Telat lagi, telat lagi. Maafkan Author yang belakangan ini galau dan gak mood buat up cerita.
BTW, pernah gak sih kalian ngerasain ada di posisi Aiza? Orang yang selama ini cuma ngasih perhatian ke kalian, tiba-tiba ngasih perhatian yang lebih ke orang lain?
Kayaknya, Author lagi ada di posisi itu deh, antara bahagia dan cemburu, bersatu padu yang bikin hati gak karuan.
Yah, terimakasih untuk sesi curhatnya. Selamat membaca dan semoga kalian suka sama cerita ini.
***
“Kamu...” Rosa tidak melanjutkan kalimatnya dan malah memegangi dadanya kesakitan.
Semua orang dibuat panik karenanya. Elena dan Ranti segera menghampiri Rosa begitu juga dengan Gerald.
Tapi belum sempat Gerald melangkah jauh, Aiza sudah terlebih dahulu melemparkan dirinya kearah lelaki itu sembari memegangi kepalanya dramatis.
“Az, lo Kenpa, Az?” Tanya Gerald sembari mengguncang tubuh Aiza yang ada dipelukannya.
“Kepala gue sakit, Er!” Adu Aiza berusaha terlihat senatural mungkin.
“Gerald, dada Oma sakit, Gerald. Oma gak bisa napas.” Teriak Rosa sembari memegangi dadanya berharap cucunya segera menghampirinya.
“Er, gue gak kuat. Kepala gue pusing banget.” Aiza semakin melemahkan tubuhnya dipelukan Gerald, hingga lelaki itu harus mengeratkan pelukannya di tubuh Aiza yang terus turun.
Gerald melirik ke arah Aiza lalu ke arah Rosa bergantian. Ia tidak tahu harus menolong Neneknya atau istrinya terlebih dahulu.
“Al, lo urusin aja, Aiza. Bawa ke kamar. Biar gue sama mamah yang ngurusin Oma.” Ujar Elena sembari memapah Rosa dengan susah payah karena wanita itu seperti enggan beranjak dari tempatnya dan menunggu Gerald.
Menuruti saran Elena, Gerald segera menggendong tubuh Aiza ke kamar mereka di lantai atas. Saat melewati Rosa, tiba-tiba saja wanita tua itu pingsan. Jika saja tidak ditahan oleh Ranti dan Elena mungkin wanita tua itu sudah luruh ke lantai.
Melihat itu, Gerald semakin panik dan berniat melepaskan gendongannya, tapi Aiza tidak membiarkannya dan semakin mengeratkan pelukannya di leher Gerald.
“Er, kepala gue pusing banget.” Rintih Aiza semakin mengeratkan pelukannya di leher Gerald.
Tidak tega melihat keadaan Istrinya, Gerald segera melanjutkan langkahnya menuju kamar mereka. Dengan hati-hati lelaki itu meletakkan Aiza di ranjang mereka. “Lo istirahat dulu, gue panggil dokter.”
Gerald segera meraih ponsel di saku celananya berniat untuk menghubungi dokter keluarga, tapi belum sempat telponnya terhubung, Aiza terlebih dahulu meraih ponsel itu dan mematikan telponnya sembari berujar santai.
“Gak usah! Gue gapapa!”
“Lo bohongin gue!”
Gerald dibuat tercengang melihat Aiza yang tampak baik-baik saja bahkan duduk dengan tenangnya di ranjang seolah kejadian beberapa saat lalu tidak pernah terjadi. Ia dibuat panik setengah mati melihat kondisi gadis itu, tapi nyatanya semua itu hanyalah tipuan belaka.
“Lo sadar sama apa yang lo lakuin? Lo pura-pura sakit saat Oma koleps, Az. Sakit lo, Aiza.” Bentak Gerald merasa bodoh karena berhasil dibohongi Aiza.
“Lo pikir Oma juga beneran sakit?” Tanya Aiza menghentikan Gerald yang berniat untuk kembali turun dan menemui Rosa.
Gerald menatap Aiza dengan dahi mengerut, membuat Aiza menghela napas kasar dengan bola mata memutar.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romansa"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
