BAB 80

3.8K 139 34
                                        

Gerald duduk gelisah di salah satu kursi lobi hotel dimana kekasihnya berada. Selama dua minggu ini, sudah puluhan hotel Gerald datangi, tapi ia tidak juga kunjung menemukan Amanda, ternyata Amanda menginap di hotel pinggiran kota Jakarta, hotel itu juga hanya hotel kecil dimana Gerald samasekali tidak menyangka kalau Amanda akan menginap disana.

Beruntung Mas Toni mau memberitahunya tentang tempat yang Aiza kunjungi. Yah, Gerald menanyakan ke hampir setiap sopir keluarga Atmaja setelah ia berusaha menghubungi Elena, tapi adiknya itu tidak kunjung menjawab teleponnya.

Dan disinilah Gerald sekarang, duduk gelisah di salah satu kursi lobi hotel dimana kekasihnya berada.  sudah dari semalam Gerald ada disana, ia tidak melepaskan pandangannya dari lift hotel dimana itu adalah satu-satunya akses yang akan membawa para tamu hotel ke kamar atau turun dari kamar mereka.

Ia bahkan menyewa satu kamar supaya ia tidak diusir dari hotel karena semalaman menunggu di lobi hotel. Selama semalaman itu Gerald tidak tidur sama sekali hanya untuk menunggu Amanda turun dari kamarnya.

Gerald tidak bisa langsung menemui Amanda ke kamarnya karena ia tidak mengetahui keberadaannya, ia juga tidak bisa menanyakannya pada resepsionis karena pihak resepsionis pasti tidak akan memberitahunya dan malah akan mengkonfirmasi pada Amanda.  Gerald sangat yakin kalau Amanda tahu keberadaannya disana, perempuan itu pasti akan berusaha untuk menghindarinya.

Usaha Gerald tidak sia-sia, tepat pukul sepuluh pagi Amanda keluar dari lift bersama ibu angkatnya sembari membawa koper besar. Gerald segera menghampiri kedua perempuan itu membuat Amanda terkejut karenanya. Wanita itu berusaha menghindari Gerald, tapi Gerald terus menahan Amanda.

“Nda tunggu. Aku mau bicara.” Gerald nekat menarik tangan Amanda saat wanita keluar beberapa langkah dari hotel.

“Gak ada lagi yang perlu kita bicarakan.” Amanda menghempas tangan Gerald begitu saja.

“Banyak yang belum kita bicarain, Nda.”

Gerald kembali meraih tangan Amanda tapi kali ini langsung dihempas oleh Karina.

“Kamu gak dengar apa yang anak saya katakan? Dia tidak mau berbicara dengan kamu.”

“Tapi saya butuh bicara dengan dia.” Gerald berusaha mendekati Amanda kembali yang lagi-lagi dihalangi oleh Karina alias Salina.

“Jauhi anak saya! Jangan sakiti dia lagi!”

“Saya tidak akan menyakitinya, saya ingin membuatnya bahagia. Justru dengan dia pergi dari saya dia akan semakin tersakiti.”

“Bahagia?” Wanita itu mendengus meremehkan. “Selama wanita itu ada dalam hidup kamu, anak saya akan semakin tersakiti. Jadi sebelum wanita itu pergi dari hidup kamu, jangan harap kamu bisa mendekati anak saya.” Tegas Salina bersiap meninggalkan tempat itu.

“Tapi Kami akan segera berpisah.”

Karina kembali berbalik menghadap Gerald dengan senyum sinisnya. “Heh, Omong kosong. Kamu sudah mengatakannya berkali-kali, Tapi kamu malah menghamili wanita itu.”

“Itu semua hanya kesalahan.”

“Apa?” Salina mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan ucapan Gerald.

“Anak itu hanya sebuah kesalahan.” Gerald menjeda kalimatnya sejenak, tidak yakin dengan apa yang akan diucapkannya. “Sama seperti Aiza, anak itu hanyalah sebuah kesalahan.”

Salina terdiam seketika, sepertinya kata-kata Gerald sangat mengena di hatinya.

“Jaga bicara kamu Gerald.” Amanda yang mendengar kata-kata menyakitkan itu kembali menghampiri Gerald dengan tatapan penuh peringatannya.

“Amanda—“ Salina berusaha mencegah Amanda berbicara lagi dengan Gerald, tapi gadis itu memberikan isyarat kalau ia akan baik-baik saja.

Ahirnya, Salina mengalah dan menjauh dari kedua orang itu memberikan ruang agar mereka bisa berbicara berdua.

“Kenapa kamu bisa bicara sejahat itu, Gerald?”

“Itu kenyataannya.” Tidak ada niat sedikitpun untuk Gerald mencabut pernyataannya. “Dan kenapa Kamu sangat peduli dengan anak itu?”

“Karena aku gak mau anak itu ngerasain apa yang aku rasain.” Ucap Amanda mengungkapkan keresahannya.

“Kedua orangtuaku juga berpisah, mereka menemukan pasangan masing-masing dan perlahan melupakan aku dan pergi dariku. Aku harus hidup dengan nenekku, tapi kemudian dia meninggal dalam kecelakaan itu. Kalau gak ada ibu, mungkin aku akan hidup di jalanan.” Lanjut Amanda mengenang masalalunya yang pahit.

“Tapi, Nda...”

“Aku mungkin sanggup untuk merebut kamu dari Aiza, tapi aku gak akan sanggup rebut kamu dari anak kamu, Al. Aku gak bisa.”

“Nda...”

“Lupain aku, Al. aku mohon.” Amanda menghamburkan dirinya ke pelukan Gerald dengan air mata yang mulai jatuh. “Mulai hidup kamu yang baru dengan Aiza dan anak kalian. Jangan buat anak itu ngerasain apa yang aku rasain. Aku yakin kamu akan bahagia, Al.”

Perlahan Amanda melepaskan pelukan terakhirnya itu dengan senyum penuh air mata. “Jangan cari aku lagi.” Ucap Amanda sebelum ia meninggalkan Gerald dan masuk kedalam mobilnya yang sudah terparkir di depan hotel.

Ingin sekali Gerald mengejar kekasihnya, tapi melihat bagaimana wanita itu memohon, tubuh Gerald seperti terpaku ke bumi. Yang bisa ia lakukan hanyalah berdiri diam hingga wanita itu menghilang dari pandangannya.

Ini bukan pertama kalinya Amanda memutuskan untuk meninggalkannya, tapi kenapa rasanya masih tetap sama. menyakitkan. Sangat menyakitkan hingga dadanya penuh sesak dan hampir meledak karenanya. Tanpa lelaki itu sadari setetes air mata jatuh dan mengalir di pipi tegasnya begitu saja.

***

Hening, ruangan serba putih itu terlampau Hening. Hanya terdengar sesekali helaan napas panjang dari seseorang yang tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan seseorang yang tengah terbaring tak sadar di ranjang pasien.

Lelaki itu hanya akan dengan terpaksa melepaskan tangannya saat ada suster datang untuk memeriksa wanita yang masih setia menutup matanya hingga saat ini. Sementara lelaki itu, ia tidak bisa memejamkan matanya barang sejenak dari semalam hingga matahari hampir kembali tenggelam saat ini.


Masih segar di ingatan Stevan, bagaimana ia mendengar suara erangan kesakitan Aiza di telepon yang membuat tubuhnya bergetar seketika.

Yah, orang yang Aiza hubungi adalah Stevan. Lelaki itu baru saja sampai di rumahnya setelah menemui Amanda saat ia menemukan Aiza memanggilnya. Awalnya ia tidak mau menjawab, tapi Aiza yang baru pertama kali menghubunginya setelah mereka bertukar nomor di Bali membuatnya memikirkan hal buruk.

Benar saja, wanita itu memang ada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Saat mendengar suara erangan kesakitan itu, Stevan segera kembali ke mobilnya. Instingnya menuntun Stevan pergi ke apartemen Gerald alih-alih pergi ke rumah Atmaja atau apartemen Aiza.

Lelaki itu menekan bel dan menggedor pintu seperti orang gila, membuat tetangga apartemen Gerald keluar dan menegurnya bahkan mengusirnya, tapi Stevan tidak menggubris mereka dan terus saja menggedor pintu apartemen itu. Hingga Stevan ingat jika Amanda mengetahui kode apartemen itu dan Stevan langsung menanyakannya.

Betapa terkejutnya Stevan dan tetangga Gerald melihat Aiza yang tergeletak begitu saja di lantai, lebih terkejut lagi saat lelaki itu melihat rembesan darah di rok Aiza. Ia hampir saja tidak bisa mengendalikan dirinya jika saja para tetangga itu tidak menyuruhnya untuk segera membawa Aiza ke rumah sakit.

Entah kenapa, melihat kondisi Aiza yang seperti itu membuat Stevan sangat ketakutan. Tubuhnya tidak berhenti bergetar menunggu kepastian dari dokter, ia bahkan tidak berani beranjak dari tempatnya bahkan hanya untuk membasuh lengannya yang terkena darah Aiza.

Gerakan kecil dari tangan yang digenggam Stevan menyadarkan laki-laki itu dari lamunannya. Perlahan tapi pasti, mata almon itu mulai mengerjap dan terbuka.

“Zahra, syukurlah lo udah sadar.” Genggaman Stevan semakin mengeratkan melihat itu, ia tidak bisa membendung kebahagiaannya melihat Aiza yahg sudah mulai sadar.

“Gue dimana?” Tanya Aiza yang kesadarannya belum sepenuhnya kembali.

“Lo di rumah sakit, Zahra.” Jawab Stevan sembari mengelus lembut kepala wanita itu.

“Rumah sakit?”

Aiza kembali menutup matanya berusaha mengingat hal yang terjadi sebelum ia sampai di rumah sakit. Ah, ia ingat. Ia bertengkar dengan Gerald dan kemudian rasa sakit di perutnya kambuh, tapi entah kenapa rasanya lebih menyakitkan dari sebelumnya.

Ia juga ingat bagaimana Gerald mengabaikannya yang tengah meraung kesakitan hanya demi untuk mengejar Amanda. Seketika rasa sesak kembali menghantam dadanya. Beruntunglah ia sempat menghubungi Stevan di saat terakhir, jika tidak mungkin saat ini ia masih terbaring sendiri di lantai yang dingin seperti sebelumnya, atau mungkin sudah mati karena pendarahan.

Seakan mengingat sesuatu, tangan Aiza refleks memegang perutnya. “Dia gapapa, kan?” Tanya Aiza sembari mengguncang tangan Stevan.

“Dia... Cukup baik. Lo yang gak baik-baik aja, Zahra.”

Wanita itu menghela napas lega mengetahui anaknya baik-baik saja. Sepertinya Aiza mengabaikan kondisinya sendiri.

“Makasih udah bawa gue kesini, Stevan.”

Stevan, entah kenapa disaat genting itu yang ia pikirkan adalah Stevan alih-alih Ali atau Reynald. Mungkin karena hanya Stevan yang tahu tentang kondisinya, tapi tidak. Aiza tidak berpikir sejauh itu saat ia kesakitan. Itu semua memang murni karena hanya nama Stevan yang ada di kepala Aiza saat itu.

“Kenapa lo hubungi gue? Gerald kemana?”

“Dia pergi.” Jawab Aiza jujur, ia memang tidak berniat untuk menyembunyikannya dari Stevan, toh lelaki itu sudah tahu tentang kondisinya dengan Gerald.

“Dia tahu kondisi lo semalam?”

Aiza tidak menjawab, pertanyaan itu terlalu menyakitkan untuk dijawab.

“Brengsek!” Umpat Stevan yang mengerti maksud dari diamnya Aiza.

Aiza hanya tersenyum lemah mendengar umpatan Stevan itu. Apa yang Stevan ucapkan memang benar, lelaki yang paling memedulikannya itu kini berubah menjadi lelaki paling brengsek yang Aiza kenal.

“Dokter nyaranin untuk segera ngangkat kandungan lo. Dia nunggu persetujuan dari lo dan Gerald.” Ujar Stevan yang langsung menyurutkan senyuman Aiza.

“Gue gak mau.”

“Zahra!”

“Gue gak mau.” Tegas Aiza penuh penekanan.

“Kondisi lo gak baik-baik aja, lo ngerti?” Stevan sedikit meninggikan suaranya karena rasa takut yang terus menghantuinya.

Aiza terdiam, ia malas menanggapi Stevan atau lebih tepatnya, ia tidak mau membahas sesuatu yang sudah ia putuskan dengan tegas.

“Kalau lo ngelakuin itu hanya untuk balas dendam, lebih baik lo mundur, nyawa lo gak sebanding sama balas dendam itu, Zahra.” Ucap Stevan sebelum ia beranjak dari tempatnya.

Stevan benar-benar muak dengan sikap keras Aiza yang menghalalkan segala macam cara hanya untuk membalas dendam, termasuk dengan mengorbankan nyawanya sendiri.

“Gue sayang sama anak ini, Stevan.” Ucap Aiza dengan suara tertahan.

Stevan tertegun dengan pengakuan Aiza ini. Lelaki itu kembali berbalik untuk memastikan kebenaran dari wajah Aiza. Dan yah, tidak ada keraguan sama sekali dari wajah itu, wanita itu mengucapkannya dengan tulus.

“Lo tahu? Di dunia ini selain nyokap gue, cuma dia yang punya sedarah sama gue.” Ucap Aiza sembari mengelus perutnya yang semakin menonjol.

“Gue tahu banyak orang yang sayang sama gue, tapi sampai kapan mereka terus ada di samping gue? Gue cuma berharap anak ini bisa nemenin gue selama yang dia bisa. Dan gue harap kali ini cinta gue gak bertepuk sebelah tangan, seperti cinta yang gue kasih untuk Gerald dan nyokap gue.”

“Entah kenapa gue selalu ngebayangin kalau anak ini perempuan, kami akan menghabiskan banyak waktu bersama, nonton film, drakor, makan makanan pedas, bakso dan banyak hal lain yang bisa kami lakukan bersama. Kami akan hidup seperti sahabat, sahabat yang tidak akan pernah mengkhianati satu sama lain.” Aiza mengucapkan harapannya dengan senyum tulus sarat akan kebahagiaan.

“Tapi semuanya akan percuma kalau lo gak bisa bertahan, Zahra.” Ucapan Stevan itu sukses mematahkan senyum Aiza, tapi tidak dengan harapannya. “Lo pikir Gerald akan nerima anak itu? Kalau lo gak ada siapa yang akan jaga anak itu?”

“Kalau gitu lo aja yang jadi ayah anak ini.”

Keheningan kembali menyelimuti ruangan serba putih itu. Stevan dan Aiza terjebak dengan pikiran mereka masing-masing.

Sadar dengan apa yang ia ucapkan, Aiza segera menarik kembali ucapannya. “Lupain kata-kata gue barusan, anggap gak pernah ada.”

“Gue mau, tapi lo harus ada sebagai ibunya.” Stevan kembali berjalan ke samping ranjang Aiza dan menggenggam tangan wanita itu tanpa melepaskan tatapan mereka. “Mungkin lo gak percaya, tapi nyawa gue seperti terenggut liat lo ada dalam kondisi semalem. Rasanya gue pengen gantiin posisi lo, Zahra, gue hampir gila denger suara erangan kesakitan lo. Gue takut kehilangan lo Aiza Az-zahra.” Lanjut Stevan yang tidak bisa lagi menyembunyikan rasanya untuk Aiza.

“Lo tenang aja, apapun yang terjadi gue akan bertahan, gue harus bertahan. Gue gak akan biarin anak ini bernasib sama kayak gue, satu-satunya orangtua yang tersisa membencinya. Gue gak akan biarin itu terjadi.”

Senyum haru bercampur prihatin terbit di wajah Stevan melihat semangat di wajah lemah Aiza. Tanpa ragu lelaki itu menarik Aiza ke dalam pelukannya dan memeluk wanita itu erat. “Yah, lo harus selamat, Zahra. Jangan pikirkan hal lain, cukup pikirkan tentang hal yang akan membuat lo bahagia.”

***

Stevan membuka pintu ruang rawat Aiza dengan menenteng beberapa kantong kertas . Setelah memastikan Aiza tidur, lelaki itu memutuskan untuk membeli makanan dan beberapa keperluan Aiza.

Ia tidak berniat untuk menghubungi Gerald atau keluarga lelaki itu. Katakanlah ia gila, tapi ia berencana untuk menjaga wanita itu sendirian meskipun Aiza menolak. Yah, ia akan menjauhkan Aiza dari sumber rasa sakitnya, Gerald.

Lelaki itu masuk dengan suara sepelan mungkin, takut akan membangunkan Aiza yang tengah tidur, tapi saat ia benar-benar masuk dan melihat ke arah ranjang, Stevan sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan Aiza.

Dengan panik ia mencari ke kamar mandi, tapi wanita itu juga tidak ada disana. Saat ia kembali ke kamar, ia baru sadar bahwa Aiza melepaskan infus ya sendiri ... Lagi. Stevan hanya menemukan sepucuk surat di atas ranjang yang sudah rapih itu.

Hi Stev

Sorry gue pergi tanpa pamit, tapi gue gak mau nunggu lagi untuk keluar dari sini, gue takut semua orang curiga dengan keadaan gue.

Makasih udah peduli sama gue dan nolongin gue. Meskipun terdengar Bodoh, tapi gue berharap kali ini kita benar-benar tidak akan berhubungan lagi, ini adalah kali pertama dan terakhir gue minta bantuan lo. Gue gak akan pernah ganggu lo lagi.

Sekali lagi makasih atas semuanya.

Aiza Az-Zahra

Stevan meremas surat itu penuh amarah. Bodoh, tidak seharusnya dia meninggalkan Aiza tadi. Wanita itu memang sedari tadi memaksa untuk segera keluar dari rumah sakit jika saja Stevan tidak menahannya.

Lelaki itu sangat menyesal meninggalkan Aiza, ia tidak menyangka kalau wanita itu akan melakukan hal Bodoh dengan kabur dari rumah sakit dengan tubuh lemahnya bahkan berani mencabut selang infusnya sendiri.

Di tengah kekalutannya, lelaki itu segera sadar dan mencari Aiza, ia yakin wanita itu pasti belum jauh karena tubuhnya yang lemah ditambah lagi dengan pakaian pasien yang digunakannya akan menyulitkan wanita itu keluar dari rumah sakit karena petugas rumah sakit akan membuatnya tidak mudah.

Bohong jika tidak ada setitik pun penyesalan dalam diri Stevan karena sudah mengorbankan Aiza demi Amanda. Tapi ia benar-benar tidak berdaya dihadapan janji yang sudah ia buat untuk seseorang, ia tidak bisa mengabaikan Amanda begitu saja, karena selain ibunya, hanya Amanda satu-satunya orang yang sedarah dengan dirinya.

Yah, Amanda Az-zahra adalah adiknya, adiknya yang lama terpisah dengan dirinya, adiknya yang harus ia bahagiakan apapun caranya, termasuk dengan menghancurkan Aiza dan dirinya sekalipun.



Bersambung...

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang