BAB 93

2.7K 109 48
                                        

Halo semua!

Meski telat lebih dari seminggu, aku mau ngucapin selamat hari raya idul Fitri untuk kita semua yang merayakan.

Karena masih ada di suasana lebaran, aku mau minta maaf yang sebesar-besarnya kalau aku punya salah, mungkin saat aku bales komen kalian, atau bikin kalian kesel karena jarang up.

Aku juga berdo'a semoga kita semua selalu diberi kelancaran rezeki, sehat, dan bahagia selalu.

Do'a-in juga semoga author lancar dan gak malas nulis supaya cerita ini cepet selesai. Emang bentar lagi selesai sih.

So, happy reading semua. Maaf kalau tulisannya agak kacau dan banyak typo. Harap maklum

.
.
.

Dentuman musik rock tahun 90-an terdengar nyaring diiringi oleh suara sumbang seseorang dibalik kemudi yang bernyanyi dengan begitu antusiasnya, kontras sekali dengan dua orang yang duduk di kursi penumpang dan di kursi belakang yang saling bersitegang.

Tiga menit kemudian, lagu pun berganti, bukan hanya judul, tapi gendrenya. Kali ini musik dangdut yang memenuhi telinga ketiga orang itu. Dan lagi-lagi Ali bernyanyi asal membuat lagu yang samasekali tidak bisa masuk ke kuping dua penumpang disana semakin menyakiti telinga mereka.

Tanpa peringatan, Reynald yang duduk disamping Ali segera mematikan radio, membuat Ali yang sudah mengambil napas untuk mengeluarkan suara tidak merdunya tersedak oleh napasnya sendiri.

“Rey! Ah, Lo bikin rusak suasana aja.” Pekik Ali setelah ia berhasil mengatasi batuknya. “Lo bikin gue kehilangan momentum.” Kesal Ali sembari mengulurkan tangannya untuk kembali menyalakan radio.

Tapi belum sempat tangannya menyentuh tombol, Reynald sudah lebih dulu menepis tangan itu kasar.

“Jangan bikin suasana menjijikan ini jadi makin menjijikan sama suara lo yang fals itu Li.”

“Sembarangan Lo kalo ngomong. Lo gak tahu gue mau nyumbangin suara emas gue ini di hari pernikahan sahabat kita yang bodoh, tolol, brengsek dan bajingan dibelakang kita. Para tamu undangan pasti terhibur sama suara merdu gue, Rey.” Sanggah Ali sembari melirik Gerald yang sudah rapih dengan setelan pengantinnya dari kaca diatasnya.

Yah, hari ini adalah hari pernikahan Gerald dan Amanda. Reynald dan Ali tidak pernah sekalipun berencana untuk datang ke acara ini. Tapi saat mereka menjenguk Aiza di rumah Stevan, Aiza meminta Ali dan Reynald untuk terus mendampingi Gerald.

Tentu saja Ali dan Reynald menolak keras, tapi melihat Aiza yang begitu berharap membuat dua sahabat itu luluh. Akhirnya mereka datang meski dengan setengah hati.

“Ide bagus. Kali ini gue dukung kedermawanan Lo, Li. Lo pasti bersinar, lebih bersinar dari pengantin gak waras dibelakang kita.” Tidak seperti Ali, Reynald sudah tidak Sudi bahkan untuk melirik sahabatnya itu.

“Makannya,  biarin gue olah vokal sebelum bener-bener tampil disana.” Tanpa rintangan, Ali kembali menyetel radio yang sudah berganti lagu. Kali ini lagu K-Pop yang hanya iramanya saja Ali ketahui, sementara liriknya ia obrak-Abrik hingga tak berbentuk.

Meski begitu, kali ini Reynald memilih untuk menutup telinganya rapat meski percuma dan membiarkan Ali dengan kesenangannya sendiri.

Sementara Gerald, lelaki itu tidak perduli, atau lebih tepatnya sejak awal semua perkataan Rey dan Ali tidak ada yang masuk ke otaknya yang kosong sama seperti matanya yang hanya menatap ke arah jendela disampingnya dengan kosong.

Tak lama mobil mereka berhenti di depan sebuah gedung tinggi. Gerald dan Amanda menggunakan ballroom salah satu hotel keluarga atmaja untuk melangsungkan pernikahan.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang