Trak
Suara benda jatuh membangunkan Aiza dari tidurnya yang baru beberapa jam ia terlelap.
Sedikit sulit Aiza membuka matanya karena matanya yang bengkak efek dari tangisannya semalam. Yah, dua hari berlalu dan Aiza masih saja terperangkap dalam rasa sedih juga kecewanya. Apalagi, selama itu Gerald tidak kunjung pulang ke apartemen mereka.
Smar-samar Aiza melihat siluet seseorang yang tengah mengambil sesuatu dari lantai dan menyimpannya kembali ke atas meja rias milik Aiza.
Saat penglihatannya benar-benar jelas, sosok itu sudah menghilang dari pandangan Aiza. Hanya terdengar suara-suara dari ruang waredrob. Rasa takut mulai menghampiri Aiza, wanita itu meraih tingkat baseball yang selalu tersimpan di di sudut ranjang untuk jaga-jaga jika sesuatu seperti ini terjadi.
Takut-takut Aiza berjalan mengendap mendekati wardrobe itu dengan tangan siaga memegang tongkat. Dari depan pintu penghubung itu Aiza bisa melihat seseorang yang sudah dua hari ini ia rindukan tengah berada di depan lemari baju.
TRANG
Seketika pegangan Aiza di tongkat itu melemah melihat seseorang yang sangat ia rindukan selana dua hari ini tengah berada didepan lemari baju.
Gerald yang tengah mengmbil baju menoleh kearah suara. Dilihatnya Aiza tengah berada di depan pintu dengan kemeja hitam miliknya yang terakhir kali ia gunakan melekat di tubuh ringkih itu. Penampilannya benar-benar sangat mengkhawatirkan dengan wajah pucat juga kantung mata yang menebal.
“Akhirnya lo pulang, Er!” Lirih Aiza dengan senyuman di wajahnya ditemani dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Seketika suara itu menyadarkan Gerald dan membuatnya kembali melanjutkan kegiatannya yang tengah memasukan beberapa helai pakaian ke tas kecil hitam miliknya.
Melihat itu membuat kening Aiza mengerut penuh tanya lalu segera menghampiri Gerald. “Kenapa lo paking baju lo, Er? Lo mau kemana?” Tanya Aiza yang tidak dihiraukan Gerald.
“Gue tahu lo marah sama gue, kecewa sama gue, tapi gue mohon jangan diemin gue kayak gini, Er. Please!” Pinta Aiza dengan penuh permohonan.
Tapi lelaki itu masih tidak menghiraukannya dan asyik mengemas beberapa pakaiannya. Aiza bersiap untuk membuka mulutnya untuk kembali membujuk Gerald, tapi sesuatu bergejolak di perutnya membuat wanita itu harus menutup mulutnya dan berlari cepat kearah toilet dan memuntahkan seluruh isi perutnya yang sepenuhnya adalah cairan. Wajar saja, sejak siang kemarin ia tidak memasukan makanan apapun ke perutnya.
Cukup lama Aiza berjongkok didepan toilet karena meskipun seluruh isi perutnya itu sudah keluar, perutnya masih saja berkontraksi memintanya mengeluarkan isinya yang sudah kosong.
Tiba-tiba sebuah tangan meraih rambutnya yang jatuh kedepan dan mengusap punggung Aiza lembut. Seketika rasa mual di perutnya sedikit demi sedikit berkurang.
“Jangan kesini, Er! Ini menjijikkan.” Ucap Aiza meskipun ia sangat senang mendapatkan perhatian dari Gerald.
Bukannya menuruti Aiza, lelaki itu malah menyodorkan beberapa lembar tisu untuk Aiza menyeka mulutnya.
Wanita segera menerima tisu itu dan menyeka mututnya. Ia rasa perutnya sudah nyaman berkat usapan lembut Gerald di punggungnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Roman d'amour"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
