BAB 41

3.5K 73 0
                                        

BAB 41

“Enak banget. Udah lama banget gue gak makan rujak pucuk kayak gini.” Pekik Aiza saat ia menyuapkan sesendok rujak pucuk dari cobek batu didepannya.

Sudah hampir 20 tahun ia tidak pernah memakan makanan itu. Dimanapun ia mencari di Jakarta, ia tidak bisa menemukannya karena mungkin makanan itu hanya ada di daerah itu saja.

Ia juga tidak bisa mencari bahan bakunya karena pucuk dari pohon pete china jarang sekali ada orang yang menjualnya, atau mungkin tidak ada yang menjualnya.

“Lo harus cobain, Er. Sekali seumur hidup.” Saran Aiza sembari menyodorkan sesendok rujak berwarna hijau itu pada Gerald.

Gerald terus menolak, rasanya cukup tabu untuknya makan daun pete seperti itu. Tapi Aiza terus memaksa dan menyodorkan sendok itu didepan mulut Gerald, mau tidak mau mau ia membuka mulutnya.

Huek

Baru beberapa kali kunyahan, Gerald segera memuntahkan makanan itu ke kolam didepannya. Bukan karena makanan itu tidak enak, tapi karena rasa terbakar dimulutnya yang tak terhankan. Dengan tergesa ia meraih ceret disana dan menuangkan airnya ke gelas. Tanpa tahu itu air apa Gerald dengan sekonyong-konyong meminumnya.

Hoek

lagi-lagi ia memuntahkan minuman itu, kali ini karena rasanya yang pahit. Ternyata, minuman itu adalah teh, tapi rasanya sangat pahit, hampir sama dengan yang ia minum di rumah Khadijah beberapa waktu lalu.

Semua orang tertawa girang melihatnya, begitu juga Aiza. Jarang sekali melihat Gerald bersikap konyol seperti itu. Tidak tega melihat Gerald yang kepedesan, Santi segera menyodorkan botol berisi air putih di dekatnya pada Aiza, mengisyaratkan gadis itu untuk memberikannya pada Gerald.

Sebenarnya, Aiza masih ingin menikmati pemandangan didepannya, tapi ia juga tidak tega melihat Gerald yang wajahnya sudah merah padam seperti itu. Dengan tidak rela, ia memberikan botol itu pada Gerald.

“Az! Lo gila yah makan makanan sepedes ini.” Bentak Gerald setelah ia meminum hampir setengah air dalam botol 1 liter itu.

“Lo kayak pertama liat gue makan pedes aja. Lagian gak sepedes itu kali.”

“Ari si Gerald aya-aya wae. Makanan orang ngidam kamu makan.” Timpal Syahid yang baru bergabung dengan mereka sembari menggelengkan kepala

“Ngidam?” Tanya Aiza dan Gerald tidak percaya.

Bagaimana tidak, fakta Santi yang sudah punya anak sebesar itu diusianya saja membuat mereka sedikit tercengang, sekarang Santi tengah hamil anak kedua. Padahal Aiza yang seusia dengan Santi saja tidak kepikiran untuk memiliki anak dalam waktu dekat ini.

“Kalian kayak denger apa aja. Santi itu hamil punya suami.” Gerutu Syahid. “Neng, AA pergi dulu ke kebun. Kayaknya, bentar lagi kebun durian kita udah pada Mateng. Jadi harus dipantau. Dan Jangan makan banyak-banyak rujaknya, kasihan bayinya nanti kepedesan.” Pamit dan titah Syahid sembari beranjak dari tempat itu.

“Hati-hati, A. Pulangnya jangan kesorean.” Titah Santi yang hanya dibalas dengan acungan jempol oleh Syahid.

“Kamu nikah umur berapa sih, San? Kok udah punya anak segede Khalid?” Tanya Gerald penasaran.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang