“Aaah.”
Tapi baru saja Aiza berdiri dari duduknya, sesuatu seperti meremas perutnya dari dalam. Hal itu membuat Aiza meringis keras dan ia kembali mendudukkan dirinya di tempat semula.
Mendengar ringisan Aiza sontak saja membuat Ali dan Reynald yang duduk di seberang Aiza panik dan langsung menghampiri wanita itu. Sementara Michel yang duduk disamping Aiza langsung memegangi Aiza yang hampir saja jatuh.
“Az, lo gapapa?” Tanya Gerald yang sudah bersimpuh disamping Aiza dengan panik.
“Sakit.” Balas Aiza dengan susah payah.
“Gerald mendingan kamu bawa Aiza ke rumah sakit.” Saran Michel yang khawatir dengan kondisi Aiza, terlebih Aiza tengah dalam kondisi hamil.
“Kita ke rumah sakit.” Ucap Gerald bersiap menggendong Aiza.
“Gak mau. Gue gak mau ke rumah sakit.” Tolak Aiza keras.
Bukan tanpa alasan Aiza menolak padahal ia tengah kesakitan. Jika ia dibawa ke rumah sakit, Gerald pasti akan tahu dengan kondisinya yang tengah hamil. Aiza belum siap memberi tahu Gerald tentang kehamilannya ini. Mentalnya belum cukup kuat untuk menerima penolakan Gerald.
“Jangan keras kepala, Az. Lo kesakitan.” Bentak Gerald yang tidak tega melihat Aiza kesakitan dengan bibirnya yang mulai pucat, bahkan bulian keringat dingin mulai mengalir di dahi wanita itu.
“Gak usah sok peduli sama gue. Mendingan sekarang lo cari pacar lo dan pergi dari sini.”
“Lo...” Ingin sekali Gerald mengeluarkan sumpah serapahnya, tapi harus ia tahan meohat kondisi Aiza yang menyedihkan. “Apa sih yang ada di kepala lo, Az? Lo kesakitan sekarang dan bisa-bisanya lo ngajak ribut gue. Kita ke rumah sakit sekarang.”
“Gue gak mau.” Tolak Aiza lebih keras dari sebelumnya. Wanita itu menggenggam tangan Michel kuat dan memberikan isyarat pada wanita itu agar ia mau membantunya untuk menolak Gerald.
Ia tahu Gerald akan keukeuh membawanya ke rumah sakit. Apalagi melihatnya kesakitan seperti ini. Lelaki itu pasti akan memaksanya dengan cara apapun.
“Gerald, sepertinya Aiza hanya keram perut biasa karena datang bulan. Dia akan baik-baik saja. ” Ujar Michel berharap hal itu bisa membuat Gerald sedikit tenang dan mengurungkan niatnya untuk membawa Aiza ke rumah sakit.
Meskipun dalam hati Michel sangat khawatir dengan kondisi janin Aiza. Tapi melihat Aiza yang panik takut kehamilannya akan diketahui Gerald membuatnya tidak punya pilihan lain. Ia hanya berharap rasa panik Aiza bisa hilang dan kandungannya akan baik-baik saja. Karena kepanikan Aiza akan jauh lebih memperburuk kondisinya saat ini.
“Kak Michel bener. Gue cuman keram mau datang bulan.” Dengan susah payah Aiza berucap dengan tanpa ringisan agar Gerald bisa yakin.
“Lo yakin? Lo gak pernah kayak gini sebelumnya, Az.” Tanya Gerald yang tidak yakin dengan Aiza. Apalagi, ia masih bisa dengan jelas melihat gurat kesakitan di wajah pucat Aiza.
“Mungkin karena pengaruh stres.” Kali ini Reynald yang ada dibelakang Gerald yang menimpali setelah istrinya memberi isyarat untuk membantu Aiza.
Meskipun masih ragu, tapi Gerald berusaha untuk mempercayainya, terlebih Reynald yang hampir menjadi dokter yang mengatakannya. “Yang mana yang sakit?”
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romantizm"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
