BAB 29

4.1K 94 0
                                        

“STOOP!”

Dengan refleks Gerald menginjak dalam pedal rem mobil hitam kesayangannya. Tubuh dua orang itu terdorong kedepan, hampir saja wajah tampan Gerald beradu dengan stir. Begitu juga dengan Aiza, hampir saja kepalanya terbentur kerasnya dasboard mobil.

“Gila yah Lo, Az! Lo hampir bikin kita berdua celaka.” Teriak Gerald marah.

Aiza hanya diam untuk beberapa saat sembari mengatur napasnya yang memburu. Begitu juga dengan Gerald.

“Lo gapapa?” Tanya Gerald setelah ia berhasil meredakan emosinya. Aiza hanya menggeleng untuk membalas Gerald, sepertinya ia masih syok dengan kejadian barusan.

Tok Tok Tok

Serempak keduanya menoleh ke samping mobil, tepatnya kearah kaca di samping Gerald yang diketuk seseorang. Untuk sesaat Gerald melirik Aiza tajam yang langsung dibalas dengan senyuman rasa bersalah dibibir gadis itu.

“Bisa nyetir gak sih?” Tanya lelaki berbadan besar dengan rambut panjang dikuncir. Sepertinya ia adalah pemilik mobil di belakang Gerald yang ikut mengerem mendadak.

“Maaf pak! Ini, istri saya bikin saya kaget. Dia tiba-tiba mau rujak disana.” Tunjuk Gerald kearah pedagang rujak di pinggir jalan. “Biasa pak, orang ngidam.” Lanjut Gerald yang langsung dibalas dengan tatapan menusuk dari Aiza.

Tapi anehnya wajah keras lelaki berambut panjang itu seketika sirna digantikan dengan wajah ramahnya yang sedikit berlebihan. “Oalah, lagi hamil to, Mba. Istri saya juga kayak gitu dulu. Tapi tetap harus hati-hati Mba, Masnya juga jangan kagetan, kan kasihan istrinya.”

“Iya pak. Sekali lagi saya minta Maaf pak.”

Yowes. Pinggirin dulu mobilnya mas. Yang dibelakang udah pada ribut itu.” Ujar lelaki itu yang langsung kembali ke mobilnya.

Gerald segera meminggirkan mobilnya ke pinggir jalan membiarkan mobil lain untuk melintas.

“Ngidam, eh?” Sindir Aiza yang masih belum terima dengan alasan Gerald.

“Ya tapi berhasil kan, Az. Bapak itu gak jadi marah.” Balas Gerald membela dirinya.

“Tapi secara gak langsung Lo nyalahin gue.”

“Lah itu kan emang salah Lo. Lagian ngapain Lo nyuruh gue berhenti. Kantor kita tinggal beberapa meter lagi dari sini.”

“Gue gak mau orang-orang curiga kalau kita udah nikah.”

Yah, mereka atau lebih tepatnya Aiza memutuskan untuk menyembunyikan pernikahan mereka, gadis itu bahkan tidak memberikan Gerald kesempatan untuk menyampaikan argumennya saat mereka berbicara tadi.

Gerald memutar bola matanya jengah lalu berujar santai, “Kita udah biasa berangkat ke kantor berdua, Az. Gak akan ada yang curiga.”

“Gue gak mau ngambil resiko.” Putus Aiza yang langsung membuka sabuk pengamannya dan keluar dari mobil begitu saja.

Tapi anehnya, melihat itu Gerald malah tersenyum, senyum penuh kejahilan dengan tatapan yang tidak lepas dari Aiza yang berjalan di sepanjang trotoar. Lelaki itu lalu kembali melajukan mobilnya melewati Aiza yang berjalan kaki.

10 menit kemudian, Aiza sampai di depan kantor Gerald dengan nafas tersengal. Ia berhenti sejenak untuk mengatur napasnya. Padahal ia hanya berjalan, tapi rasanya ia seperti telah berlari kiloan meter saking jarangnya ia berolahraga.

Setelah berhasil mengatur napasnya, gadis itu dengan serta Merta mengecek penampilannya di kaca sebuah mobil yang kebetulan parkir di dekatnya. Ia mengambil selembar tisu dari dalam tasnya untuk menyeka keringat di dahi dan wajahnya.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang