Gerald menatap dirinya lewat pantulan cermin di wastafel, ia menatap dalam bayangan itu berusaha mencari alasan kenapa pikiran kotor seperti itu bisa menyusup ke dalam kepalanya. Ia tidak perduli jika itu pada wanita lain, tapi dia Aiza, sahabatnya, gadis yang sudah ia anggap seperti Elena.
Rasanya, Gerald tidak sanggup untuk hanya sekedar menatap Aiza. Ia malu, benar-benar malu. Ia hampir saja mencium Aiza dalam keadaan sadar, tidak seperti sebelumnya yang terpengaruh alkohol atau amarah, itu murni karena hasratnya.
Tapi sudahlah, perasaan itu mungkin hanya untuk sesaat, yang harus ia lakukan adalah berusaha menjaga agar hal serupa tidak lagi terjadi. Lelaki itu segera memakai pakaiannya. Dengan rambut yang masih basah, lelaki itu keluar dari kamar mandi.
Jantung Gerald rasanya hampir copot melihat Aiza yang sudah duduk anteng di kasur dengan handphone di tangannya. Seketika, kejadian di kolam air terjun kembali berputar di kepalanya, seketika itu juga jantungnya berdetak tidak karuan.
“Er, lo lama banget mandi doang. Kita nonton bareng lagi, yuk!” Ajak Aiza dengan semangat seolah kejadian tadi tidak berpengaruh apapun kepadanya.
Yah, Aiza memang tidak terpengaruh sedikitpun. Gadis itu berlaku seperti kejadian di kolam hanyalah angin lalu, tidak seperti Gerald yang menganggap hal itu sebagai sesuatu yang mengubah cara pandangnya tentang Aiza.
“Gue lagi gak mood, gue mau tidur.” Balas Gerald sembari berusaha menghindari menatap Aiza.
“Yasudah, kalau gitu kita nonton di kasur dari hp gue. Kita nonton drakor aja gimana?” Aiza mulai merebahkan dirinya di kasur dengan semangat.
“Gue gak mau! Gue mau lo keluar dari kamar ini.”
Sontak saja ucapan Gerald membuat Aiza langsung meletakkan handphonenya dan menatap Gerald tajam tidak terima diusir seperti itu. “Kalau lo gak mau nonton, it’s ok. Tapi gak usah usir gue dari kamar ini!”
“Bukan itu maksud gue, tapi mulai hari ini gue mau kita tidur terpisah.” Jelas Gerald membuat Aiza mengerutkan keningnya.
“Kenapa?”
“Gapapa. Gue cuma mau tidur sendiri.” Jawab Gerald asal. Ia tidak mungkin mengatakan kalau ia mulai tertarik dengan Aiza.
“Gak mungkin! Pasti ada sesuatu. Lo bukan orang yang ngelakuin sesuatu tanpa alasan, Er.” Tentu saja Aiza tidak percaya begitu saja.
“Apapun itu. Kalau lo gak mau pindah dari kamar ini, gue yang pindah.” Putus Gerald yang langsung berjalan menuju pintu.
“Tunggu, Er!” Cegah Aiza yang langsung berlari ke arah Gerald dan berdiri tepat dihadapan lelaki itu. “Lo ada masalah sama gue? Lo mau ninggalin gue?”
“Gue gak ada masalah sama lo dan gue gak mungkin ninggalin lo.” Justru Gerald yang selalu takut kalau Aiza yang akan meninggalkannya.
“Kalau gitu jangan pergi. Lo kan tahu kalau gue ketakutan tidur sendiri.” Pinta Aiza memelas.
Sebenarnya, Gerald tidak tega melihat wajah memelas Aiza, tapi Gerald tidak punya pilihan lain. Ia berharap perasaan gilanya terhadap Aiza akan segera menghilang dan ia bisa bersikap seperti biasanya pada gadis itu.
“Sorry gue gak bisa.” Gerald melanjutkan langkahnya melewati Aiza.
GREP
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romansa"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
