PROK PROK PROK
Stevan dan Amanda refleks menoleh kearah suara tepukan tangan itu. Dilihatnya, Aiza dengan seringaian di wajahnya tengah melangkah pasti kearah mereka.
“Wow. Drama yang sangat mengesankan.” Sarkas Aiza dengan suara penuh
“Zahra/Aiza.” Ucap Amanda dan Stevan bersamaan.
Keduanya serempak berdiri menghadap Aiza. Mereka sangat terkejut dengan keberadaan Aiza disana. Dari caranya berbicara, mereka bisa menebak kalau Aiza sudah mendengar semuanya.
“Daripada jadi model. Harusnya lo jadi penulis skenario, Amanda. Gue rasa drama yang lo tulis pasti laku di pasaran.” Lagi, Aiza menyindir Amanda dengan suara menusuknya.
“Aiza, aku bisa jelasin...”
“Ga perlu! Gue udah denger semuanya.” Potong Aiza tidak mau mendengar apapun dari mulut kotor Amanda. “Lagipula, apa yang mau lo jelasin? Lo mau jelasin gimana usaha lo buat nyembunyiin tubuh lo yang penyakitan itu dari Gerald?”
“Jaga mulut Lo, Zahra.” Bentak Stevan dengan telunjuk yang mengacung pada Aiza. Terlihat sekali bahwa lelaki itu sangat emosi dan tidak terima gadis yang dijaganya dikatai seperti itu.
“Kenapa? Itu kenyataannya, kan? Dia berusaha nyembunyiin penyakitnya dari Gerald.” Bukannya takut, Aiza malah semakin menjadi dan ikut meninggikan suaranya pada Stevan.
“Aku cuman gak mau bebanin dia, Aiza. Aku gak mau dia sedih dengan kondisi aku.” Aku Amanda berusaha membela dirinya.
“Sedih? Sedih lo bilang?” Desis Aiza yang hampir tertawa mendengarnya. “Bodoh! Apa yang lo lakuin bukan hanya bikin dia sedih, tapi hancur Amanda. Karena keegoisan lo yang so baik dan so suci itu gue harus liat dia hancur.”
“Kamu gak ngerti apa yang aku rasain Aiza.” Ungkap Amanda mengeluarkan segala keresahannya.
“Terus lo adalah orang yang paling mengeri apa yang Gerald rasain?” Bukannya mendapatkan simpati, Amanda malah mendapatkan tatapan meremehkan Aiza. “Gue gak ngerti cara berpikir lo. Lo pikir Gerald selemah itu dan akan tenggelam dalam kesedihannya. Dia bukan lo, Amanda. Dia bukan lo yang hanya bisa meratapi nasib seolah lo pasti mati besok, seakan lo adalah orang paling menderita di dunia ini, seakan...”
“Gue bilang jaga mulut lo, Zahra! Kata-kata lo udah keterlaluan.” Sela Stevan memperingatkan Aiza.
Aiza tidak memerdulikan kata-kata Stevan, wanita itu dengan berani melangkah mendekati Amanda memangkas jarak diantara mereka.
“Lo udah buang Gerald dari hidup lo. Selama gue ada, jangan pernah lo berpikir untuk pungut dia lagi. Ingat itu.” Tekan Aiza dengan suara tajam yang menusuk.
Tanpa pamit, wanita itu berbalik dan meninggalkan Amanda juga Stevan. Amanda tidak mampu membendung air matanya, tubuhnya mendadak lemas mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Aiza, jika saja Stevan tidak sigap menangkapnya mungkin tubuh Amanda sudah beradu dengan tanah. Seperti biasa, Stevan dengan senang hati meminjamkan dadanya untuk menampung setiap tetes air mata dan kesedihan gadisnya itu.
*
Marah, sedih, kecewa dan takut. Semua emosi itu berkecamuk dalam diri Aiza dan berlomba-lomba keluar lewat tetesan air mata yang terus mengalir dipipinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romance"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
