Ringisan lirih terdengar dari kamar dengan nuansa hijau coklat yang menenangkanp. Aiza Az-Zahra, wanita itu perlahan membuka matanya yang sangat berat.
Untuk beberapa saat wanita itu terdiam, hingga kesadarannya benar-benar pulih dan ia menyadari bahwa tempatnya berbaring sangat asing di ingatannya.
Wanita itu semakin panik saat ingatan semalam dimana dirinya dihampiri oleh orang asing dan dibuat tidak sadarkan diri mencuat. Dengan sekonyong-konyong Aiza buru-buru bangun, pigura foto dimeja sampingnya jatuh tersenggol. Saat ia berdiri, rasa pusing menyergapnya membuatnya harus mengurungkan keinginannya untuk segera beranjak dari tempat itu.
Setelah rasa pusingnya berkurang, Aiza mulai memperhatikan tempat itu. Kamar itu cukup luas dengan pemandangan halaman hijau di kaca besarnya yang kebetulan terbuka. Nuansa kamar itu dibuat sama dengan pemandangan di luar dengan dinding yang di cat hijau lembut dan furnitur yang didominasi dengan warna coklat muda juga krem.
Saat Aiza ingin kembali beranjak, pintu berwarna coklat itu terbuka menampilkan seorang wanita berambut sepunggung dengan kacamata bertengger di hidungnya yang mancung.
Wanita itu tersenyum hangat kearah Aiza, meskipun begitu, Aiza tetap waspada mengingat bagaimana ia dibawa ke tempat itu. Perlahan Aiza memundurkan tubuhnya dengan tatapan yang tidak lepas dari wanita asing yang perlahan berjalan ke arahnya setelah menutup pintu coklat itu rapat.
“Gak perlu takut! Saya gak akan nyakitin kamu.” Ucap wanita itu dengan suara lembutnya. Tetap saja, Aiza tidak bisa melepaskan kewaspadaannya begitu saja.
“Evan, anak itu memang keterlaluan, bisa-bisanya dia membiaus ibu hamil.” Kecam wanita itu sembari meletakan nampan berisi makan ke atas meja disamping ranjang.
Seketika kewaspadaan Aiza berkurang mendengar panggilan Stevan disebut. Ia menatap dalam wanita yang tanpa ragu mendudukan dirinya diujung ranjang.
“Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku langsung memukulnya saat tahu tindakan bodohnya. Tapi kamu tenang saja, temanku sudah memeriksamu dan kondisimu cukup baik untuk tubuhmu yang tidak baik-baik saja.”
“Siapa anda?” Tanya Aiza mengabikan semua penjelasan wanita itu.
“Aku Stephany, ibunya Stevan.”
Aiza cukup terkejut dengan jawaban itu, ia tidak menyangka wanita yang terlihat masih muda itu adalah ibunya Stevan. Ia kira mungkin wanita itu adalah teman atau kakak Stevan, ia tidak mengira wanita itu adalah ibunya Stevan.
“Stevan, dimana dia sekarang?”
“Entahlah, dia langsung pergi setelah memastikan kamu baik-baik saja.” Wanita itu mengambil mangkuk dari nampan dan menyodorkannya pada Aiza. “Makanlah! Kamu pasti lapar.”
Aiza hanya menatap mangkuk itu dan tidak berniat untuk mengambilnya. “Terimakasih untuk makanannya, tapi saya harus segera pergi.”
Aiza segera beranjak melalui sisi lain ranjang, wanita itu berjalan cepat kearah pintu, tapi begitu ia membuka pintu dua orang lelaki berpakaian serba hitam langsung menghalangi jalannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romance"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
