BAB 66

2.9K 100 14
                                        

PRAK

Suara gelas yang beradu dengan kepala Gerald terdengar nyaring di tengah keheningan ruangan itu.

“Elena! Apa yang kamu lakukan?” Pekik Ranti yang terkejut dengan tindakan Elena yang melemparkan gelas kecil ditangannya kearah Gerald.

Bukan hanya Ranti, tapi Semua orang dibuat terkejut dengan tindakan tiba-tiba Elena itu. Gerald yang tidak menduga tindakan Elena ini tidak sempat menghindar membuat gelas itu sukses beradu dengan pelipis kirinya, meninggalkan luka sobekan dan darah yang mengalir disana.

Ranti sudah bergerak untuk menghampiri putranya, karena meskipun ia marah, ia tetap saja merasa khawatir melihat anak sulungnya itu terluka dan mengeluarkan darah, tapi sayangnya, Bram tidak membiarkannya dan menarik tangan istrinya itu untuk kembali duduk.

Akhirnya, Amanda yang berinisiatif menghampiri Gerald untuk melihat keadaan Gerald.

“Lo udah gak waras, El!” Bentak Gerald sembari menyeka darah yang mengalir dari pelipisnya dibantu Amanda.

Oh ayolah, ia masih bisa merasakan rasa panas dipipinya setelah ditampar ibunya saat ia baru sampai di rumah itu dan sekarang Elena malah menambah rasa sakitnya, bahkan lebih parah.

“Gue? Gak waras?” Elena langsung berdiri dari duduknya tidak terima disebut seperti itu.

“Bukan gue yang gak waras, tapi lo. Kemana aja lo tiga hari ini, hah? Lo gak ada saat istri lo lagi berduka, Al. Bukan cuma itu, lo bahkan berani bawa pelakor itu datang ke rumah ini.” Lanjut Elena berapi-berapi sembari menunjuk ke arah Amanda.

Tidak ada yang berani menyela Elena. Karena meskipun terlihat lembut dan manja, gadis itu akan berubah menjadi singa saat marah.

“Jaga bicara lo, Elena.” Balas Gerald tidak kalah kerasnya. Lelaki itu agaknya tidak terima dengan sebutan Elena untuk Amanda.

Elena mendengus pelan mendengar pembelaan Gerald untuk kekasihnya itu. “Terus lo mau gue panggil dia apa? Calon madunya Aiza? Atau gundik lo?”

“ELENA—”

“Cukup!” Sela Bram yang ikut berdiri untuk menghentikan pertengkaran kakak dan adik itu.

Akhirnya, Elena dan Gerald sama-sama diam meskipun tatapan membunuh mereka tidak kunjung padam.

“Sudah malam. Semuanya masuk ke kamar masing-masing dan istirahat. Untuk kamu Gerald, papa gak mau liat wanita itu ada di rumah ini besok.” Titah Bram yang secara tidak langsung mengusir Amanda.

Tapi meski demikian, Bram masih punya hati dengan tidak mengusir Amanda saat itu juga mengingat malam sudah sangat larut. Setelah itu, Bram melenggang begitu saja meninggalkan tempat itu diikuti istrinya.

Tak lama, suara grasak grusuk dari arah tangga terdengar. Michel turun dari kamarnya dengan wajah panik. “Ada apa ini? Tadi aku denger keributan pas nidurin Reyna.”

Wanita itu langsung menutup mulutnya melihat darah yang mengalir dari pelipis Gerald. “Astagfirullah! Pelipis kamu kenapa, Gerald?”

“Ada orang gila yang lempar gelas ke kepala gue.”

“Setidaknya orang gila ini masih waras untuk jaga perasaan orang yang lagi berduka.” Balas Elena sembari berjalan mendekati Gerald juga Amanda.  “Selamanya yang akan jadi kakak ipar gue adalah Aiza, bukan lo atau wanita manapun.” Lanjut Elena dengan tatapan penuh kebenciannya pada Amanda.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang