“Er, turunin gue!” Teriak Aiza yang sedari tadi terus saja meronta meminta untuk diturunkan.
Kakinya tidak berhenti menendang begitu juga dengan tangannya yang tidak berhenti memukuli Gerald. Tapi seperti orang yang kesetanan, lelaki itu tidak bergeming, sepertinya amarah sudah menguasai seluruh syaraf di tubuh lelaki itu.
Gerald baru menurunkan Aiza ketika mereka sampai di depan mobil Gerald. Aiza beringsut untuk kabur, tapi Gerald tidak membuatnya mudah. Ia memaksa Aiza untuk masuk kedalam mobil lewat kursi pengemudi. Aiza tidak bisa lagi memberontak. Ia didesak paksa oleh Gerald untuk pindah ke kursi samping pengemudi.
Gadis itu sudah bergerak untuk membuka pintu mobil disampingnya. Karena Jujur, ia benar-benar takut saat ini. Gerald yang ada disampingnya seperti bukan Gerald. Tapi sepertinya ia kalah cepat karena Gerald sudah mengunci semua pintu mobil.
“Er!”
“Pake sabuk pengaman lo.” Titah Gerald yang langsung memakai sabuk pengamannya lalu menancap gas dalam.
Aiza gelagapan, Gerald seperti orang kesetanan. Bahkan di tikungan ia berani menyalip mobil lain dengan kecepatan tinggi. Beberapa mobil bahkan menelaksoninya karena kegilaannya itu.
“Gerald Lo gila, yah! Pelanin mobil Lo!” Teriak Aiza yang tentu saja tidak didengar oleh Gerald.
“Ada hubungan apa Lo sama Stevan?” Tanya Gerald dengan suara berat.
“Apapun hubungan gue sama Stevan itu bukan ...”
“Jadi urusan gue Aiza! Karena lo istri gue sekarang.” Potong Gerald yang sudah tahu dengan kelanjutan kalimat Aiza.
“Istri sementara kalo lo inget.”
Mendengar itu, dengan sekonyong-konyong Gerald menambah kecepatan mobilnya. Entah keberuntungan atau kesialan karena jalan tengah lengang hingga Gerald bisa leluasa menyetir seenaknya.
“Er, berhenti. Gue mau turun disini. Lo ngebahayain kita dan orang lain.” Teriak Aiza sembari merpegangan pada hand grip di atasnya.
Dan sepertinya Gerald tidak perduli. Hati dan telinganya sudah tertutup oleh amarah hingga mengabaikan semua perkataan Aiza.
Aiza yang terus diabaikan akhirnya kesal. Gadis itu membuka matanya lalu menatap tajam kearah Gerald. Dengan penuh emosi Aiza memuntahkan semua unek-uneknya pada Gerald, ia tidak perduli jika hal itu akan semakin membuat Gerald menggila karena Percuma ia mencoba mengingatkan Gerald karena laki-laki itu tidak akan mau mendengar saat emosi.
“Gerald. Lo gak berhak marah-marah sama gue hanya karena Stevan. Lo itu Cuma suami sementara gue, suami palsu gue. Jadi, gak ada alasan buat lo ikut campur kalau pun gue punya hubungan sama Stevan.” Jelas Aiza berapi-api.
Dan berhasil. Kata-kata Aiza berhasil membuat Gerald meminggirkan mobilnya dan memberhentikan mobil hitam itu secara mendadak. Hal itu membuat tubuh Aiza terdorong kedepan. Hampir saja kepalanya membentur dasboard mobil jika saja tidak tertahan oleh sabuk pengamannya.
Belum selesai Aiza mengatur napasnya berusaha menenangkan dirinya, tubuh gadis itu tiba-tiba saja ditarik paksa lalu dipojokan di sudut kursi. Sepersekian detik kemudian bibirnya dibungkam oleh bibir Gerald. Aiza yang merasa dilecehkan berusaha mendorong Gerald untuk melepaskan dirinya. Tapi Gerald tidak bergeming, dan dengan brutal melanjutkan aksinya.
Hingga Gerald merasakan cairan hangat menyentuh pipinya. saat itu juga kesadarannya kembali dan ia menghentikan aksinya. Lelaki itu lalu memundurkan tubuhnya perlahan, saat itu juga rasa bersalah menyelimuti Gerald. Dilihatnya, wajah Aiza yang sudah basah dengan air mata juga tubuh yang bergetar antara marah dan takut.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romansa"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
