keras dari musik rok jadul itu membuatnya benar-benar terganggu.
Dengan langkah menghentak dan mulut menggerutu, Aiza keluar dari kamarnya. Pintu dari jati tua itu ia banting pelan, takut engselnya yang sudah sedikit berkarat akan copot.
Ia segera menghampiri asal musik itu berada. Benar saja, musik itu memang berasal dari ruang gim. Dengan tergesa Aiza mendorong pintu kaca itu dan berjalan cepat kearah Gerald yang saat ini tengah asyik berlari di atas treadmill tua milik ayahnya dengan kondisi topless.
"GERALD!" Teriak Aiza sekuat tenaga, berusaha mengimbangi suara musik yang sangat keras diruangan itu.
"GERALD LO TURUN SEKARANG!" Sekali lagi Aiza berteriak kencang.
Tapi percuma, Gerald tidak bergeming, ia hanya menoleh kearah Aiza sekilas lalu kembali asyik dengan kegiatannya itu sembari sesekali berteriak keras mengikuti irama lagu.
Merasa kesal karena diabaikan, Aiza mencari sumber musik itu. Ternyata musik itu berasal dari sound yang ada di pojok ruangan. Aiza tidak tahu cara mematikannya karena sepertinya itu terhubung dengan DVD jadul yang Aiza sudah lupa cara mengoperasikannya.
Tapi gadis itu tidak menyerah, ia berusaha mencari tombol itu. Dan berhasil, Aiza menemukan tombol untuk mengecilkan volume musik itu. Tanpa banyak pikir, Aiza segera menurunkan volume musik itu hingga nol.
Gerald yang sudah siap berteriak untuk mengikuti irama musik rok haru harus menelan kekecewaan. Hampir saja ia terjungkal dari treadmill jika saja ia tidak berhasil menyeimbangkan diri. Lelaki itu menoleh sekilas kearah sumber musiknya, dilihatnya Aiza tengah tersenyum puas karena berhasil mematikan DVD-nya.
Melihat itu, Gerald langsung mematikan treadmillnya. "Az. Kenapa lo matiin musiknya?" Teriak Gerald yang masih berlari diatas treadmill yang perlahan memelan.
"Musik lo mengganggu ketenangan gue!" Jawab Aiza sembari berbalik untuk kembali menuju kamarnya yang nyaman dan kembali melanjutkan tidur cantiknya ditengah udara dingin disana.
Tapi belum sempat gadis itu mendekat kearah pintu keluar, tubuhnya tiba-tiba melayang karena Gerald menggendongnya ala bridal style dan membawanya ke arah treadmill.
"Er. Lo mau ngapain? turunin gue!" Teriak Aiza meminta dilepaskan, tapi bukan Gerald namanya jika ia mendengarkan perintah Aiza begitu saja.
"Sekali-kali lo itu harus olahraga, Az." Ujar Gerald sembari menurunkan Aiza di atas treadmill.
"Pegangan!" Titah Gerald yang dengan polosnya diikuti Aiza begitu saja yang langsung meletakkan tangannya di pegangan tradmill.
Tanpa peringatan, Gerald menyalakan treadmill itu hingga mau tidak mau Aiza mengikuti gerakannya. Awalnya pelan, tapi perlahan mengencang membuat Aiza yang jarang berlari hampir kewalahan untuk mengimbangi laju treadmillnya.
"Er. Lo gila yah. Matiin alat ini." Teriak Aiza panik. Gadis itu tidak bisa mematikan alat itu karena ia tidak berani mengangkat tangannya dari pegangan treadmill itu. Ia takut kehilangan keseimbangan dan jatuh. Maklum saja, ini adalah kali pertama Aiza menggunakan alat itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romance"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
