BAB 87

3.2K 119 52
                                        

Sebuah pesta pernikahan besar digelar di sebuah ballroom hotel bintang 5 di Jakarta.

Salina datang dengan dress putih selutut polos yang terlihat begitu menawan di tubuhnya yang masih molek diusianya yang tidak lagi muda.

Wanita itu baru saja selesai mengucapkan selamat pada kedua mempelai yang pengantin wanitanya adalah putri dari rekan sejawatnya di Jepang beberapa tahun lalu. Kebetulan Salina ada di Indonesia, jadi ia bisa menghadiri acara ini.

Sesuai dugaannya, akan ada banyak dokter terkenal yang datang ke acara itu, beberapa ada yang Salina kenali dan menyapanya singkat. Tapi Salina bukan seseorang yang menyukai keramaian, ia berniat untuk duduk di salah satu meja di sudut yang cukup sepi, tapi sebelum itu ia ingin membawa beberapa makanan dan minuman untuk menemaninya.

Perhatian Salina tertuju pada kelepon di stan makanan tradisional, sudah lama sekali ia tidak makan kue itu, ia segera mengambil kue yang hanya tinggal satu itu.

Ternyata bukan hanya Salina yang menginginkan kue berwarna hijau bercitarasa manis itu, karena bersamaan dengan Salina, ada orang lain yang berniat mengambil kue itu hingga tangan mereka tidak sengaja saling menyentuh.

“Maaf.” Ucap dua wanita itu bersamaan.

“Kau boleh mengambilnya, aku akan mengambil yang lain.” Meskipun sangat menginginkannya, tapi Salina memilih untuk mengalah dan pergi dari sana.

“Salina Atmaja!”

Salina langsung mengurungkan niatnya untuk pergi begitu mendengar wanita disampingnya memanggil nama lamanya. Tidak banyak yang tahu soal nama asli Salina, kebanyakan orang mengenalnya sebagai Karina.

“Kau...” Salina memandang dalam wajah wanita itu berusaha mengingatnya.

“Aku Stephany, istri pertama Evan Andrean.”

Salina membeku, tidak pernah sekalipun terbersit dipikirannya akan bertemu dengan mantan istri dari Evan. Saat masih menjadi istri Evan, Salina hanya pernah bertemu dengan wanita itu beberapa kali, jadi ia tidak terlalu mengingat wajahnya.

“Bisa kita bicara berdua, tapi tidak disini.”

Dengan pikiran kosongnya, Salina mengangguk setuju. Stephanie membawa Salina menuju salah satu restoran di hotel itu.

Dan disinilah Salina sekarang, duduk sendirian di sebuah kursi yang menghadap langsung ke jalanan dibawahnya. Sementara Stephany, wanita itu harus menjawab telepon ditempat lain.

“Maaf membuatmu menunggu lama.” Stephany akhirnya kembali dan mendudukan dirinya dihadapan Salina.

Anehnya, Stephany tidak langsung mengutarakan maksudnya mengajak Salina berbicara, wanita itu malah menatap dalam Salina membuat Salina kurang nyaman dibuatnya.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?”

Stephany menghentikan kegiatannya, lalu meraih jus jeruk yang ada di meja dan meminumnya seteguk. “Kau tahu? Aku berusaha mencari kemiripan Evan di wajah Aiza, tapi aku tidak menemukannya. Ternyata Aiza adalah kopian dirimu.”

“Kau bertemu dengannya?” Salina cukup terkejut mengetahui itu, apa dunia sesempit itu hingga bukan hanya dirinya, tapi Aiza juga bisa bertemu dengan masalalu Evan yang sudah lama tenggelam.

“Dia anak manis dan cantik, tapi aku heran kenapa ibunya begitu tega meninggalkannya.”

“Entahlah, mungkin alasannya sama seperti alasan Evan meninggalkanmu.” Kecanggungan yang sempat menyelimuti Salina berubah menjadi sebuah perang.

Terang saja, wanita dihadapannya terus saja menyerangnya dengan suara lembutnya namun pedas, ia tidak punya pilihan lain selain membalas.

Bukannya tersinggung, Salina malah mendapati Stephany tertawa rendah seolah mengejeknya.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang