BAB 94

2.8K 97 21
                                        

Kelam, dunia yang beberapa saat lalu begitu indah dan hangat berubah gelap dan dingin dalam sekejap begitu Gerald melihat bagaimana darah tidak berhenti mengalir dari tubuh Aiza.

Lelaki itu tidak melepaskan tatapannya dari tangan bergetarnya yang berlumur darah istrinya. Ia masih mengingat bagaimana wajah Aiza berubah pucat dan tubuhnya yang perlahan dingin dalam pelukannya.

Bahkan saat ini, telinga Gerald masih berdenging hingga ia tidak memperhatikan bagaimana ibu dan ibu mertuanya terisak dipelukan ayahnya juga Stevan karena khawatir dengan nasib Aiza di dalam ruang dingin operasi mempertaruhkan nyawanya demi kehidupan kecil yang begitu dicintainya.

Ali dan Reynald datang dengan kantong kresek putih di tenteng Ali. Mereka baru saja selesai shalat Dzuhur dan mampir ke kantin untuk membeli minuman juga makanan. Sayangnya, tidak ada yang menerima makanan dan minuman yang disodorkan Ali, hanya Elena yang mengambil air mineral, itupun tidak dibuka sama sekali.

Yah, setelah mendengar kondisi Aiza, Elena segera datang ke rumah sakit. Perempuan itu membawa seorang dokter muda berhijab dan langsung meminta Reynald yang adalah pemilik rumah sakit untuk menghubungi kepala rumah sakit dan mengizinkan dokter itu untuk masuk ke ruang operasi.

Entah darimana Elena menemukan dokter itu, tapi Elena bersikeras dan berani menjamin semuanya. setelah diskusi yang cukup alot, dokter itu berhasil masuk ke ruang operasi.

Tak lama, lampu ruang operasi berubah hijau dan pintu itu akhirnya terbuka. Semua orang yang menunggu disana segera menghampiri dokter wanita berkacamata dan dua perawat yang keluar dengan setelan bedahnya.

“Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?”  Dengan segala ketakutan di hatinya, Gerald bertanya dengan suara terbata.

“Bayinya laki-laki, dia lahir dengan selamat, tapi kondisinya terlalu lemah jadi...”

“Saya tanya soal istri saya, bukan dia.” Potong Gerald tidak sabar mengetahui keadaan istrinya.

“Gerald!” Tegur Bram memperingatkan Gerald yang seperti tidak perduli dengan anaknya.

Belum sempat Bram kembali membuka mulutnya, Ranti segera menarik suaminya itu dan memberi isyarat padanya untuk tidak menginterupsi Gerald yang tengah kalut.

“Bagaimana keadaan Aiza?” Sekali Gerald bertanya, kali ini dengan suara yang sedikit rendah bergetar.

“Operasinya berhasil.”

Semua orang yang ada disana  tanpa terkecuali menghela napas lega. Ranti dan Bram saling memeluk, begitu juga dengan Salina yang langsung memeluk Stevan. Sementara Ali dan Reynald, keduanya menepuk bahu Gerald yang hampir jatuh karena tubuhnya mendadak lemas setelah tegang seharian.

Sayangnya, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena dokter melanjutkan ucapannya.

“Tapi saat ini ibu Aiza sedang ada dalam kondisi koma.”

Meski pernyataan itu cukup menyakitkan , tapi Gerald tatap bersyukur karena setidaknya Aiza masih bisa bertahan.

Sret

Pintu geser di belakang mereka kembali terbuka. Seorang wanita berhijab dengan setelan bedah yang dibalut dengan jaket rajut keluar dari ruang operasi. Dia adalah dokter Syahidah, dokter yang dibawa Elena entah darimana.

Dua dokter dan dua perawat itu saling melempar senyum, sekilas Reynald bisa melihat sirat kekaguman dari dokter Tasya yang mana itu jarang sekali terlihat selama dia bekerja di rumah sakitnya.

“Seperti yang sudah kami sampaikan sebelumnya, kami terpaksa mengangkat rahim ibu Aiza. Dengan bantuan dokter Syahidah, kami berhasil menyelamatkan salah satu ovarium pasien.” Jelas Dokter Tasya yang terang-terangan memuji rekan dadakannya itu.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang