BAB 88

3.3K 134 42
                                        

“Zahra, Zahra maafin ibu, nak. Zahra jangan tinggalin ibu! Zahra, ZAHRA!”

Dengan tubuh penuh keringat dan napas tersengal, Salina bangun dari tidur panjangnya. Ia melihat sekeliling dan berusaha mencari keberadaan anaknya.

“Zahra! Zahra! ZAHRA!” Seperti orang gila Salina berkeliling kamar itu untuk mencari Aiza.

Saat wanita itu melangkah menuju pintu keluar, bersamaan dengan itu pintu itu juga dibuka dari luar. Elena yang mendengar keributan itu dari luar langsung masuk ke kamar Salina.

“Zahra, dimana dia? Kamu tahu kan dimana dia?” Tanya Salina sembari megguncang tubuh Elena tidak sabar.

“Tante, Tante tenang dulu! Tante baru aja sadar, dokter bilang Tante harus istirahat.” Ucap Elena sembari berusaha membawa Salina kembali ke ranjangnya.

Sayangnya Salina tidak menuruti Elena dan tanpa diduga mendorong gadis itu keras, jika saja tidak ada seseorang yang menahan tubuhnya, mungkin ia sudah menabrak dinding.

“Lo gapapa?” Tanya Gerald khawatir.

Elena tidak menjawab dan hanya menjauhkan tubuhnya dari Gerald tanpa berniat mengucap terimakasih.

“Kamu! Kamu yang membuat Zahra pergi. Kamu sudah menyakitinya. Kembalikan Zahra! Kembalikan putriku!” Teriak Salina sembari memukul lemah tubuh Gerald.

Perlahan tapi pasti, tubuh itu mulai melemah, pandangannya mulai kabur, Gerald yang menyadari itu segera menangkap tubuh Salina dan menggendongnya kembali ke ranjang.

Melihat itu, Elena segera memberikan air putih pada Salina dan mendudukan dirinya disamping adik ayahnya itu.

Salina mulai sedikit tenang setelah ia meneguk beberapa teguk air putih yang diberikan Elena.

“Aku harus mencari putriku.” Salina berusaha untuk turun dari tempat tidur, tapi Elena segera mencegahnya.

“Tante, Tante harus tenang, Tante baru aja sadar dan tubuh Tante masih lemah. Kalo Tante maksa untuk nyari Aiza sekarang, kondisi Tante bisa semakin memburuk dan kesempatan Tante untuk ketemu Aiza akan semakin kecil.” Jelas Elena berusaha menenangkan Salina.

“Tapi aku harus menemukannya, aku ingin meminta maaf padanya. Jika perlu bersujud di kakinya.” Keukeuh Salina kembali berusaha untuk turun dari ranjang, tapi kali ini rasa sakit langsung menghantam kepalanya membuat wanita itu harus mengurungkan niatnya.

“Gini aja, Tante makan dulu terus minum obat, setelah itu aku akan bantu Tante untuk nyari Aiza.”

Tidak punya pilihan, akhirnya Salina menuruti apa yang dikatakan Elena. Ia juga tidak punya cukup tenaga untuk turun dari tempat tidur apalagi harus mencari Aiza.

“Kalo gitu aku ambil makanan dulu buat Tante.” Sebelum Salina berubah pikiran , Elena segera keluar dari kamar meninggalkan Salina dan Gerald hanya berdua.

Begitu pintu tertutup, Gerald memberanikan diri untuk mendekati Salina. Salina yang melihat itu langsung memalingkan wajahnya dari Gerald.

Gerald tidak memedulikan itu, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kalung berbandul hati dengan nama Salina terukir diatasnya.

Saat mencari Aiza ke Tasik, ia bertemu dengan Syahid dan anak perempuannya yang sudah lahir. Ternyata Syahid sudah menemukan kalung itu dan menyerahkannya kembali pada Gerald.

Dengan hati-hati, Gerald menyerahkan kalung itu pada Salina.

Salina langsung mengenali kalung itu dengan sekali lirik. Wanita itu menarik kasar kalung yang pernah menjadi miliknya itu dari tangan Gerald.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang